Analisis

Nestapa Astra: Otomotif Loyo, Saham Ambruk, Asing Kabur Rp2 T

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 March 2021 12:30
Menara Astra

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham induk usaha konglomerasi Grup Astra, PT Astra International Tbk (ASII) tercatat anjlok selama sebulan terakhir dan sejak awal tahun alias year to date (ytd) di tengah belum pulihnya kinerja sektor yang menjadi penopang terbesarnya: otomotif.

Amblesnya saham ASII seiring adanya tekanan jual asing dan kinerja perusahaan yang merosot sepanjang tahun lalu.

Pada hari ini, Rabu (10/3) pukul 10.44 WIB, saham produsen brand mobil Toyota ini tersungkur 1,36% ke Rp 5.450/saham dengan nilai transaksi Rp 113,83 miliar. Pada penutupan perdagangan sesi I, saham ASII minus 1,81% di level Rp 5.425/saham.


Dengan demikian, selama sebulan, saham induk United Tractors (UNTR) ini sudah menyusut 6,87%, sementara secara year to date (YTD) saham ini sudah merosot 10%. Tercatat asing melakukan net sell sebesar Rp 45,99 miliar di sesi I.

Merosotnya saham ASII ini diikuti oleh aksi jual bersih asing sebesar Rp 2,36 triliun selama sebulan terakhir. Kemudian, secara YTD, asing juga tercatat ramai-ramai melego saham emiten yang didirikan pada 1957 ini Rp 1,51 triliun.

Sebelumnya, pada 26 Februari 2021, ASII melaporkan laba bersih perseroan yang drop 26% menjadi Rp 16,16 triliun pada 2020, dibandingkan 2019 yang tercatat sebesar Rp 21,71 triliun.

Laba bersih di atas dihitung setelah memasukkan keuntungan dari penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebesar Rp 5,88 triliun. Dengan demikian, tanpa memasukkan keuntungan dari penjualan saham tersebut, laba bersih Grup Astra terjun sebesar 53% menjadi Rp 10,3 triliun

Penurunan laba bersih Astra disebabkan karena penurunan pendapatan bersih sebesar 26% menjadi Rp 175,05 triliun dari Rp 237,17 triliun pada periode waktu yang sama.

"Pendapatan dan laba bersih grup Astra (Grup) pada tahun 2020 menurun akibat dampak dari pandemi Covid-19 dan upaya penanggulangannya. Grup terus beroperasi di tengah kondisi yang menantang, dan masih terdapat ketidakpastian mengenai kapan pandemi akan berakhir," kata Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro, melalui siaran persnya.

Djony menambahkan kondisi ini akan berlangsung selama beberapa waktu dan masih terlalu dini untuk memprediksi dampak pandemi terhadap kinerja Grup pada tahun 2021.

"Pada masa yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian ini, saya ingin berterima kasih kepada segenap karyawan kami atas kerja keras, dedikasi, dan profesionalisme mereka."

Dengan demikian, laba bersih per saham menurun 53% (belum termasuk keuntungan dari penjualan saham Bank Permata) menjadi Rp 255 dari Rp 536.

Penurunan kinerja Astra, disebabkan oleh merosotnya laba bersih divisi otomotif sebesar 68%. Penurunan laba sektor otomotif ini karena penjualan mobil menurun 50% menjadi 270.000 unit dengan pangsa pasar juga sedikit mengalami penurunan. Sementara penjualan sepeda motor turun 41%, tapi pangsa pasar yang meningkat.

Selain itu, bisnis komponen otomotif melalui anak usaha, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), mencatatkan penurunan laba bersih yang sangat signifikan sebesar 99,73% dari Rp 740 miliar menjadi Rp 2 miliar pada tahun 2020.

Anjloknya laba AUTO terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari segmen pabrikan, pasar suku cadang pengganti dan segmen ekspor.

Laba bisnis industri jasa keuangan anak usaha Astra juga anjlok 44% akibat perusahaan harus melakukan peningkatan provisi kerugian kredit bermasalah pada bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat

Kemudian, di anak usaha pertambangan, penurunan harga batu bara mempengaruhi penjualan alat berat dan volume kontraktor penambangan juga mempengaruhi pendapatan perseroan. laba bersih ASII dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menurun sebesar 49% menjadi Rp3,4 triliun.

Di sektor agribisnis, anak usaha perseroan diuntungkan oleh harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi, di mana posisi neraca keuangan dan pendanaan yang kuat. Laba bersih dari divisi agribisnis mencapai Rp664 miliar, meningkat secara signifikan Rp 295,23 miliar dibandingkan laba bersih pada tahun 2019 sebesar Rp 168 miliar.

Sebagai informasi, pada 20 Mei 2020, ASII resmi melepas 44,56% atau sebanyak 12,49 miliar saham Bank Permata kepada Bangkok Bank. Dari transaksi tersebut, Astra International mendapatkan dana segar sekitar Rp 16,38 triliun.

Seperti diketahui, Astra menjadi pemegang saham Bank Permata dengan porsi yang sama dengan Standar Chartered Bank

Pada akhir Desember 2019, Bangkok Bank mengumumkan rencana mencaplok Bank Permata atas saham yang dimiliki oleh Standchart dan Astra itu.

Pada awal Maret 2019, Bangkok Bank telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk mengambilalih 89,12% saham Bank Permata yang digenggam keduanya.


Dengan melihat perkembangan penjualan otomotif yang belum signifikan di awal tahun, Astra punya beban besar guna menggenjot kinerja bisnisnya kendati dari lini bisnis komoditas bisa terbantu dengan kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO), dan batu bara, serta emas. Jangan lupa, Astra didukung bisnis dari PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan UNTR di tambang batu bara dan emas.

Hanya saja di lini bisnis otomotif tekanan masih ada kendati ada sentimen positif DP 0% untuk pembelian mobil dan pemberlakuan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Tahun ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi penjualan mobil akan mengalami kenaikan lebih dari 50% dibanding tahun 2019. Kenaikan ini seiring dengan kembali membaiknya perekonomian dalam negeri yang ditargetkan pemerintah bisa tumbuh 3%-5% tahun ini.

Gaikindo memperkirakan jumlah mobil yang akan terjual pada 2021 bisa mencapai 750 ribu unit.

Bahkan, penjualan pada Februari lalu, jelang pemberlakuan relaksasi PPnBM di awal Maret,membuat penjualan mobil pada Februari lalu anjlok. Banyak masyarakat yang lebih menunggu beberapa pekan demi bisa mendapat diskon belasan hingga puluhan juta. Akibatnya, penjualan bulan Februari sulit tertolong.

"Februari turun sekitar 7% dibanding Januari karena di tengah ada pengumuman itu orang pasti nunggu kebijakan itu keluar. Wholesales atau dari pabrik ke diler ada 49.202, sementara penjualan retail ada 46.943 unit," kata Sekjen Gaikindo, Kukuh Kumara.

Pada Januari 2021 penjualan wholesales sempat mencapai 52.910 unit. Namun, penjualan pada Februari merupakan tren penurunan selama 2 bulan berturut-turut. Pasalnya, pada Desember menuju Januari pun ada penurunan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Industri Otomotif Amburadul 2020, Saham ASII Tertekan Dalam


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading