Dolar AS Keok di Asia, Tapi Rupiah kok Terpuruk?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
31 March 2021 15:48
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (31/3/2021), dan mencatat pelemahan dalam 3 hari beruntun. Rupiah terpuruk di saat mayoritas mata uang utama Asia menguat melawan dolar AS.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di Rp 14.470/US$. Setelahnya rupiah langsung merosot 0,66% ke Rp 14.565/US$.

Selepas tengah hari, rupiah berhasil memangkas pelemahan dan berakhir di Rp 14.520/US$, melemah 0,35%.


Dengan pelemahan tersebut, hingga pukul 15:13 WIB, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Selain rupiah ada yen Jepang dan baht Thailand yang melemah melawan dolar AS.

Sementara mata uang lainnya menguat. Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Fakta menguatnya mayoritas mata uang utama menunjukkan dolar AS sedang melemah. Tetapi rupiah justru terpuruk.

Capital outflow menjadi pemicu pelemahan rupiah. Di pasar saham, investor asing melakukan aksi jual bersih lebih dari Rp 1 triliun, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,4%.

Sementara itu di pasar obligasi juga kemungkinan terjadi hal yang sama, terlihat dari kenaikan yield. Melansir data Refinitiv, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 2 basis poin ke 6,814%.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, saat harga turun maka yield akan naik. Begitu juga sebaliknya. Ketika harga turun, artinya terjadi aksi jual yang mensinyalkan capital outflow.

Tidak hanya hari ini, sepanjang tahun 2021 juga terjadi capital outflow di pasar obligasi.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang tahun ini hingga 29 Maret lalu, terjadi capital outflow sebesar Rp 26 triliun di pasar obligasi. Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah melemah lebih dari 3%.

Naiknya yield obligasi (Treasury) AS menjadi pemicu capital outflow di pasar obligasi.

Ekspektasi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan, serta kenaikan inflasi membuat pelaku pasar melepas Treasury yang membuat yield-nya naik.

Alhasil, selisih yield Treasury dengan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit. Dengan status Indonesia yang merupakan negara emerging market, menyempitnya selisih yield membuat SBN menjadi kurang menarik, sehingga memicu capital outflow yang pada akhirnya menekan rupiah.

Menurut ekonom senior Chatib Basri, kondisi sekarang dinamakan tantrum without tapering alias pembalikkan atau gejolak sudah terjadi padahal The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan. Hal ini bisa terhenti atau tidak sangat bergantung pada kekuatan The Fed menjaga pergerakan pasar.

The Fed, kata Chatib mungkin akan mengambil langkah dengan intervensi pada yield Treasury. Caranya Bank Sentral membeli surat utang jangka panjang dari pasar. Tujuannya agar yield tidak terlalu tinggi.

"Kalau dilakukan maka ekspektasi inflasi bisa dikendalikan, itu berarti The Fed harus beli bond jangka panjang, harus stabilisasi," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/3/2021).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading