Grup Salim hingga Djarum Getol Akuisisi, Sinyal Apa Ini?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
24 March 2021 17:35
Axton Salim. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah konglomerasi besar di Tanah Air mulai agresif melakukan aksi korporasi melalui skema penggabungan usaha (merger) maupun akuisisi perusahaan.

Ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat usai pandemi menjadi pemicu banyaknya konglomerasi getol melakukan aksi korporasi.

Grup Salim, misalnya pada kuartal pertama di tahun ini menyelesaikan dua transaksi penting. Pertama, melalui anak usahanya yang bergerak di bisnis asuransi, PT Indolife Pensiontama, Grup Salim memborong saham bank milik pengusaha dan pendiri CT Corp Chairul Tanjung yakni PT Bank Mega Tbk (MEGA) di awal tahun ini.


Grup Salim tercatat membeli sebanyak 422.807.744 saham saham Bank Mega.

Pembelian saham ini terjadi dalam tiga kali transaksi atau setara 6,07% kepemilikan saham bank bersandi saham MEGA tersebut yang nilainya diproyeksikan mencapai Rp 2,95 triliun sampai dengan Rp 3,04% bila merujuk pada harga penutupan perdagangan saham MEGA pada 29-30 Desember 2020 di rentang harga Rp 7.000 dan Rp 7.200 per saham.

Berikutnya, emiten produsen mie instan dengan merek dagang Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memborong sebanyak 49% saham atau senilai Rp 494 miliar PT Indofood Fritolay Makmur (IFL) yang dimiliki Fritolay Netherlands BV Februari lalu.

Aksi ini sebetulnya menjadi bagian dari upaya IFL mengakhiri perjanjian dengan PepsiCo Inc.

Tak hanya itu, Chairul Tanjung, melalui PT Mega Corpora juga mengakuisisi 73,71% saham PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) senilai Rp 460,7 miliar pada Maret. Akuisisi ini sebagai jalan Grup CT Corp melenggang di persaingan bank digital.

Sementara itu, Grup Saratoga milik Menteri Parekraf Sandiaga Uno dan pengusaha Edwin Soeryadjaya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menargetkan akuisisi 3.000 menara milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST).

Nilai akuisisi menara itu senilai Rp 3,97 triliun dan ditargetkan selesai pada akhir kuartal I-2021. Tak hanya itu, Tower Bersama juga berminat mengikuti lelang 4.000 menara telekomunikasi yang akan dilepas oleh PT Indosat Tbk (ISAT).

Menanggapi gencarnya konglomerasi tanah air melakukan merger maupun akuisisi, Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, menilai fenomena ini terjadi seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi yang diproyeksikan lebih cepat setelah pandemi Covid-19 yang memporak-porandakan perekonomian sepanjang tahun 2020.

Terlebih lagi, kata Alfred, saat ini harga aset cenderung murah dan menjadi momentum yang tepat bagi konglomerasi melakukan merger maupun akuisisi.

"Ketika ekonomi tumbuh, biasanya banyak yang melakukan ekspansi, salah satunya melalui merger dan akuisisi," ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (24/3/2021).

Alfred juga menambahkan, merger dan akuisisi di sektor perbankan diyakini akan lebih marak sampai dengan tahun 2022 sejalan dengan ketentuan modal inti minimal bank menjadi sebesar Rp 3 triliun baik melalui skema penambahan modal dari pemilik maupun dengan mengundang investor lain.

"Di sisi lain, ini jadi momentum yang bagus mereka melihat peluang setelah mengalami krisis secara global, penyebanya bukan karena finansial, tapi karena faktor pandemi Covid-19. Memang faktor seperti ini terlihat pemulihan ekonomi akan sangat cepat," bebernya.

Menurutnya, akselerasi pemulihan ekonomi akan menjadi fokus perhatian pelaky pasar pada tahun ini. Hal ini mengingat tanda-tanda pemulihan di negara-negara maju sudah mulai terlihat seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan China. "Kalau kita belum recovery, kita akan semakin tertekan," tandas Alfred.

Selain grup-grup di atas, satu lagi yakni Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga berminat melakukan akuisisi dalam hal ini menara telekomunikasi milik ISAT.

Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari mengatakan menambah jumlah menara telekomunikasi, baik organik maupun anorganik merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan. Sehingga perusahaan akan mengambil peluang dan mengevaluasi kesempatan yang ada.

"Strategi bisnis TOWR memang mencakup tumbuh dengan organik atau inorganik. jadi kami selalu berusaha untuk mengevaluasi setiap kesempatan ya," kata Adam dalam pesan singkatnya kepada CNBC Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading