Sekali Lagi Maaf! Tesla Tak Investasi Mobil Listrik di RI

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
09 March 2021 09:04
FILE PHOTO: A Tesla Model X vehicle is charged by a supercharger outside a Tesla electric car dealership in Sydney, Australia, May 31, 2017.  REUTERS/Jason Reed/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Komunikasi antara pemerintah Indonesia dengan Tesla Inc, pabrikan mobil listrik yang tercatat di Bursa Nasdaq dengan kode saham TSLA ini masih terus berlangsung. Namun komunikasi yang dilakukan bukan membicarakan rencana investasi pabrik mobil listrik di Tanah Air.

Investasi yang dibicarakan adalah di Energy Storage System (ESS). Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Investasi dan Pertambangan Kemenko Maritim dan Investasi (Marves) Septian Hario Seto.

Dia mengatakan investasi ESS telah dilakukan Tesla di Australia. Ini menjadi solusi untuk mengganti pembangkit listrik dengan sistem peaker, yang biasa digunakan saat permintaan listrik sedang tinggi.


"Dengan Tesla memang mereka juga melihat ESS yang mereka bangun di Australia. Ini solusi namun lebih arahnya untuk pengganti pembangkit yang peaker," paparnya dalam acara Future Energy Tech and Innovation Forum 2021 yang diselenggarakan Katadata secara virtual, Senin, (08/03/2021).

Lebih lanjut Septian mengatakan jika investasi ESS Tesla di Australia berjalan sukses, dan mereka menawarkan opsi-opsi tersebut di Indonesia.

"Mereka sukses di Australia, dan mereka terus terang tawarkan opsi-opsi ke Indonesia. Seperti inilah satu diskusi kami dengan Tesla," jelasnya.

Sebagai informasi ESS ini seperti 'power bank' dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan mega watt (MW). Selain itu bisa juga dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Adapun salah satu bentuknya yakni Battery Energy Storage System (BESS). Menurut definisi ITB, BESS banyak digunakan sebagai sumber penyedia/penyimpan energi baik untuk aplikasi bergerak seperti kendaraan listrik ataupun untuk aplikasi stasioner seperti peralatan telekomunikasi, data center, pembangkit listrik energi terbarukan, dan sistem kompleks seperti smart microgrid.

Sebelumnya Tesla dikabarkan akan segera membangun pabrik mobil listriknya di Selatan India, Karnataka, pada tahun 2021. Hal tersebut membuat publik di negara ini menerka-nerka, apakah artinya perusahaan milik Elon Musk ini menghentikan rencana investasinya di Indonesia.

Bila mencermati penjelasan awal dari pihak pemerintah, tim percepatan baterai kendaraan listrik, bahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam pembentukan Indonesia Battery Holding yakni PT Pertamina (Persero), Tesla disebutkan masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia, namun di sektor berbeda dari rencana investasinya di India tersebut.

Bila di India disebutkan mereka akan berinvestasi di pabrik mobil listrik, sementara di Indonesia dikabarkan mereka lebih berminat untuk berinvestasi di sistem penyimpanan energi atau ESS) atau seperti 'power bank' raksasa.

Berita Tesla masuk ini sempat menaikkan saham-saham emiten nikel di pasar modal. Namun setelah ada kabar Tesla di India, saham-saham nikel sempat berguguran.

Pada perdagangan Senin kemarin (8/3), saham-saham emiten nikel memang tergerus. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) misalnya ditutup minus 5,79% di posisi Rp 2.280/saham dan year to date naik 18%.

Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga ambles 6,21% di posisi Rp 4.830/saham dan year to date minus 5,29%, begitu pula saham PT Timah Tbk (TINS) turun 5,29% di level Rp 1.790/saham meski year to date naik 21%.

Adapun saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang mulai masuk bisnis nikel juga terjerembab 3,32% di posisi Rp 5.100/saham kendati year to date melesat 71%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading