Internasional

Erdogan Bongkar Pasang Bos Bank Sentral, Mau Tiru Xi Jinping?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
31 March 2021 19:07
Recep Tayyip Erdogan. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, kembali memecat Deputi Gubernur bank sentral Turki, Central Bank of the Republic of Turkey (TCMB) pada Selasa (30/3/2021).

Adapun 10 hari yang lalu, Erdogan juga memecat gubernur TCMB, Nanci Agbal dan digantikan oleh Sahap Kavcioglu. Sejak Juli 2019, atau kurang dari 2 tahun, Erdogan sudah tiga kali memecat gubernur TCMB.

Nanci Agbal dipecat Erdogan tanpa memberikan alasan. Namun, pasar melihat pemecatan tersebut dilakukan akibat Agbal yang agresif menaikkan suku bunga.


Pada 2 hari sebelum dipecat, Agbal menaikkan suku bunga sebesar 200 basis poin menjadi 19%, yang merupakan suku bunga tertinggi sejak Juli 2018.

Seperti diketahui, Presiden Erdogan tidak suka bahkan bisa dikatakan benci dengan suku bunga tinggi.

"Suku bunga tinggi adalah biangnya setan," tegas Erdogan, seperti diberitakan Reuters, pada pertengahan Mei 2018.

Sementara itu Selasa kemarin, Deputi Gubernur Murat Cetinkaya yang dipecat dan digantikan oleh Mustafa Duman, bankir dari Morgan Stanley.

Pemecatan Cetinkaya tersebut membuat kurs lira Turki kembali merosot. Pada perdagangan Selasa kemarin lira merosot 1,7% menyentuh level terlemah 4 bulan.

Pada Senin (23/3/2021) lalu, kurs lira jeblok 8%, bahkan pada satu titik hingga lebih dari 13% sebagai respon atas pemecatan Nancy Agbal.

Turki mengalami masalah tingginya inflasi, yang membuat Agbal secara agresif menaikkan suku bunga. Langkah Agbal membuat kepercayaan pelaku pasar terhadap lira kembali pulih yang sejalan dengan menurunnya premi risiko utang yang dicerminkan oleh credit default swap (CDS) Turki. Semakin tinggi CDS, maka risiko gagal bayar semakin tinggi.

Tetapi seperti disebutkan sebelumnya, Erdogan tidak suka suku bunga tinggi, sehingga Agbal didepak, dan disusul Cetinkaya.

Sejak pemecatan Agbal, Deutsche Bank memberikan estimasi investor asing melepas sekitar US$ 750 juta hingga US$ 1 miliar dari pasar saham/ekuitas serta US$ 500 juta hingga US$ 750 juta dari obligasi Turki.

Guna menstabilkan pasar, pemerintah Turki dikatakan memiliki dua pilihan, dengan suku bunga atau menerapkan kebijakan pengendalian modal (capital control).

"Pemerintah memiliki dua pilihan, apakah itu menggunakan suku bunga untuk menstabilkan pasar, atau menerapkan capital control," kata Pe Hammarlund, ahli strategi di SEC Research, sebagaimana dilansir BBC, Selasa (31/3/2021).

Capital control merupakan kebijakan membatasi keluar masuknya modal di dalam negeri.

"Melihat pendekatan yang dilakukan oleh Erdogan, capital control merupakan pilihan yang mungkin diambil," tambahnya.

Meski demikian, penasehat ekonomi Erdogan ketika ditanya apakah akan menerapkan capital control guna menjaga stabilitas lira menyatakan tidak mempertimbangkan hal tersebut.

China merupakan salah satu negara yang menerapkan capital control.

Pemerintah China yang dipimpin Xi Jinping membatasi pada investor China untuk berinvestasi di perusahaan asing, membeli properti di luar negeri, hingga membatasi jumlah uang yang bisa ditransfer keluar dari China. Dengan kebijakan tersebut, China mampu menjaga stabilitas nilai tukar yuan, dan cadev yang dimiliki.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading