Ada Kabar Grab Borong Saham EMTK, Harganya to The Moon!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
15 April 2021 10:45
Eddy Sariaatmadja (Foto: Forbes)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten konglomerasi sektor teknologi dan media, yang dikuasai taipan Eddy K. Sariaatmadja, PT PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) langsung melesat di zona hijau sejak awal perdagangan hari ini, Kamis (15/4/2021).

Melejitnya saham emiten induk saluran SCTV ini terjadi seiring adanya kabar soal pembelian saham EMTK oleh perusahaan ride-hailing raksasa Grab.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 10.34 WIB, saham EMTK melonjak 11,34% ke posisi Rp 2.650/saham. Adapun nilai transaksi saham ini melonjak menjadi Rp 175,28 miliar, naik dari Rp 33,37 miliar pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (14/4).


Penguatan EMTK hari ini melanjutkan penguatan pada kemarin, saat melesat 3,03% ke Rp 2.380.

Dengan penguatan ini, saham yang melantai di bursa sejak 2010 ini sudah melejit 10,83% selama sepekan. Adapun dalam sebulan terakhir, EMTK sudah melonjak 20,91%.

Sebagai informasi, perusahaan ride-hailing yang berbasis di Singapura, Grab, diketahui sudah membeli saham EMTK.

Masuknya Grab menjadi sinyal bahwa perusahaan pembayaran digital kedua perusahaan yakni OVO dan DANA berpotensi merger guna menghadapi persaingan dengan Gopay dari Gojek dan LinkAja dari perusahaan BUMN.

"Grab yang didukung Softbank membeli saham sekitar 4% saham Emtek senilai lebih dari Rp 4 triliun (setara S$ 366 juta), dalam penjualan via private placement yang digelar Emtek baru-baru ini," kata seseorang sumber yang membantu transaksi tersebut kepada The Straits Times, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (15/4/2021).

Pada 5 April 2021, Emtek mengumumkan telah menyelesaikan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) senilai Rp 9,3 triliun.

Adapun NAVER Corporation, mesin pencari web terbesar di Korea Selatan, dan perusahaan investasi bernama H Holdings Inc menjadi pembeli saham yang mewakili sekitar 8,4% dari modal perusahaan.

"Grab membelinya melalui H Holdings," kata orang yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Hasil dari private placement akan digunakan untuk mengembangkan bisnis serta membantu mendanai operasional sehari-hari," kata manajemen Emtek dalam pengajuan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Induk usaha televisi nasional SCTV dan Indosiar ini memang mendapatkan investor baru, yakni NAVER Corporation dan H Holdings Inc.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, tak hanya dari asing namun sejumlah investor institusi lokal juga masuk sebagai pemegang saham baru perusahaan.

Investor tersebut antara lain PT Asuransi Allianz Life Indonesia, PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR), PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT Elbara Perkasa dan PT Syailendra Capital.

Aksi korporasi ini dilakukan dengan menerbitkan sebanyak 4,75 miliar saham dengan harga nominal Rp 20/saham dan harga pelaksanaan Rp 1.954/saham. Sehingga dari aksi ini perusahaan mendapatkan suntikan modal baru senilai Rp 9,29 triliun.

"Dana yang diterima Perseroan setelah dikurangi biaya-biaya terkait PMTHMETD akan digunakan untuk investasi dan modal kerja untuk Perseroan dan entitas anak," tulis manajemen perusahaan, dikutip Selasa (6/4/2021).

Masuknya investor baru ini juga berdampak pada kepemilikan pemegang saham sebelumnya yang mengalami penurunan alias terdilusi, termasuk Anthoni Salim, bos grup Indofood. Kepemilikannya dari sebelumnya mencapai 9,08% terpaksa harus terdilusi menjadi 8,38%.

Lalu kepemilikan Eddy K. Sariaatmadja, sang pemilik utama Emtek, juga turun dari sebelumnya 24,90% menjadi 22,96%. Saham milik PT Adikarsa Sarana terdilusi menjadi 10,03% dari sebelumnya 11,53%.

Lalu Susanto Suwarto juga turun kepemilikannya menjadi 11,63% dari 12,61% dan Piet Yaury berkurang menjadi 8,15% dari sebelumnya 8,84%.

Kepemilikan dari The Northern Trust Company S/A Archipelago turun menjadi 7,43% dari 8,06% dan pemilikan dari PT Prima Visualindo berkuran menjadi 6,90% dari 8,14%.

Hingga saat ini, pihak Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata belum memberikan tanggapan langsung atas informasi ini dan potensi merger OVO-DANA.

Peraturan pasar saham Indonesia mensyaratkan kepemilikan 5% persen atau lebih di perusahaan terbuka untuk diungkapkan kepada publik.

Pada September 2019, Reuters melaporkan, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah ini, bahwa Grab sedang dalam pembicaraan untuk menggabungkan OVO, perusahaan pembayaran digital terbesar di Indonesia, yang dimilikinya, dengan perusahaan e-money DANA yang didukung oleh Emtek dan Ant Financial.

OVO dan saingan berat GoPay, dan pemain utama lainnya ShopeePay, dari perusahaan rintisan teknologi yang berbasis di Singapura, Sea Ltd, gencar ekspansi dengan memanfaatkan industri pembayaran digital di negara terpadat keempat di dunia.

GoPay merupakan bagian dari Gojek yang pada Desember tahun lalu (2020) menghabiskan US$ 160 juta (S $ 214 juta) untuk menaikkan kepemilikannya di PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi 22,16%.

Pelanggan e-wallet Gojek yang menggunakan aplikasi ride-hailing akan memiliki kesempatan untuk membuka rekening di Bank Jago, yang meluncurkan aplikasinya pada Kamis (15 April) dan akan menjadi bank digital penuh pertama di Indonesia.

Sementara itu, OVO merupakan layanan pembayaran dalam aplikasi dari situs e-commerce terbesar kedua di Indonesia. Adapun Tokopedia, juga dikabarkan akan mengumumkan merger dengan Gojek pada awal Mei. Penggabungan tersebut dapat mendorong Tokopedia untuk memutuskan kemitraan strategis dengan OVO.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading