Internasional

Bukan ANTM atau INCO, Tesla Bidik Pemasok China Ini!

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
17 May 2021 06:31
Pabrik Tesla/Dok Laporan Keuangan Tesla Q1-2021

Jakarta, CNBC Indonesia - Tesla Inc, pabrikan mobil listrik asal AS yang sahamnya tercatat di Bursa Nasdaq, dikabarkan sedang melakukan perundingan dengan pembuat baterai China, EVE Energy Co Ltd, untuk kesepakatan pasokan baterai berbiaya rendah.

Mengutip dari Teslarati, Senin, (17/5/2021) EVE terkenal karena memproduksi sel Lithium Iron Phosphate Battery (LFP) yang terjangkau untuk diproduksi, tapi pada umumnya memiliki jangkauan yang lebih pendek dari baterai nickel cobalt aluminum (NCA) yang juga digunakan oleh Tesla.

Baterai LFP adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang menggunakan LiFePO4 sebagai bahan katodanya.


Sebagai catatan, EVE Energy Co tercatat di Bursa Shenzhen dengan kode saham 300014 dan berkantor pusat di Tiongkok. Anak usaha di antaranya yakni Hubei EVE Power Co ltd.

Baterai jenis LFP Tesla sejauh ini dipasok oleh Contemporary Amperex Technology Co (CATL). EVE Energy bisa menjadi pemasok kedua Tesla untuk baterai LFP.

Berdasarkan sumber anonim dari Reuters disampaikan jika pembicaraan mengenai hal tersebut sudah maju, Tesla ingin menyelesaikan kemitraan tersebut pada kuartal ketiga.

Salah satu sumber juga mencatat bahwa EVE Energy sekarang menjalankan beberapa tes tahap akhir untuk baterai LFP yang berpotensi digunakan Tesla. Sayangnya sampai saat ini dari kedua pihak baik EVE maupun Tesla belum ada yang berkomentar.

Sementara itu, CEO Tesla Elon Musk mengaku sangat terbuka mengenai kebutuhan perusahaan demi keamanan pasokan baterai. "Saya ingin sangat jelas, Tesla ingin meningkatkan pembelian dari pemasok sel," ujarnya.

Pasokan yang lebih besar untuk baterai berbiaya rendah di China kemungkinan akan berperan dalam meningkatkan kemampuan Tesla untuk memproduksi lebih banyak kendaraan pangkalannya di Gigafactory Shanghai.

Jika EVE Energy menjadi pemasok, maka Tesla akan bisa menuju produksi 20 juta kendaraan di seluruh dunia per tahun sebelum 2030.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia juga tengah mengarah pada upaya penyediaan baterai mobil listrik. Menteri BUMN Erick Thohir, memastikan megaproyek baterai listrik di Indonesia tetap berjalan. Hal ini disampaikan setelah Erick melakukan kunjungan kerja ke Wuyi, China, April lalu.

Erick bertemu dengan perwakilan dari CBL, konsorsium Tiongkok yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology, Brunp, dan Lygend. Konsorsium ini bermitra dengan konsorsium BUMN yang terdiri dari MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Antam Tbk (ANTM( untuk pengembangan EV Battery dengan total investasi mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 72 triliun (Rp 14.400/US$.)

"Saya ingin memastikan, bahwa CBL berkomitmen untuk kerjasama ini dan segera menindaklanjuti nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya. Saya tegaskan, proyek investasi ini didukung penuh oleh pemerintah karena akan memberikan nilai tambah yang besar bagi sektor pertambangan kita," kata Erick, dalam keterangannya.

Adapun MIND ID atau PT Inalum (Persero) juga membawahi dua emiten tambang lain selain Antam yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS), serta punya 20% saham di emiten nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading