Efek IBC Pudar? Saham ANTM kena ARB & TINS-INCO Boncos

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
29 March 2021 18:05
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham pertambangan mineral berjatuhan pada penutupan perdagangan Senin (29/3/2021), terutama untuk saham nikel yang mayoritas mengalami pelemahan setelah diresmikannya pembentukan holding perusahaan baterai BUMN yaitu PT Indonesia Battery Corporation (IBC) oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir.

Investor lebih memilih sell on news dan melakukan aksi ambil untung (profit taking), setelah pada perdagangan Jumat lalu harga saham nikel melesat.

Simak pergerakan saham pertambangan mineral pada penutupan perdagangan hari ini.


Trio saham nikel menjadi pelemahan saham pertambangan yang paling parah pada penutupan perdagangan hari ini, di mana trio saham nikel tersebut yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Saham ANTM ditutup ambles hingga 7% ke level Rp 2.260/unit pada penutupan perdagangan hari ini dan menyentuh level auto rejection bawah yang diizinkan. Sementara saham TINS juga ambles 6,29% ke posisi Rp 1.640/unit dan saham INCO merosot 2,99% ke Rp 4.540/unit.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham ANTM mencapai Rp 1 triliun, sedangkan nilai transaksi saham TINS mencapai Rp 156 miliar dan nilai transaksi saham INCO mencapai Rp 178 miliar pada hari ini.

Asing menjual saham ANTM dan TINS. Di saham ANTM, asing tercatat menjual sebesar Rp 104,6 miliar di pasar reguler, sedangkan di saham TINS asing menjual sebanyak Rp 6,06 miliar di pasar reguler. Namun asing tercatat masih memburu saham INCO sebanyak Rp 16,7 miliar di pasar reguler.

Selain trio saham nikel, pelemahan terparah juga terjadi di saham pertambangan batu bara Grup Bakrie, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) yang ambles hingga 6,9% ke Rp 81/unit pada hari ini.

Tercatat nilai transaksi saham BRMS hari ini mencapai Rp 17 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 215 juta lembar saham. Namun, investor asing masih mengoleksi saham BRMS sebesar Rp 194 juta di pasar reguler.

Sedangkan pelemahan paling minor dibukukan oleh saham pertambangan bijih besi, PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) yang melemah 0,78% ke posisi Rp 128/unit pada hari ini.

Adapun nilai transaksi saham ZINC mencapai Rp 20,5 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 159 juta lembar saham. Investor asing tercatat melakukan aksi jual (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 778 juta.

Baik di saham pertambangan nikel maupun non-nikel, pelemahan hari ini lebih diakibatkan oleh aksi jual investor (profit taking).

Khusus saham nikel, investor cenderung melakukan sell on news, setelah setelah diresmikanya pembentukan holding perusahaan baterai BUMN yaitu PT Indonesia Battery Corporation (IBC) oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir dan membuat saham nikel sendiri melesat pada perdagangan akhir pekan lalu.

Sebelumnya sentimen positif untuk sektor nikel dalam negeri datang melalui sentimen dibentuknya IBC, di mana pendirian perusahaan patungan antara empat BUMN ini disebut menelan biaya investasi hingga Rp 238 triliun.

Masing-masing perusahaan BUMN yang terlibat yaitu PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero)/Inalum alias MIND ID, anak usahanya ANTM, Pertamina dan PLN akan menguasai 25% saham IBC.

IBC rencananya ingin memiliki kapasitas mencapai 140 giga watt hour (GWh) dan 50 GWh diantaranya akan bisa diekspor. Lalu sisanya digunakan untuk produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyebutkan IBC akan bekerja sama dengan dua produsen baterai yakni China's Contemporary Amperexc Technology (CATL) dan LG Chem Ltd.

Menurutnya tidak kalah penting untuk mengharapkan adanya alih teknologi dalam kerjasama ini. Dia menuturkan dalam perjanjian terdapat mengenai stabilitas pasokan baterai listrik di dunia untuk kebutuhan energi terbarukan dan power listrik di rumah.

Terbentuknya IBC, menurut Erick adalah transformasi kemajuan Indonesia di masa depan. Covid-19 juga dinilai mempercepat proses transformasi untuk industri baterai listrik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading