Newsletter

Ada Data Inflasi AS, Siap-siap IHSG-Rupiah Rontok Lagi!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 April 2021 06:14
Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri rontok pada perdagangan Senin kemarin, padahal di awal perdagangan sempat muncul tanda-tanda akan menghijau. Pergerakan tersebut menunjukkan sulitnya mempertahankan mood pelaku pasar global saat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) masih belum tuntas.

Pada perdagangan hari ini, Selasa (13/4/2021), sentimen negatif datang dari barat, di mana Wall Street turun dari rekor tertinggi sepanjang masa. Selain itu, pelaku pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang bisa memberikan dampak besar di pasar.


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal perdagangan menguat 0,31%, tetapi setelahnya berbalik melemah. Bahkan pada akhirnya mengakhiri perdagangan di 5.948,569, anjlok 2%.

Data pasar mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 521 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi mencapai Rp 9,56 triliun.

Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan 0,21% melawan dolar AS ke Rp 14.590/US$, sebelumnya bahkan sempat menyentuh Rp 14.620/US$ atau melemah 0,41%. Level tersebut merupakan yang terendah dalam 5 bulan terakhir.

Sebelumnya rupiah juga membukukan pelemahan 8 pekan beruntun, dengan total 4,37%.

Sementara itu pasar obligasi bervariasi, yang terlihat dari kenaikan yield Treasury di beberapa tenor, sementara tenor lainnya mengalami penurunan. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang biasa menjadi acuan naik 5.9 basis poin ke 6,512%.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika harga naik, maka yield akan turun, dan sebaliknya.

Sentimen pelaku pasar yang sebelumnya sedang bagus pasca rekor yang dicetak bursa saham AS (Wall Street) malah berbalik memburuk.

Beberapa sentimen negatif datang dari luar negeri. India diperkirakan tengah mempertimbangkan menerapkan lockdown di daerah Maharasahra akibat jumlah kasus Covid-19 yang masih tinggi. India kini menjadi negara dengan kasus positif Covid-19 terbesar kedua di dunia mengalahkan Brasil karena lonjakan infeksi dalam beberapa minggu terakhir.

Sementara itu, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu mengakui vaksin Covid-19 dari China yang beredar saat ini memiliki tingkat kemanjuran (efikasi) rendah ketimbang vaksin yang lainnya.

Oleh sebab itu, pemerintah China mewacanakan untuk mencampurkan beberapa vaksin Covid-19 yang berbeda. Diharapkan cara ini bisa meningkatkan kemanjuran vaksinnya.

Kemudian dari dalam negeri, penjualan ritel di Indonesia masih mengalami kontraksi pada Februari 2021, baik secara bulanan (month-to-month/MtM) dan tahunan (year-on-year/YoY).

Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Februari 2021 sebesar 177,1. Terjadi kontraksi atau pertumbuhan negatif 2,7% MtM. Secara YoY, kontraksinya mencapai 18,1%.

Namun data Februari 2021 sedikit lebih baik ketimbang bulan sebelumnya. Pada Januari 2021, penjualan ritel tumbuh -4,3% MtM.

"Responden menyampaikan bahwa perbaikan tersebut didorong oleh permintaan masyarakat yang meningkat saat HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Imlek dan libur nasional. Perbaikan terjadi pada sebagian besar kelompok barang, seperti Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Suku Cadang dan Aksesoris," sebut keterangan tertulis BI yang dirilis Senin (12/4/2021).

Di bulan Maret, penjualan ritel diperkirakan akan lebih baik lagi. Responden memprakirakan peningkatan kinerja penjualan eceran berlanjut pada Maret 2021. Hal itu tercermin dari IPR Maret 2021 yang diprakirakan tumbuh 2,9% (MtM), meski secara tahunan masih berkontraksi 17,1%.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Turun Dari Rekor Tertinggi 

Wall Street Turun dari Rekor Tertinggi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading