Asing Masuk, IHSG Naik Lagi ke Level 6.000 di Closing Sesi 1

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
14 April 2021 11:53
Pembukaan Bursa Efek Indonesia (CNBC indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten melaju di teritori positif pada perdagangan sesi pertama Rabu (14/4/2021), di tengah masuknya kembali investor asing.

IHSG dibuka menguat 0,62% ke level 5.964,03 dan terus konsisten membukukan penguatan hingga penutupan sesi pertama. Indeks acuan bursa saham tersebut berakhir di 6.013,303 atau melesat 85,9 poin (1,45%).

Transaksi bursa sedikit ramai dengan nyaris 9 miliar saham diperdagangkan, sebanyak 608.000-an kali. Nilai transaksi bursa masih tipis, sebesar Rp 5 triliun, atau jauh dari nilai transaksi di periode awal Januari yang menyentuh Rp 12 triliun (pada sesi 1 saja).


Menurut data RTI, sebanyak 302 saham menguat, 171 tertekan dan 150 lainnya flat. Investor asing berbalik membukukan pembelian bersih (net buy) di pasar reguler, senilai Rp 111,9 miliar. Ini menghentikan penjualan bersih (net sell) yang terjadi sepekan ini.

Saham yang diborong terutama adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp 369 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyusul dengan nilai transaksi Rp 253 miliar. Kedua saham bank tersebut kompak melesat 3,6% ke Rp 31.075 dan Rp 4.310/saham.

Pasar nasional terimbas sentimen positif dari bursa Amerika Serikat (AS) atau Wall Street yang menyambut kenaikan inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret dilaporkan tumbuh 2,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), dibandingkan dengan posisi Februari yang sebesar 1,7%. Pertumbuhan itu lebih tinggi dari hasil survei Reuters sebesar 2,5% YoY.

Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan naik-turunnya daya beli masyarakat karena mengecualikan komoditas dengan harga bergejolak (makanan dan energi), tumbuh 1,6% YoY, dari bulan sebelumnya 1,3% YoY. Ini juga lebih tinggi dari prediksi 1,5% YoY.

Pemerintah dan bank sentral AS menyatakan bahwa inflasi AS akan meningkat beberapa bulan ke depan. Kenaikan itu dinilai wajar dan bersifat sesaat karena basis Maret 2020 memang rendah akibat pembatasan masyarakat (lockdown). Di luar itu, masyarakat juga mulai membelanjakan dana tunai yang diperoleh dari program stimulus pemerintah.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menyatakan kesediaannya untuk membiarkan inflasi meninggi dalam beberapa waktu tanpa melakukan perubahan kebijakan akomodatif mereka, termasuk dalam hal pembelian aset di pasar dan suku bunga acuan mendekati 0%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading