Eks Bos Bursa Bandingkan ARTO vs TLKM dkk, Apa Katanya?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
15 March 2021 09:17
Telkom Landmark Tower building, the headquarters of Indonesia's largest telcommunications services company PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), is seen in Jakarta, April 30, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang melesat 268% dalam 3 bulan terakhir sampai Jumat (13/3) pekan lalu di level Rp 11.375/saham membuat para pelaku pasar dan investor kawakan di pasar modal buka suara, salah satunya Hasan Zein Mahmud, Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode pertama (1991-1996).

Mantan Dirut Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) era 2003 ini menilai pergerakan ARTO luar biasa mengingat dari harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) Rp 132/saham pada 5 tahun lalu, kini sahamnya meroket di level tertinggi Rp 11.900/saham di awal tahun ini.

Sebagai catatan, bank yang dulu bernama PT Bank Artos Indonesia Tbk. ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (12/1/2016). Bank yang sebelumnya berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat, ini menjadi emiten ke-522 saat itu dengan mencatatkan 1,19 miliar saham dengan kapitalisasi Rp 157,63 miliar.


Penjamin emisinya saat itu PT Binaartha Parama dan PT Erdikha Elit Sekuritas. Kala itu ARTO menawarkan saham baru sebanyak 241,25 juta dan mencatatkan 952,93 juta saham perseroan, sehingga total saham yang dicatat di BEI sebanyak 1,19 miliar saham dengan harga IPO Rp 132/saham.

Perseroan mengantongi dana Rp 31,84 miliar dari gelaran IPO dengan total kapitalisasi pasar Rp 157,63 miliar. Kini harga sahamnya Rp 11.375/saham sehingga sahamnya sudah melesat 8.517% dan kapitalisasi pasar Rp 124 triliun.

"Kenaikan hampir 100 kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun. Lebih fenomenal ketimbang saham TSLA [saham Tesla di Nasdaq]. Lebih spektakuler dari BERK.A [Saham Class A Berkshire Hathaway] yang harga sahamnya pernah mencapai US$ 4.000 per saham [Rp 56 juta/saham]," kata Hasan, dalam tulisannya, dikutip CNBC Indonesia, Senin (14/3/2021).

"ARTO memang spektakuler. Dari bank papan bawah yang tidak dilirik, menyodok menjadi saham berkapitalisasi di atas Rp 100 triliun. Menyalip BBNI [Bank Negara Indonesia], BRIS [Bank Syariah Indonesia], INDF [Indofood Sukses Makmur] dan CPIN [Charoen Pokphand Indonesia] dan banyak lagi. Meraup lebih dari Rp 7 triliun dari emisi HMETD [rights issue] yang jadi rebutan," katanya lagi.

Dia menjelaskan, berdasarkan data BEI, gerak ARTO memang fantastis. Jika menggunakan PBV (price to book value) sebagai tolok ukur konvensional sektor perbankan, PBV ARTO lebih dari 100 kali. Price Earning Ratio-nya atau PER minus 651 x, dan net profit margin (NPM) minus 164%.

"Saya jujur sama sekali tidak berani membeli saham ARTO. Ilmu saya belum sampai ke tingkat itu. Boleh jadi tolok ukur konvensioanl tak layak digunakan untuk bank digital. Boleh jadi perusahaan rintisan, atau "dirintis secara sistematis" memang memiliki potensi pertumbuhan eskponensial," katanya.

"Boleh jadi pengguna jasa Gojek yang berjumlah 38 juta akan serta merta menjadi nasabah ARTO, lalu ditambah dengan pengguna jasa Tokopedia, sehingga nasabah ARTO akan jauh melampaui jumlah nasabah bank manapun di Indonesia."

"Boleh jadi tiap nasabah akan mengendapkan saldonya di ARTO dalam rata rata tidak kurang dari US$ 700. Boleh jadi pelanggan Gojek dan Tokopedia sebagian besar akan menjadi debitur ARTO, tanpa macet. Boleh jadi kumulatif kerugian selama empat tahun terakhir, akan segera ditutup dengan keuntungan seketika, begitu ARTO berkawin dengan Gojek," jelasnya lagi.

Sebab itu, dia meyakini ada analisis lain yang di luar konvensional dan membuatnya belum berani masuk ke saham ARTO.

"Masih banyak boleh jadi yang lain. Membuat saya makin takut. Ilmu saya belum sampai ke tingkat itu."

Sebab itu, Hasan membandingkannya dengan saham BUMN PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

NEXT: Analisis digitalisasi

Antara ARTO, TLKM & BBRI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading