Dolar Australia di Atas Rp 11.000/AU$ Gegara Commodity Boom

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 February 2021 13:10
Australian dollars are seen in an illustration photo February 8, 2018. REUTERS/Daniel Munoz

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia masih perkasa melawan rupiah pada perdagangan Selasa (23/12/2021), bertahan di atas Rp 11.000/AU$. Kenaikan harga berbagai komoditas atau yang disebut commodity boom, menjadi penopang penguatan dolar Australia.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia pagi ini menguat 0,24% ke Rp 11.194,87/AU$. Level tersebut merupakan yang tertinggi 3 Juli 2014. Hingga Senin kemarin, dolar Australia sudah menguat 4 hari beruntun dengan total 5,33%.

Harga komoditas ekspor utama Australia, bijih besi, juga masih di dekat rekor tertinggi sepanjang masa, saat perekonomian terus membaik, bukan tidak mungkin harga bijih besi kembali mencatat rekor baru.


Selain bijih besi, harga tembaga juga meroket ke US$ 9.000/ton untuk pertama kalinya sejak tahun 2011 Senin kemarin. Kemudian nikel diperdagangkan di atas US$ 20.000/ton, pertama kalinya sejak 2014.

Dolar Australia merupakan mata uang yang sangat terkait dengan harga-harga komoditas, sebab Negeri Kanguru merupakan salah satu eksportir terbesar. Sehingga ketika harga komoditas naik akibat peningkatan permintaan, pendapatan negara akan meningkat, dan roda perekonomiannya juga akan berputar lebih kencang guna memenuhi permintaan ekspor. 

Di tahun ini diperkirakan menjadi awal dari supercycle komoditas, atau periode panjang kenaikan harga komoditas. Kenaikan harga-harga komoditas di tahun lalu dikatakan sebagai awal dari siklus tersebut, dan akan masuk ke dalamnya mulai tahun ini.

Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University, Steve Hanke, dalam wawancara dengan Kitco, Selasa (22/12/2020), mengatakan komoditas akan memasuki fase supercycle tersebut pada tahun 2021 mendatang.

"Supply sangat terbatas, stok rendah, dan ekonomi mulai bangkit dan maju ke depan, harga komoditas akan naik dan memulai supercycle. Saya pikir saat ini kita sudah melihat tanda awalnya," kata Hanke, sebagaimana dilansir Kitco.

Kenaikan harga-harga komoditas sebenarnya juga bisa membuat rupiah perkasa. Sayanganya, untuk saat ini angin sedang belum berpihak ke Mata Uang Garuda. Sebab, pelaku pasar masih terhanyut sentimen penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 Februari 2021 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo usai RDG, Kamis (18/2/2021).

Ketika suku bunga dipangkas, maka selisih imbal hasil dengan negara-negara lainnya akan menyempit, yang kurang menguntungkan bagi rupiah karena merupakan aset emerging market.

Memang selisih dengan Australia masih cukup jauh, sebab suku bunga disana saat ini 0,1% saja. Tetapi tetap, penurunan sebesar 25 basis poin akan mengurangi imbal hasil cukup signifikan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading