Insentif PPN 0% Ga Ngefek! Saham Properti Babak Belur Lagi

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
04 March 2021 09:37
Suasana Perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) di Cibarengkok  Pengasinan, Kec. Gn. Sindur, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/2/2020). PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk pada tahun 2020 meningkatkan layanan transaksi digital untuk menggaet calon debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti pada awal perdagangan sesi pertama Kamis (4/3/2021) kembali berguguran, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan bursa saham global maupun regional (Asia).

Insentif yang diberikan oleh pemerintah ke sektor properti dalam bentuk relaksasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pun tak lagi manjur untuk kembali mengangkat saham-saham properti. Sehingga dalam 3 hari belakangan, saham properti pun lesu.

Ada setidaknya delapan saham properti yang pergerakannya kembali terkoreksi dalam pada perdagangan awal sesi I hari ini pukul 09:10 WIB. Adapun kedelapan saham properti tersebut yakni.


Berdasarkan data dari RTI, saham PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL) meduduki posisi pertama dalam pelemahan saham properti pagi hari ini. Saham POLL sendiri ambles 4,09% ke level Rp 4.450/unit pada pukul 09:10 WIB.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham POLL awal perdagangan sesi I hari ini mencapai Rp 942.5 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 211 ribu lembar saham. Investor asing melakukan aksi beli bersih (net bey) di pasar reguler sebesar Rp 120,77 juta.

Selanjutnya di posisi kedua terdapat saham pemilik kawasan industri Suryacipta, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang juga merosot 2,57% ke posisi Rp 492/unit pada pagi hari ini.

Nilai transaksi saham SSIA pagi ini mencapai Rp 6,6 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 13,4 juta lembar saham. Tak seperti saham POLL, investor asing malah melakukan aksi jual bersih (net sell) di saham SSIA melalui pasar reguler sebanyak Rp 82,85 juta.

Berikutnya di posisi ketiga diduduki oleh saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang terkoreksi 2% ke posisi Rp 1.225/unit pada awal perdagangan sesi I Kamis ini.

Tercatat nilai transaksi BSDE sudah mencapai Rp 2,5 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 2 juta lembar saham. Senada dengan saham SSIA, asing juga melakukan net sell di saham BSDE melalui pasar reguler sebanyak Rp 530,4 juta.

Sementara itu, pelemahan paling minor atau yang menduduki posisi kedelapan dibukukan oleh saham pemilik komplek perumahan Summarecon, yakni PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang melemah 0,57% ke Rp 875/unit.

Adapun nilai transaksi saham SMRA telah mencapai Rp 2,6 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 3 juta lembar saham. Seperti saham POLL, asing juga tercatat melakukan net buy sebesar Rp 766,4 miliar di pasar reguler pagi hari ini.

Relaksasi PPN sektor properti tampaknya masih tidak terlalu berpengaruh besar ke harga saham emiten properti, di mana saham properti sendiri sudah mulai lesu sejak Selasa (2/3/2021) lalu.

Sebelumnya, menurut riset CLSA Sekuritas, kebijakan relaksasi PPN (Pajak Pertambahan Nilai) untuk sektor perumahan yang kemarin diumumkan pemerintah akan menguntungkan pengembang properti properti yang punya stok rumah yang belum terjual.

"Kebijakan sementara ini, akan menguntungkan pengembang properti, tujuannya untuk mengurangi inventori yang membuat pasokan berlebih selama ini," tulis CLSA Sekuritas dalam risetnya, Selasa (2/3/2021).

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida menyambut baik kebijakan ini, meski tidak terlalu puas. Sebab usulan REI, insentif ini mestinya berlaku sampai Desember 2021. Namun Penghapusan PPN berlaku sejak 1 Maret sampai 31 Agustus 2021.

"Apa yang dilakukan pemerintah untuk mendukung semuanya, kita kerja dulu lah gimana kalau sampai Agustus. Kemarin kita usulan sampai Desember segala transaksi dalam hal properti, sampai Desember," kata Totok kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (2/3/21).

Alasannya, kata Totok, proses pembangunan yang memerlukan waktu tidak sebentar. Ketika berlakunya insentif terlalu singkat, maka ada kekhawatiran pembeli rumah tidak bisa menggunakan insentif tersebut.

"Karena membangun rumah butuh waktu 6 bulan, kalau diumumkan sekarang transaksi sampai bulan Agustus, kan nggak bisa (dapat insentif) September-nya. Pembeli baru kalau beli hari ini realisasinya 6 bulan. Ya kita coba dulu jalan, kita kerja dulu lah, tujuannya Pemerintah dengan kita sama," sebut Totok.

Selain itu, Ia menyebut sudah mengajukan beberapa insentif selain penghapusan PPN 0%. Namun sayangnya tidak semua dikabulkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Kemarin kita minta PPh final (Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Sewa Persewaan Tanah Dan/Atau Bangunan) karena sewa mal, perkantoran kan paling terdampak," paparnya.

Senior Analyst PT Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia mengatakan periode enam bulan ini terbilang singkat, sehingga tak semua pengembang akan mendapatkan efek positif dari adanya stimulus ini.

"Jadi yang enam bulan itu diberikan kepada properti yang sudah siap serah terima kunci dalam enam bulan ini. Berarti yang akan diuntungkan adalah emiten-emiten yang punya stok rumah ready," kata Liza dalam Investime, Selasa (2/3/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading