Bitcoin Dkk Makin Berkilau Nih Guys, Emas Bakal Lewat?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
11 April 2021 13:46
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu komoditas yang sifatnya aset aman (safe haven) yakni emas sepertinya tak lagi seindah tahun lalu, di mana harga emas tak bertahan lama berada di level US$ 1.750/troy ons. Hanya dalam sehari emas berhasil melampaui level psikologis tersebut tetapi setelahnya kembali merosot.

Namun jika emas tak lagi berkilau seperti tahun lalu, adakah instrumen investasi lainnya yang mungkin bisa lebih berkilau dari emas? Jawabannya mungkin ada, namun bukan sebagai aset safe haven, melainkan aset berisiko tetapi potensi 'cuan' masih tinggi. Instrumen tersebut ialah mata uang kripto.


Meski masih banyak yang kontra dengan investasi di mata uang kritpo, tetapi tidak bisa dipungkiri harganya yang meroket menarik minat pelaku pasar.

Apalagi sejak terjadi pandemi penyakit virus corona (Covid-19) satu tahun silam yang membuat perekonomian global mengalami resesi, kinerja perusahaan-perusahaan tentunya dipertanyakan, yang berdampak pada harga sahamnya. Para pelaku pasar mencari investasi alternatif, dan mata uang kripto salah satu pilihannya.

Meroketnya harga mata uang kripto tidak lepas dari pergerakan bitcoin yang meroket. Penerimaan yang semakin luas, mulai dari investor institusional, perusahaan aset manajemen, bank investasi besar, hingga perusahaan-perusahaan raksasa seperti Tesla hingga Visa, menjadi pemicu meroketnya harga bitcoin.

Bahkan bank investasi raksasa kini menyediakan layanan bitcoin bagi para nasabahnya. Morgan Stanley menjadi bank besar pertama di AS yang memberikan layanan bitcoin ke nasabahnya. Meski tidak semua nasabah, bahkan yang kaya, bisa mendapatkan layanan tersebut.

Langkah Morgan Stanley tersebut kini diikuti rivalnya, Goldman Sachs. Mary Rich, head of digital assets Goldman Sachs kepada CNBC International mengatakan pada kuartal II-2021 Goldman Sachs menawarkan investasi bitcoin dalam "spectrum penuh", yakni bisa berupa investasi fisik, produk derivatif, ataupun sarana investasi tradisional.

Di akhir kuartal I-2021, bitcoin berada di level US$ 58.950,02/BTC, sementara di akhir 2018 US$ 3.810,7/BTC. Artinya selama 2 tahun dan 3 bulan, harga bitcoin meroket 1.446%.

Bahkan pada hari ini, harga bitcoin pun melesat 1,32% ke level US$ 60.555,97 atau kembali mencetak rekor dan menembus di atas $ 60.000 untuk kedua kalinya dalam 10 hari belakangan.

Kenaikan tajam Bitcoin tersebut membuat mata uang kripto lainnya juga terkerek naik. Ethereum, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua setelah bitcoin, pada perode yang sama terbang hingga 1.334%.

Bahkan dogecoin, mata uang kripto yang pada awalnya diciptakan hanya sebagai lelucon meroket lebih tinggi ketimbang bitcoin pada saat itu.

Dogecoin dibuat oleh programme Jackson Palmer dan Billy Markus pada tahun 2013. Palmer pada tahun 2015 angkat kaki dari dogecoin dan saat itu mengatakan tujuannya hanya untuk lelucon dan tidak mau menghasilkan uang dari produk ciptaannya itu.

Namun nyatanya, sejak akhir 2018 hingga akhir kuartal I-2021, dogecoin justru meroket 2.190%.

Mata Uang Kripto Lagi Primadona, Emas Tak Lagi Berkilau?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading