Terbangnya Sudah Gak Karuan, Harga CPO Lemas Dulu Hari Ini

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
10 March 2021 12:55
FILE PHOTO: A truck carrying oil palm fruits passes through Felda Sahabat plantation in Lahad Datu in Malaysia's state of Sabah on Borneo island, February 20, 2013. REUTERS/Bazuki Muhammad/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terkoreksi pada perdagangan hari ini, Rabu (10/3/2021). Penurunan harga yang terjadi merupakan salah satu bentuk koreksi sehat karena sebelumnya harga CPO sudah terbang ke level tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Harga kontrak futures (berjangka) CPO pengiriman Mei yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 0,79% dibanding posisi perdagangan kemarin. Harga CPO drop ke RM 3.884/ton pada sesi istirahat siang ini.

Kemarin harga CPO ditutup di RM 3.915/ton. Harga minyak nabati dari kelapa sawit itu berada di posisi tertingginya sejak 12 Februari 2011. Namun seperti biasa, setelah terbang terus menerus, harga cenderung rawan koreksi karena adanya aksi ambil untung.


Namun harga tidak terlalu ambles karena data stok minyak sawit Negeri Jiran mengalami penurunan. Stok minyak sawit Malaysia turun 1,8% pada Februari dari bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena produksi yang lebih rendah.

Persediaan di Malaysia, produsen minyak sawit terbesar dunia setelah Indonesia itu berjumlah 1,3 juta ton bulan lalu. Sebelumnya stok berada di 1,32 juta ton pada Januari.

Ekspor turun 5,5% menjadi 895.556 ton dari 947.395 ton di bulan sebelumnya. Sementara produksi menyusut menjadi 1,11 juta ton pada Februari dari 1,13 juta ton pada Januari.

Meskipun begitu harga CPO masih mendapat katalis positif dari implementasi program biodiesel. Setelah pelaksanaan program biodiesel B20 di Negeri Jiran tertunda, ada kabar yang menyebut bahwa program tersebut akan dimulai bulan Juni tahun ini.

Pemerintah Malaysia bertujuan untuk meluncurkan program biodiesel B20 di Sabah pada bulan Juni dan di Semenanjung Malaysia mulai Desember. Hal tersebut dikatakan oleh Sekjen Kementerian Perindustrian Malaysia Ravi Muthayah kepada NewsRise dalam sebuah wawancara.

Awalnya, program yang mengacu pada 20% campuran minyak sawit dalam bahan bakar untuk sektor transportasi, dijadwalkan akan diluncurkan di Sabah mulai 1 Januari tahun ini dan di Semenanjung Malaysia mulai 15 Juni.

Inisiatif tersebut, telah dilaksanakan di Sarawak mulai September. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan konsumsi minyak nabati di produsen komoditas terbesar kedua di dunia tersebut.

Pelaksanaan penuh program Biodiesel B20 untuk sektor transportasi di seluruh Malaysia diharapkan dapat mengkonsumsi 1,06 juta ton minyak sawit mentah setiap tahun dan juga membantu dalam memangkas intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 3,2 juta ton ekuivalen karbon dioksida per tahun, sebagaimana diwartakan Reuters.

Beralih ke dalam negeri, BUMN energi yakni PT Pertamina (Persero), telah menetapkan target untuk memulai produksi diesel hijau dan bahan bakar turbin penerbangan hijau (avtur) di kilang Cilacap pada akhir 2021.

Kilang hijau yang berlokasi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tersebut memiliki kapasitas produksi tiga ribu barel solar hijau per hari dan enam ribu barel per hari untuk jenis avtur.

Pada Januari 2021, Pertamina telah menguji produksi green diesel yang menggunakan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Melansir Reuters, Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah tiga ribu barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember. Tahap kedua, Pertamina akan mengolah enam ribu barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022 akhir.

Pada April 2020, Pertamina sudah mulai memproduksi green bensin di green refinery di Plaju, Sumatera Selatan, dengan tingkat oktan sama dengan Pertamax.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading