Latah Margin Call Menular ke RI, Saham-saham Bank Diobral!

Market - Putra, CNBC Indonesia
31 March 2021 07:20
Aksi panggung Kla Project di Gedung Bursa Efek Indonesia,  Jakarta, Rabu (28/272018). Aksi panggung Kla Project sekaligus menutup IHSG pada perdagangan akhir februari yang melemah 0,03% ke 6.597,22 poin.

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ambruk 1,55%, saham-saham perbankan yang menjadi tulang punggung indeks terpantau ambruk pada perdagangan Selasa kemarin (30/3/21).

Data BEI mencatat, saham perbankan besar alias bank BUKU IV (bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun) bergerak memerah pada perdagangan kemarin menyusul kabar bahwa BPJS Ketenagakerjaan akan mengurangi porsi saham dan reksa dana.

Selain itu, ada sentimen global di mana saham-saham sektor finansial tumbang akibat kasus Archegos Capital, perusahaan aset manajemen, yang terkena margin call.


Tercatat indeks finansial dalam negeri ambruk hingga 1,52%.

Simak gerak saham perbankan raksasa pada perdagangan kemarin.

Terpantau delapan perbankan raksasa yang sudah tergolong sebagai Bank BUKU IV hanya dua yang berhasil menghijau dan sisanya terkoreksi.

Kenaikan hanya dibukukan oleh oleh PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) alias Bank Panin yang melesat 1,84% ke level Rp 1.105/unit.

Selanjutnya di posisi kedua bank raksasa lain dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga sukses naik tipis 0,55% ke level Rp 31.975/unit.

Sedangkan koreksi paling parah dibukukan oleh perbankan raksasa yang tergabung dalam Himbara yakni, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang ambles 4,66% sedangkan di posisi kedua koreksi terparah diisi oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tersungkur 4,13%.

Anggota Himbara lainnya yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terpantau terkoreksi meski hanya tipis saja yakni 0,78% ke level Rp 6.325/unit.

Bank besar lain yang terpantau ambruk termasuk PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang koreksi 3,2% dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) yang ambruk 2,11%.

Tekanan bursa saham datang dari dalam negeri, yakni kebijakan manajemen BPJS Ketenagakerjaan yang akan mengurangi porsi investasi di saham dan reksa dana.

Diketahui BPJS merupakan salah satu investor institusi raksasa sehingga apabila porsi investasi dikerdilkan berpotensi adanya arus uang keluar dari pasar modal dalam jumlah yang lumayan.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan rencana pengurangan investasi tersebut dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dan Komisi IX DPR. Langkah ini dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT). Ada tiga strategi yang disampaikan BP Jamsostek.

"Pertama, strategi investasi dengan melakukan perubahan dari saham dan reksa dana ke obligasi dan investasi langsung sehingga bobot instrumen saham dan reksa dana semakin kecil," jelas Anggoro, Selasa (30/3/2021).

Selain itu sentimen global yakni badai margin call yang menimpa saham perbankan AS juga memicu kekhawatiran seputar efeknya terhadap pasar keuangan global.

Beberapa saham perbankan mengakui terkena forced sell (jual paksa) atas posisinya di short selling (jual kosong).

Memburuknya sentimen pelaku pasar terjadi akibat Archegos Capital yang terkena margin call. Archegos tidak mampu menyediakan tambahan jaminan saat broker memintanya.

Ada kekhawatiran situasi di Archegos bakal berdampak sistemik. Apalagi dua bank investasi global, Nomura dan Credit Suisse disebut-sebut sebagai kreditur Archegos dalam perdagangan di pasar derivatif, sehingga dua bank kelas 'paus' itu tentu akan kena getahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading