Begini Rapor Emiten Batu Bara Raksasa RI, Akan Pulih 2021?

Market - Putra, CNBC Indonesia
09 April 2021 08:30
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Bongkar Muat Batu Bara di Terminal Tanjung Priok. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBCIndonesia - Terdapat enam emiten batu bara raksasa yang sudah merilis laporan keuanganya. Tercatat laba bersih 5 dari enam emiten terkontraksi dan satu emiten membukukan rugi bersih.

Kinerja keuangan emiten-emiten batu bara mengalami tekanan efek dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020. Pandemi global mempengaruhi permintaan batu bara dan membuat harga batu bara menyusut.

Sejurus dengan itu, kinerja mayoritas saham emiten-emiten ini juga kurang menggembirakan sejak awal tahun.


Pasalnya, dari enam saham batu bara hanya satu saham yang berhasil melaju kencang secara tahun berjalan aliasyear to date(YTD). Sisanya, terpaksa terkoreksi. Hal ini tentu tidak terlepas dari fakta bahwa kenaikan saham-saham batu bara sudah terjadi sejak kuartal.

Berikut kinerja laba dan kinerja saham perusahaan batu bara raksasa yang sudah merilis laporan keuangan 2020.

Tercatat emiten batu bara milik pengusaha Kiki Barki, PT Harum Energy Tbk (HRUM), menjadi emiten dengan kinerja keuangan dan saham paling baik di antara yang lainnya.

Emiten yang melakukan kegiatanpenambangan di Kalimantan Timur mencetak laba bersih sebesar US$ 59 juta atau setara dengan Rp 826 miliar (kurs 14.000/US$) sepanjang tahun lalu.

Angka tersebut melesat hingga 218,92% jika dibandingkan dengan laba bersih 2019 yang sebesar US$ 18,5 juta atau setara Rp 259 miliar

Kinerja keuangan yang ciamik direspons investor sehingga harga sahamnya terus melesat. Harga saham emiten yang baru saja masuk bisnis nikel ini terus menghijau secara tahun berjalan. Di antara lima saham lainnya, HRUM menjadi satu-satunya saham yang melaju di zona hijau sejak awal tahun.

Secara YTD saham HRUM yang sudah melantai di bursa pada 2010 silam ini sudah melonjak 87,92%.

Selanjutnya secara nominal, emiten batu bara dengan laba bersih paling besar jatuh kepada PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang pada tahun 2020 berhasil membukukan laba bersih US$ 328,74 juta meskipun laba operasinya hanya US$ 285 juta. Angka ini juga naik lumayan dari tahun lalu yakni sebesar US$ 223,39 juta atau kenaikan sebesar 47,15%.

Melesatnya laba bersih BYAN menyebabkan perseroan kini menyalip PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebagai emiten batu bara pencetak laba bersih terbesar. Tercatat tahun lalu ADRO mencetak laba bersih mencapai US$ 404,19 juta akan tetapi karena adanya pandemi laba bersih ADRO anjlok 63,64% menjadi US$ 146,93 juta.

Berbeda dengan HRUM dan BYAN, PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) malah mencatatkan kinerja paling jeblok di antara emiten batu bara lainnya sepanjang tahun lalu.

INDY kembali membukukan kerugian sepanjang tahun lalu. Bahkan, kerugian perusahaan membengkak menjadi US$ 117,54 juta atau setara dengan Rp 1,64 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$), dari posisi US$ 18,16 juta di sepanjang 2019.

Sejalan dengan kinerja keuanganya yang jeblok, saham emiten yang sudah listing di bursa sejak 2008 ini juga tercatat ambles 11,56% secara tahun berjalan.

Sepanjang tahun 2020 Harga Batu Bara Acuan (HBA) mengalami pelemahan sampai level terendah akibat pandemi Covid-19. Rata-rata HBA pada 2020 hanya sebesar US$ 58,17 per ton dan menjadi terendah sejak 2015.

Adapun HBA April 2021 naik 2,61%, dari Maret 2021, menjadi US$ 86,68 per ton. Harga ini naik US$ 2,21 per ton dari posisi Maret 2021 sebesar US$ 84,47 per ton.

Sedangkan untuk harga kontrak batu bara acuan Newcastle juga bergerak volatil. Sempat melesat hingga menembus level US$ 95/ton, kontrak berjangka batu bara saat ini berada di level US$ 90,1/ton. Angka ini sejatinya masih naik dari posisi awal tahun di level US$ 69,95/ton atau apresiasi mencapai 28,8%.

Dilansir CNBC Indonesia pada Selasa (6/3), Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia memperkirakan produksi batu bara di Kuartal I 2021 akan lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu.

Curah hujan yang cukup tinggi dia sebut menjadi penyebab turunnya produksi di Kuartal I tahun ini.

Kendati pada Kuartal I diproyeksikan lebih rendah, tetapi sampai akhir tahun 2021 diproyeksikan produksi batu bara bisa mencapai lebih dari yang ditargetkan pemerintah. Seperti diketahui,padatahun ini pemerintah menargetkan produksi batu bara 550 juta ton.

Hendra mengatakan, produksi yang diproyeksikan bakal melebihi target disebabkan karena beberapa hal. Pertama, membaiknya perekonomian global di 2021. Kedua, proyeksi rerata harga komoditas di 2021 akan lebih baik dari 2020.


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading