Kepo Ga, Minyak Naik Apakah Otomatis Saham Migas Ikut Ngegas?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 March 2021 09:50
Kilang Pertamina (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Volatilitas harga minyak mentah dunia turut menjadi sentimen penggerak harga saham emiten minyak dan gas (migas) Tanah Air.

Dari tiga emiten migas nasional yang sudah melantai di bursa sejak 20 tahun silam, harga minyak mentah lebih berkorelasi dengan pergerakan harga saham PT Medco Energy Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) ketimbang saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Hal ini terlihat jelas dari pergerakan searah harga antara minyak mentah Brent dengan harga saham ELSA & MEDC. Saat krisis keuangan global tahun 2008 dan harga minyak global anjlok harga kedua saham ini pun ikut drop. 


Saat harga minyak bangkit di tahun selanjutnya harga saham keduanya pun ikut menguat hingga tahun 2010. Namun setelah itu, korelasi positif antara harga minyak dan saham emiten migas nasional mulai tak tampak.

Saat harga minyak bertahan di zona positif, harga saham emiten migas cenderung tertekan lagi. Ini bertepatan dengan jebolnya neraca dagang migas Indonesia yang membuat transaksi berjalan RI defisit di tahun 2011. 

Namun korelasi positif antara harga minyak dan harga saham emiten migas nasional kembali terbentuk pada tahun 2014. Kebetulan waktu itu harga saham migas nasional baru reli. Hanya saja koreksi harga minyak besar-besaran membuat harga saham juga ikut bergerak ke arah yang sama. 

Kala itu AS berhasil menyalip Rusia menjadi salah satu produsen minyak dan gas. Kenaikan produksi besar-besaran AS diakibatkan karena kesuksesan metode atau teknik pengeboran minyak yang disebut fracking di AS. Pasokan minyak yang berlimpah membuat harganya tertekan. 

Penurunan harga minyak jelas berdampak terhadap kinerja keuangan emiten migas terutama mereka yang memiliki aktivitas operasional di sektor hulu maupun hilir migas. 

Saat harga minyak mentah anjlok pada 2014-2016, pendapatan usaha ELSA, ENRG dan MEDC juga ikut tergerus. Pendapatan usaha ELSA turun dari Rp 4,2 triliun pada 2014 menjadi 3,6 triliun pada 2016. 

Pada periode yang sama pendapatan usaha MEDC juga drop dari Rp 9,3 triliun menjadi Rp 8,1 triliun. Pendapatan ENRG menjadi yang paling anjlok karena sektor bisnisnya yang terfokus pada perdagangan dan jasa di sektor migas. 

Pada 2014 ENRG berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 10,1 triliun. Dua tahun berselang saat harga minyak mentah terus turun pendapatan ENRG drop menjadi Rp 7 triliun. 

Korelasi gerak harga saham dengan harga minyak cenderung bertahan sampai saat ini, kecuali untuk saham ENRG. Penurunan kinerja keuangan yang berlanjut membuat harga saham ENRG menyentuh level gocap alias Rp 50/lembar. Hal ini terjadi selama tiga periode. Tahun 2015, 2016 dan 2019. 

Pada tahun 2015 dan 2016 harga minyak anjlok, pendapatan ENRG juga ikut tergerus. Mirisnya lagi di tahun tersebut laba perusahaan sampai minus lebih dari Rp 3 triliun dua tahun beruntun sehingga membuat ekuitas perusahaan tercatat menjadi negatif Rp 963 miliar pada 2016 dan minus Rp 760 miliar di tahun berikutanya. 

Selain penurunan penjualan, faktor yang menyebabkan kerugian pada perusahaan yang masih terafiliasi dengan Grup Bakrie ini adalah kenaikan beban usaha yang mencapai lebih dari 50%. 

Bagaimanapun juga ketika harga minyak naik, diharapkan dapat mendongkrak top line perusahaan migas. Jika dibarengi dengan penguatan bottom line tentu ini akan semakin memperkuat fundamental perusahaan dan begitu juga harga saham serta valuasinya. 

Namun untuk kasus ENRG korelasinya cenderung sangat lemah dan bahkan tidak terlihat karena memang kinerja perusahaan yang tidak konsisten bahkan terus menurun meski harga minyak sudah sempat berangsur pulih. 

Well, pergerakan harga minyak masih bisa menjadi salah satu leading indicator yang cukup sensitif untuk memprediksi arah gerak saham-saham emiten migas nasional, terutama untuk kasus ELSA dan MEDC.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading