Pandemi 2020, Laba Bersih ADRO Jeblok 64%, Gegara Apa?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
15 March 2021 10:38
FILE PHOTO: The logo of PT Adaro Energy as seen at PT Adaro Energy headquarters in Jakarta, Indonesia, October 20, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pertambangan batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan penurunan laba bersih secara signifikan sepanjang tahun lalu di tahun pandemi Covid-19.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2020, laba bersih ADRO tercatat merosot 63,64% menjadi US$ 146,93 juta atau setara dengan Rp 2,05 triliun (Kurs 1 US$ = Rp 14.000).

Adapun pada tahun sebelumnya, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar US$ 404,19 juta atau setara Rp 5,65 triliun


"Kinerja kami mencerminkan resiliensi model bisnis yang terintegrasi, berkat fokus pada efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh lini bisnis. Walaupun harus menghadapi banyak tantangan, dari pandemi global sampai cuaca yang tidak mendukung, kami mampu memenuhi panduan produksi batu bara dan EBITDA operasional yang telah direvisi," kata Presiden Direktur dan CEO ADRO Garibaldi 'Boy' Thohir, dalam siaran pers, dikutip Senin (15/3/2021).

Boy Thohir melanjutkan, perusahaan akan tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang ada, sembari memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi global akan membawa dampak positif terhadap industri.

"Kami tetap berfokus untuk meningkatkan keunggulan operasional, pengendalian biaya, dan efisiensi, serta melanjutkan eksekusi terhadap strategi demi kelangsungan bisnis," kata Boy Thohir.

Penurunan laba tersebut dibarengi dengan penurunan pendapatan sebesar 26,67% dari US$ 3,46 miliar atau Rp 48,40 triliun pada 2019 menjadi US$ 2,53 miliar atau Rp 35,49 triliun pada tahun lalu.

Menurut manajemen perusahaan, penurunan pendapatan usaha turun karena penurunan 18% pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan penurunan sebesar 9% pada volume penjualan.

Lebih lanjut, perusahaan mencatat penurunan 6% pada volume produksi menjadi 54,53 juta ton. Angka ini sedikit lebih tinggi daripada panduan tahun 2020 yang telah direvisi menjadi sebesar 52-54 juta ton.

"Kondisi makro dan industri yang sulit akibat pandemi COVID-19 memberikan tekanan yang besar terhadap permintaan batu bara dan harga batu bara global pada tahun 2020," tulis manajemen dalam rilis berita perusahaan.

Bila dirinci, pendapatan ADRO bersumber dari pihak ketiga dan pihak berelasi. Dari pihak ketiga, penjualan batu bara pada 2020 berkontribusi sebesar US$ 2,34 miliar.

Dari penjualan batu bara ini, ekspor batu bara mencatatkan sumbangsih US$ 1,8 miliar, sementara penjualan batu bara domestik membukukan pendapatan US$ 536,56 juta.

Kemudian, pendapatan sepanjang tahun lalu dari jasa pertambangan sebesar US$ 122,64 juta, diikuti dengan kategori lainnya sebesar US$ 47,05 juta.

Sementara, dari pihak berelasi, penjualan batu bara domestik menyumbang pendapatan US$ 26,82 juta. Sisanya, kategori lainnya dari pihak relasi mencatatkan pendapatan usaha US$ 1,04 juta.

Adapun, pelanggan ADRO dengan transaksi pendapatan lebih dari 10%, yakni perusahaan asal negeri jiran Malaysia, TNB Fuel Services Sdn. Bhd. TNB, sebagai pihak ketiga, mencatatkan berkontribusi sebesar US$ 349,43 juta.

Tetapi, total aset perusahaan turun 11,58% menjadi US$ 6.38 miliar pada tahun lalu, dari sebelumnya US$ 7.22 miliar

Setali tiga uang, liabilitas ADRO juga turun 24,77% menjadi US$ 2,43 miliar. Pada 2019, liabilitas ADRO berada di posisi US$ 3,23 miliar.

Ekuitas perusahaan pun ikut turun tipis 0,53% dari US$ 3,73 miliar pada 2019 menjadi US$ 3,71 miliar pada tahun lalu.

 

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading