Heboh Supersiklus Komoditas 2021, Benarkah akan Terjadi?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 April 2021 12:40
A worker poses with a handful of nickel ore at the nickel mining factory of PT Vale Tbk, near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak yang gembar-gembor di pasar soal commodity supercycle bakal terjadi di tahun 2021. Lantas apakah ramalan tersebut benar-benar bakal kejadian di tahun ini?

Sebelum masuk lebih dalam, alangkah baiknya memahami dulu konteks supersiklus komoditas. Secara sederhana fenomena ini terjadi ketika harga berbagai komoditas mengalami reli yang panjang secara bertahun-tahun ditopang oleh kenaikan permintaan dan respons pasokan yang lambat. 

Seorang kolumnis Reuters, Clyde Russel menuliskan dalam materi presentasinya bahwa terakhir kali fenomena ini terjadi adalah di tahun 2002-2008. Kalau dicermati periode itu adalah masa transisi dari satu krisis ke krisis yang lain. Dari dotcom bubble ke subprime mortgage crises.


Bisa dilihat bahwa saat terjadi krisis biasanya pemerintah dan bank sentral cenderung mengambil langkah kebijakan akomodatif. Pemerintah genjot belanja lewat instrumen fiskal dengan stimulus dan tebar relaksasi. Sementara bank sentral turunkan suku bunga hingga cetak uang. 

Kebijakan ini biasanya akan menggenjot permintaan dan begitu juga dengan produksi sehingga output perekonomian bakal ikut terangkat.

Tahun 2020 ekonomi global jatuh ke jurang resesi paling dalam sejak great depression akibat pandemi Covid-19, kebijakan serupa tetapi dengan nilai yang lebih fantastis ditempuh oleh berbagai negara.

China yang berhasil lolos dari jerat resesi terus menggenjot perekonomiannya melalui proyek-proyek infrastruktur. Harga-harga komoditas tambang seperti tembaga dan bijih besi pun terangkat naik. 

Tak ketinggalan harga batu bara dan minyak juga ikut terkerek. Sama halnya dengan China, AS juga berencana untuk menggelontorkan anggaran senilai US$ 2 triliun untuk membangun infrastruktur terutama fokus pada transisi ke arah energi terbarukan. 

Itu masih baru rencana Biden. Belum final karena masih harus mendapat restu dari lembaga legislatifnya. 

Namun dengan adanya kebijakan berupa stimulus tersebut harga komoditas terkerek naik. Sepanjang 2021 harga batu bara naik 4% lebih, tembaga naik 15,65%, bijih besi naik 9,37% dan minyak memimpin penguatan dengan kenaikan lebih dari 21%. 

Lantas apakah dengan kenaikan tersebut bisa dibilang supersiklus komoditas terjadi? Hmm, rasanya masih terlalu dini untuk mengkonfirmasi hal tersebut.

Lagipula masih banyak ketidakpastian. Belum tentu juga China akan terus menerus menggelontorkan stimulus. Belum tentu juga Biden berhasil meloloskan programnya. 

Namun bukan berarti bahwa fenomena supersiklus tersebut tak akan terjadi. Kejadian 2002-2008 bisa terulang jika China, AS dan negara-negara lain terus fokus untuk membangun infrastruktur. 

Di saat permintaan terhadap komoditas terkerek naik para produsen tidak merespons dengan cepat melalui kenaikan output. Hal ini bisa menyebabkan harga terus terkerek naik. 

Hanya saja untuk kali ini, jika supersiklus komoditas terjadi tidak sembarang semua komoditas harganya naik. Menurut Clyde Russel komoditas yang diuntungkan antara lain tembaga, litium, nikel dan logam tanah jarang seiring dengan semakin pesatnya perkembangan industri mobil listrik. 

Di sisi lain supersiklus kali ini jika memang terjadi akan menyebabkan beberapa komoditas yang terkait dengan bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara tertinggal seiring dengan semakin sadarnya publik global terhadap permasalahan perubahan iklim.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading