Yield Obligasi AS Kesetanan, Investor Tarik Dana dari Asia

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 April 2021 15:49
Kantor pusat KEB Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 23 Juli 2020. (AP/Ahn Young-joon) (AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS sepanjang tahun ini memicu banyak investor yang menarik dananya dari pasar saham kawasan Benua Kuning. 

Imbal hasil nominal obligasi negara Paman Sam tenor 10 tahun masih berada di 0,91% di penghujung tahun 2020. Yield terus naik hingga mencapai level tertinggi sepanjang tahun berjalan di 1,75%. Artinya dalam waktu tiga bulan saja yield naik 84 basis poin (bps). 

Jika dihitung dalam satuan persentase maka imbal hasil aset minim risiko ini sudah naik 79,66%. Kenaikan imbal hasil juga turut mendorong greenback menguat. Indeks dolar tumbuh 2,64% secara year to date


Bursa saham sempat dibuat goyang olehnya. Harga saham-saham global pun bergerak dengan volatilitas tinggi. Negara-negara di kawasan Asia banyak mengalami capital outflow

Berdasarkan data Refinitiv, negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Filipina, Thailand, Filipina, Vietnam, Indonesia dan India secara kumulatif mencatatkan net outflow sebesar US$ 3,18 miliar di saat yield naik. 

Taiwan dan Korea Selatan, yang menampung banyak saham teknologi dengan harga tinggi menghadapi aliran modal keluar terbesar di Asia. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih masing-masing US$ 3,2 miliar dan US$ 1,3 miliar di bursa saham kedua negara tersebut.

Capital Flow

Investor asing terus keluar dari pasar ekuitas Filipina selama 17 bulan berturut-turut sejak Maret tahun lalu saat negara tersebut menerapkan lockdown baru di ibu kota Manila dan provinsi terdekat setelah lonjakan kasus Covid-19 terpantau.

Berbeda dengan yang lain, India justru kebanjiran inflow. India sukses memikat investor asing sehingga mampu membawa masuk US$ 1,6 miliar ke pasar sahamnya meskipun terjadi lonjakan infeksi bulan lalu.

Beralih ke dalam negeri, Indonesia juga bernasib sama dengan India. RI tercatat masih memperoleh aliran masuk sebesar US$ 800 juta karena optimisme bahwa RI bakal keluar dari resesi yang dipicu pandemi pada kuartal kedua.

Naiknya yield surat utang AS diakibatkan oleh prospek perekonomian yang lebih baik dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Saking menguatnya bahkan yield untuk aset sekelas safe haven bahkan melampaui yield dari dividen aset berisiko saham S&P 500 yang hanya 1,5%.

Alhasil opportunity cost untuk memegang saham menjadi meningkat. 

The Fed sendiri untuk saat ini selalu menampik adanya kemungkinan pengetatan moneter lewat tapering. Bos besarnya Jerome Powell selalu menegaskan bahwa kebijakan semacam itu di saat ini masih terlalu prematur. 

Menurut BlackRock kenaikan yield memanglah wajar di tengah adanya kenaikan inflasi dan prospek perekonomian yang lebih baik. Namun sebenarnya secara riil imbal hasil yang ditawarkan oleh surat utang pemerintah masih sangatlah rendah.

Mengingat portofolio BlackRock yang tersebar ke berbagai penjuru dunia, ada beberapa pasar saham yang diberi rating overweight olehnya. Beberapa di antaranya seperti Amerika Serikat, negara berkembang, Asia Ex-Jepang dan Inggris. Hanya Jepang yang mendapat rating underweight.

NegaraRating
Amerika SerikatOverweight
JepangUnderweight
Negara BerkembangOverweight
Asia Ex-JepangOverweight
InggrisOverweight

Sumber : BlackRock Weekly Commentary Report.

BlackRock menilai aset ekuitas di pasar Asia masih menarik karena ditopang oleh tren pelemahan greenback, laju vaksinasi yang agresif, sektor teknologi yang menarik hingga prospek pertumbuhan yang lebih tinggi tahun ini.

Yield surat utang pemerintah AS belakangan ini melandai dan sudah menyentuh level 1,6%. Apabila tren pelemahan berlanjut dan dolar AS semakin tertekan, besar kemungkinan dana asing yang masif akan kembali membanjiri pasar keuangan Asia. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading