Awal Puasa, Saham APLN-PWON-BSDE cs Nyungsep!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
13 April 2021 10:25
Dok.bsdcity-development

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti ambruk serempak pada awal perdagangan hari ini, Selasa (13/4/2021). Pelemahan pagi ini melanjutkan koreksi pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (12/4).

Berikut gerak saham emiten properti pagi ini, pukul 09.35 WIB:


  1. Surya Semesta Internusa (SSIA), saham -2,81%, ke Rp 484, transaksi Rp 3 M

  2. Alam Sutera Realty (ASRI), -1,94%, ke Rp 202, transaksi Rp 2 M

  3. PP Properti (PPRO), -1,47%, ke Rp 67, transaksi Rp 499 Juta

  4. Bumi Serpong Damai (BSDE), -1,32%, ke Rp 1.125, transaksi Rp 3 M

  5. Agung Podomoro Land (APLN), -1,28%, ke Rp 154, transaksi Rp 602 Juta

  6. Pakuwon Jati (PWON), -1,20%, ke Rp 492, transaksi Rp 20 M

  7. Summarecon Agung (SMRA), -1.06%, ke Rp 930, transaksi Rp 1 M

  8. Lippo Karawaci (LPKR), -0,51%, ke Rp 196, transaksi Rp 808 Juta

  9. Ciputra Development (CTRA), -0,47%, ke Rp 1.065, transaksi Rp 5 M

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) di atas, saham SSIA tercatat paling ambles di antara yang lainnya, yakni sebesar 2,81% ke Rp 484/saham.

Dengan ini saham SSIA, termasuk saham properti lainnya, melanjutkan pelemahan setidaknya sejak perdagangan Senin kemarin.

Amblesnya SSIA pagi ini dibarengi oleh aksi jual bersih oleh asing sebesar Rp 2,17 miliar.

Selain SSIA, saham emiten pengelola BSD City milik Grup Sinarmas, BSDE, juga merosot 1,32% ke Rp 1.125/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 3 miliar.

Dengan ini, BSDE sudah terpuruk di zona merah selama empat hari perdagangan secara berturut-tuirut. Praktis, saham BSDE sudah merosot 3,75% dalam sepekan dan ambles 12,99% dalam sebulan.

Kabar terbaru, Mitbana, perusahaan konsorsium milik Mitsubishi Corporation dan Surbana Jurong, bersama Sinarmas Land Limited melalui anak perusahaannya BSDE mengumumkan kerja sama pengembangan Proyek Transit Oriented Development (TOD) di BSD City

Proyek ini akan berlokasi di kawasan Intermoda di BSD City yang merupakan township terbesar milik Sinar Mas Land. Dalam kerja sama ini, kedua perusahaan akan mengembangkan sebuah proyek smart mixed-use untuk mendukung fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun oleh Sinar Mas Land.

Lokasinya berada tepat di kompleks Intermoda BSD City yang telah beroperasi sejak 2019 serta memberikan proyek ini akses langsung ke beberapa moda transportasi publik.

Konstruksi TOD Intermoda yang baru ini akan terbagi dalam beberapa tahap mulai dari 2022 dengan total pengembangan senilai Rp 2 triliun.

Ke depannya, kedua perusahaan sepakat untuk mentransformasi lahan seluas 100 hektar di BSD City menjadi proyek TOD dengan apartemen, area komersial, pusat gaya hidup dan ragam moda transportasi publik.

Selain SSIA dan BSDE, saham PWON juga ambles lagi pagi ini, sebesar 1,20% ke Rp 492/saham. Sama seperti BSDE, PWON tercatat sudah berkubang di zona pelemahan selama empat hari beruntun.

Alhasil, dalam seminggu saham emiten pengelola Kota Kasablanka Superblock ini sudah anjlok 9,72% dan ambrol 17,31% dalam sebulan.

Pelemahan ini seiring emiten milik salah satu crazy rich Indonesia, Alexande Tedja ini baru saja menyampaikan laporan keuangan konsolidasi mereka sepanjang 2020.

Berdasarkan laporan tersebut, sepanjang 2020 Pakuwon Jati mengalami penurunan pendapatan sebesar 44,78% dari tahun 2019 sebesar Rp 7,20 triliun menjadi hanya Rp 3,97 triliun tahun lalu.

Turunnya pendapatan dari penjualan mengakibatkan penurunan laba bersih yang cukup signifikan. Sepanjang tahun 2020 lalu, laba bersih PWON turun drastis sebesar 65,81% dari semula Rp 2,71 triliun, menciut menjadi hanya sebesar Rp 929,91 miliar saja tahun lalu.

Sebenarnya, tahun ini, saham emiten-emiten properti mendapatkan sentimen positif dari pemerintah, yakni soal kebijakan relaksasi PPN (pajak pertambahan nilai) dan uang muka (DP/down payment) 0% untuk pembelian unit properti yang sudah jadi pada awal Maret lalu.

Menurut riset CLSA Sekuritas, pada awal Maret lalu, kebijakan tersebut akan menguntungkan pengembang properti properti yang punya stok rumah yang belum terjual.

Adapun menurut laporan keuangan kuartal III 2020, CLSA menilai, sejumlah pengembang memiliki porsi total inventori atau stok unit properti yang tergolong tinggi, baik yang siap dijual ataupun yang masih dalam proses konstruksi.

Para pengembang yang dimaksud, yakni CTRA, LPKR, APLN, BSDE dan PWON.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading