Kembali Merosot di Bawah 6.000, IHSG Ikuti Tren Asia

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
30 April 2021 15:20
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Diawali di zona hijau, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (30/4/2021), di tengah bayang-bayang risiko capital outflow akibat inflasi dan kenaikan kasus pandemi di beberapa negara.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 5.995,616 atau surut 17,3 poin (-0,29%). Nilai transaksi tercatat hanya Rp 9,2 triliun dengan 17,6 miliar saham diperdagangkan sebanyak 965.000-an kali.

Sebanyak 197 saham menguat, 276 saham melemah dan 168 sisanya stagnan. Investor asing yang pada sesi membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 45 miliar berbalik menjadi pemborong, dengan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 132,7 miliar di pasar reguler.


Saham yang mereka buru terutama adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan nilai Rp 87 miliar, diikuti saham PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 72,2 miliar. Kedua saham tersebut kompak menguat lebih dari 1% ke Rp 2.790/unit dan Rp 5.500/unit.

Sebaliknya, aksi jual asing menimpa saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai Rp 62,1 miliar dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai beli Rp 55,5 miliar. Saham BBRI drop 2,6% menjadi Rp 4.050/unit, sedangkan TLKM flat sebesar Rp 3.200/unit.

Namun demikian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menduduki posisi puncak saham yang paling banyak ditransaksikan dengan nilai total transaksi Rp 954,8 miliar. Aksi jual masif hari ini terjadi setelah kemarin BBRI menjadi saham yang paling banyak diburu asing.

Koreksi BBRI menjadi penyumbang utama penurunan IHSG hari ini, dengan sumbangan 12,05 poin. Saham PT Bank Net Syariah Tbk (BANK) menyusul dengan porsi koreksi sebesar 2,9 poin, setelah saham perseroan anjlok 6,8% menyusul kabar bahwa Sea (induk Shopee) tak sedang dalam pembicaraan dengan bank yang kini bernama Bank Aladin Syariah itu.

Pasar memilih mengantisipasi rilis angka inflasi inti di Amerika Serikat (AS) pada malam nanti, yang tercermin dari data Personal Consumer Expenditure (PCE) per Maret. Konsensus Tradingeconomics berujung pada proyeksi angka 1,8% atau melampaui imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kini di angka 1,6%.

Ada kekhawatiran bahwa jika angka PCE per Maret melonjak, imbal hasil obligasi pemerintah AS pun menguat karena kebutuhan investor untuk mengompensasi gerusan inflasi terhadap keuntungan mereka. Kenaikan imbal hasil pun membuka peluang lebih besar akan terjadinya penarikan modal investor global di pasar modal.

Selain itu perlu diwaspadai tren pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown). Turki menyusul Jerman yang melakukan lockdown menyusul gelombang ketiga penyebaran virus. India sejauh ini menghadapi problem pandemi, dan mulai memperketat aktivitas masyarakat.

Jika lockdown menjadi tren global, maka pemulihan ekonomi pun terganggu. Dalam Asian Development Outlook 2021, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,5% atau lebih rendah dari proyeksi awal 5,3%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading