Analisis

Parah! 3 Bulan Saham Emiten Migas Gak Ada yang Cuan

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 April 2021 07:40
Foto : REUTERS/Lucas Jackson/

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham-saham emiten migas (minyak dan gas) mencatatkan rapor merah dalam 3 bulan terakhir. Bahkan dua di antaranya ada yang ambles sedalam 21%.

Harga kontrak futures (berjangka) minyak mentah yang kembali pulih dan cenderung naik sejak awal tahun tampaknya tidak serta-merta mengungkit harga saham-saham migas di bursa Tanah Air.

Berikut gerak saham-saham migas dalam 3 bulan belakangan, berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan ini (5/4/2021):


Dari tabel di atas, tercatat ada tiga saham yang mengalami anjlok paling dalam di antara yang lainnya selama 3 bulan terakhir. Ketiga saham tersebut ialah WOWS, RAJA dan ENRG.

Tim Riset CNBC Indonesia akan membahas satu per satu, mulai dari saham WOWS.

Ginting Jaya Energi (WOWS)

Saham WOWS tercatat lebih banyak stagnan dalam sebulan terakhir, hanya menghijau tiga kali dan ambles tujuh kali. Tidak mengherankan apabila dalam sebulan, saham ini sudah merosot 5,00%, sementara dalam 3 bulan terakhir sudah ambruk 21,92%.

Kenaikan harga kontrak berjangka minyak mentah tampaknya tidak mampu mendongkrak kinerja saham WOWS.

Informasi saja, dalam 3 bulan terakhir harga minyak berjangka (futures) West Texas Intermediate (WTI) sudah naik 16,59% ke US$ 59,03/barel. Setali tiga uang, harga kontrak berjangka Brent juga terapresiasi 16,19% ke US$ 62,28, berdasarkan harga penutupan Senin (5/4).

Ambil contoh, ketika harga futures WTI mencapai puncak selama 3 bulan terakhir pada 5 Maret 2021 ke US 66,09/barel, harga saham WOWS malah ambles 16,66% ke Rp 70/saham.

Sementara, ketika kontrak futures Brent mencapai harga tertinggi pada 11 Maret 2021 di US$ 69,63/barel, harga saham WOWS naik tipis 1,67% ke Rp 61/saham.

Mengenai kinerja fundamental, oleh karena WOWS belum merilis laporan keuangan tahunan 2020, Tim Riset CNBC Indonesia menggunakan laporan keuangan perusahaan per kuartal III tahun lalu. Ini akan berlaku juga untuk kedua saham di bawah ini, RAJA dan ENRG.

Pada 9 bulan pertama 2020, laba bersih perusahaan yang berdiri pada 2011 ini ambles 54,22% menjadi Rp 6,93 miliar. Penurunan laba bersih tersebut seiring dengan anjloknya pendapatan perusahaan sebesar 27,27% menjadi Rp 94,66 miliar.

Adapun dalam paparan publik pada Desember tahun lalu, manajemen menjelaskan sejumlah strategi perusahaan pada tahun ini. Pertama, perusahaan berusaha meningkatkan efisiensi perseroan dengan melakukan cost reduction pada harga pokok penjualan maupun biaya-biaya lainnya.

Kedua, mengoptimalkan jasa WOWS baik dari existing market dan target market baru yang dibidik.

Ketiga, melakukan ekspansi usaha jasa sewa Rig WOWS dengan mengikuti Tender-tender di luar Sumatera Selatan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan, seperti di Pertamina Asset 1 Field Jambi, Pertamina Hulu Rokan /PHR (Riau) dan K.S.O Pertamina EP -Samudra Energy BWP Meruap.

NEXT: Intip Analisis RAJA dan ENRG

Simak Analisisis RAJA dan ENRG
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading