Internasional

Didenda Xi Jinping Rp 41 T, Saham Alibaba Malah 'Kesurupan'

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 April 2021 11:20
Jack Ma, executive chairman of the Alibaba Group, looks up during a panel discussion held as part of the China Development Forum at the Diaoyutai State Guesthouse in Beijing, Saturday, March 19, 2016. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham Alibaba di Bursa justru Hong Kong melonjak 8% pada perdagangan Senin ini (12/4/2021) setelah perusahaan itu didenda 18,23 miliar yuan atau setara dengan Rp 41 triliun (kurs Rp 2.230/yuan) oleh regulator China sebagai akibat dari penyelidikan anti-monopoli.

Pemerintah China pimpinan Presiden Xi Jinping memang menjatuhkan sanksi kepada perusahaan besutan Jack Ma itu. Alibaba tercatat di bursa Wall Street New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode saham BABA dan Bursa Hong Kong dengan kode perdagangan 9988.

Data perdagangan mencatat, penguatan saham Alibaba di Hong Kong pun berkurang menjadi 6,51% di level 232,20 dolar Hong Kong dari awalnya 8%. Pekan lalu, saham BABA di NYSE alias Wall Street turun 2,16% di posisi US$ 223,31/saham.


"Terlepas dari rekor jumlah denda yang ditetapkan, kami pikir ini akan mengangkat beban besar bagi saham BABA dan mengalihkan fokus pasar kembali ke fundamental," tulis Morgan Stanley dalam sebuah catatan pada Minggu, sehari setelah denda dikeluarkan, dikutip CNBC International, Senin (12/4/2021).

Regulator China membuka penyelidikan anti-monopoli ke Alibaba pada Desember. Fokus utamanya adalah di sekitar praktik yang memaksa pedagang untuk mencantumkan produk mereka di salah satu dari dua platform e-commerce, daripada memilih keduanya.

Otoritas berwenang menilai bahwa kebijakan "pilih satu" dan kebijakan lainnya memungkinkan Alibaba untuk meningkatkan posisinya di pasar dan mendapatkan keunggulan kompetitif yang tidak adil.

Administrasi Negara China untuk Peraturan Pasar (SAMR) menganggap praktik ini menghambat persaingan di pasar ritel online China dan "melanggar bisnis pedagang di platform dan hak serta kepentingan yang sah dari konsumen."

CEO Alibaba Daniel Zhang mengatakan dia tidak mengharapkan dampak material pada perusahaan dari perubahan pengaturan eksklusivitas ini.

Zhang juga mengatakan Alibaba akan memperkenalkan langkah-langkah baru untuk menurunkan hambatan masuk dan biaya untuk bisnis dan pedagang di platform tersebut. Perusahaan juga akan terus berekspansi ke kota-kota kecil di China dan daerah pedesaan.

Perusahaan teknologi China telah tumbuh, sebagian besar tidak terbebani, dan terus menjadi raksasa. Tetapi pemerintahan Beijing di bawah Presiden Jinping menjadi semakin khawatir dengan kekuatan perusahaan-perusahaan ini.

Pengawasan peraturan telah difokuskan pada kerajaan pendiri Alibaba Jack Ma setelah miliarder itu membuat beberapa komentar pada Oktober yang tampak kritis terhadap regulator keuangan China. Tidak lama kemudian, regulator menghentikan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Ant Group, raksasa teknologi keuangan yang didirikan Ma.

Joe Tsai, Wakil Ketua Eksekutif Alibaba, mengatakan pada hari Senin bahwa dia tidak mengetahui penyelidikan lebih lanjut terkait undang-undang anti-monopoli.

"Kami senang bahwa kami dapat melupakan masalah ini," kata Joe Tsai.

Tetapi Tsai mengatakan bahwa Alibaba dan grupnya tunduk pada pertanyaan dari regulator tentang merger, akuisisi, dan investasi strategis sebagai bagian dari proses peninjauan.

Selain denda, yang berjumlah sekitar 4% dari pendapatan perusahaan tahun 2019, regulator mengatakan Alibaba harus mengajukan pemeriksaan sendiri dan laporan kepatuhan ke SAMR selama 3 tahun.

"Untuk memenuhi tanggung jawabnya kepada masyarakat, Alibaba akan beroperasi sesuai dengan hukum dengan ketekunan yang tinggi, terus memperkuat sistem kepatuhannya, dan membangun pertumbuhan melalui inovasi," tulis pernyataan Alibaba.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading