Diam-diam Emtek Tak Lagi Pengendali DANA, Siap Merger OVO?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
15 April 2021 15:58
Eddy Sariaatmadja (Foto: Forbes)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan induk Indosiar dan SCTV, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) atau Emtek ternyata sudah menjual kepemilikan saham senilai 6% atas entitas cucu usahanya yakni PT Elang Andalan Nusantara (EAN) kepada pihak ketiga. Entitas tersebut merupakan perusahaan penyedia aplikasi dompet digital DANA.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020, penjualan Emtek atas 6% saham EAN ini membuat status cucu usaha ini berubah menjadi entitas asosiasi.

Perusahaan melepas kepemilikan saham tidak langsung di EAN melalui anak usaha Emtek yakni PT Kreatif Media Karya (KMK). Sebelumnya KMK memegang 55% kepemilikan saham di EAN.


Berdasarkan Akta Notaris Jose Dima Satria S.H., M.Kn., No. 183 tanggal 30 Desember 2020, KMK menjual kepemilikan 752.422 saham EAN ke pihak ketiga, sehingga jumlah saham EAN yang dimiliki oleh KMK menjadi 6.144.778 saham atau setara dengan kepemilikan 49%. Dengan penjualan ini, KMK sebagai anak usaha Emtek kehilangan pengendalian di EAN.

Sebesar 6% saham yang dilego tersebut, dijual kepada pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya dalam laporan keuangan.

Nilai total transaksi penjualan 6% kepemilikan saham di EAN adalah sebesar Rp 75 miliar.

EAN merupakan perusahaan hasil kerja sama KMK dan API Hongkong Investment Limited, entitas usaha Alibaba Group. EAN memiliki fokus utama di bidang transaksi bisnis online dengan menyediakan platform pembayaran digital yang dikenal luas dengan nama dompet digital DANA.

Berdasarkan laporan yang sama EAN juga memperoleh perpanjangan jatuh tempo atas surat utang yang mulanya 12 bulan menjadi 24 bulan sejak tanggal penerbitan.

Sebelumnya pada 2 September 2019, EAN, sebagai Penerbit Surat Utang Konversi, menandatangani Instrumen Surat Utang dengan API Hongkong, sebagai Pemegang Surat Utang Konversi. Jumlah pokok Surat Utang maksimal adalah sebesar US$ 110 juta.

Sisa kepemilikan pada EAN sebesar 49% diakui sebagai investasi pada perusahaan asosiasi dan dinilai kembali pada nilai wajar pada tanggal hilangnya pengendalian.

Tertanggal 30 Maret 2021, KJPP Kusnanto dan Rekan menghitung nilai wajar pada saat hilang pengendalian adalah Rp 620,06 miliar.

KMK mencatat keuntungan atas penilaian kembali sebesar Rp 1,59 triliun yang disajikan sebagai "Laba atas revaluasi investasi" pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020.

Di sisi lain, kabar baru juga menghampiri Emtek. Perusahaan ride-hailing yang berbasis di Singapura, Grab, diketahui sudah membeli saham Emtek lewat private placement.

Masuknya Grab menjadi sinyal bahwa perusahaan pembayaran digital kedua perusahaan yakni OVO dan DANA berpotensi merger guna menghadapi persaingan dengan Gopay dari Gojek dan LinkAja dari perusahaan BUMN.

"Grab yang didukung Softbank membeli saham sekitar 4% saham Emtek senilai lebih dari Rp 4 triliun (setara S$ 366 juta), dalam penjualan via private placement yang digelar Emtek baru-baru ini," kata seseorang sumber yang membantu transaksi tersebut kepada The Straits Times, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (15/4/2021).

Pada 5 April, Emtek mengumumkan telah menyelesaikan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) senilai Rp 9,3 triliun, dengan NAVER Corporation, mesin pencari web terbesar di Korea Selatan, dan perusahaan investasi bernama H Holdings Inc menjadi pembeli saham yang mewakili sekitar 8,4% dari modal perusahaan.

"Grab membelinya melalui H Holdings," kata orang yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Hingga saat ini pihak Grab belum memberikan pernyataan resmi terkait dengan upaya konfirmasi yang dilakukan.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading