Tren Positif Rupiah Terhenti, Kini Terancam Melemah 8 Pekan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 April 2021 15:36
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengakhiri tren penguatan sejak awal pekan pada perdagangan Kamis (8/4/2021). Total penguatan dalam 3 hari terakhir bahkan dibabat habis dolar Amerika Serikat (AS). Bangkitnya indeks dolar AS setelah merosot dalam 2 hari terakhir membuat rupiah tertekan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,07% di Rp 14.500/US$. Setelahnya depresiasi rupiah bertambah hingga 0,48% ke Rp 14.560/US$. Posisi rupiah sedikit membaik, berada di akhir perdagangan berada di Rp 14.530/US$, melemah 0,28% di pasar spot.

Pada periode Senin hingga Rabu, rupiah masing-masing hanya menguat 0,07%, sehingga total dalam 3 hari 0,21%. Artinya, rupiah kinerja rupiah kembali negatif di pekan ini.


Jika Jumat besok tidak mampu bangkit, maka Mata Uang Garuda akan membukukan pelemahan selama 8 pekan beruntun.

Indeks dolar AS yang merosot 0,46% pada hari Senin, dan 0,28% di hari Selasa membuat rupiah mampu mencetak hat-trick. Namun pada perdagangan Rabu waktu AS, indeks dolar AS bangkit dan menguat 0,13%.

Munculnya "suara-suara" bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga di akhir tahun ini membuat dolar AS perkasa.

Hal tersebut tercermin dari perangkat FedWatch milik CME Group, dimana pelaku pasar melihat ada probabilitas sebesar 10,4% The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi 0,5% pada bulan Desember 2021. Meski probabilitas tersebut kecil, tetapi mengalami kenaikan nyaris 2 kali lipat dibandingkan sepekan lalu 5,4%.

idrFoto: CME Group

Selain itu, rupiah belakangan ini tertekan akibat capital outflow yang terjadi di pasar obligasi.

Data dari Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan sepanjang bulan Maret terjadi capital outflow sebesar Rp 20 triliun di pasar obligasi.

Tidak hanya itu, obligasi Indonesia juga kurang menarik, hal tersebut tercermin dari lelang yang dilakukan, dimana yang dimenangkan selalu lebih rendah dari target indikatif.

Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara yang dilakukan Selasa (6/4/2021) kembali tidak mencapai target. Pemerintah melalui Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dalam lelang Sukuk kemarin yang dimenangkan sebesar 7,34 triliun dari target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 10 triliun.

Nilai penawaran yang masuk sebesar Rp 14,6 triliun, menurun ketimbang lelang 23 Maret sebesar Rp 17,2 triliun. Pemerintah kemudian menetapkan lelang tambahan (greenshoe option) pada hari ini.

Lelang Surat Utang Negara (SUN) juga bernasib sama, pada 30 Maret lalu, DJPPR menetapkan target indikatif sebesar Rp 30 triliun, yang dimenangkan hanya Rp 4,75 triliun. Sehingga sehari setelahnya diadakan lelang tambahan.

Penawaran yang masuk pada lelang 30 Maret tersebut sebesar Rp 33,95 triliun, turun ketimbang lelang sebelumnya pada 16 Maret sebesar Rp 40,1 triliun. Sementara pada 2 Maret lalu, penawaran yang masuk saat lelang SUN sebesar 49,7 triliun.

Penurunan nilai penawaran yang masuk tersebut mencerminkan kurang menariknya obligasi Indonesia, yang pada akhirnya membuat rupiah lesu.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading