Ngeri! Kurs Dolar Australia Tembus Rp 11.000/AU$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 February 2021 11:46
Ilustrasi dolar Australia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia meroket melawan rupiah dalam 2 hari terakhir, hingga menembus jauh ke atas Rp 11.000/AU$ dan berada di level tertinggi nyaris 7 tahun terakhir.

Pada pukul 11:13 WIB, AU$ 1 setara Rp 11.105,16, dolar Singapura menguat 0,37% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Kali terakhir dolar Australia berada di atas Rp 11.000/US$ pada Juli 2014.

Jumat lalu, Mata Uang Kanguru ini melesat 1,67% akibat ekspektasi pemulihan ekonomi global, membuat mata uang yang terkait dengan komoditas paling diuntungkan.


Harga komoditas ekspor utama Australia, bijih besi, juga masih di dekat rekor tertinggi sepanjang masa, saat perekonomian terus membak, bukan tidak mungkin harga bijih besi kembali mencatat rekor baru.

"Mata uang komoditas dan poundsterling khususnya akan kuat melawan dolar AS, dan tren ini masih akan berlanjut," kata Yukio Ishizuki, ahli strategi valas di Daiwa Securities, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (22/2/2021).

Kala dolar Australia terus menguat melawan dolar AS, rupiah tentunya juga akan terpukul.

Dolar Australia juga mendapat tenaga dari membaiknya pasar tenaga kerja. Biro Statistik Australia Kamis (18/2/2021) lalu melaporkan tingkat pengangguran turun 6,4% di bulan Januari, dari bulan sebelumnya 6,6%. Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang terendah sejak April 2020.

Selain itu, sepanjang bulan Januari terjadi perekrutan tenaga kerja sebanyak 29.100 orang. Artinya, perekonomian Australia mulai bergeliat setelah mengalami resesi terparah sepanjang sejarah akibat serangan virus corona (Covid-19).

Dengan data tenaga kerja yang terus membaik, ada kemungkinan bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) akan merubah panduan kebijakan moneternya, apalagi jika tingkat pengangguran turun lebih cepat ketimbang prediksinya.

Di awal bulan ini, RBA mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan di rekor terendah 0,1%, dan akan menambah nilai QE sebesar AU$ 100 miliar.

Di sisi lain, rupiah mengalami tekanan setelah Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 3,5%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 Februari 2021 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo usai RDG, Kamis (18/2/2021).

Ketika suku bunga dipangkas, maka selisih imbal hasil dengan negara-negara lainnya akan menyempit, yang kurang menguntungkan bagi rupiah karena merupakan aset emerging market.

Memang selisih dengan Australia masih cukup jauh, sebab suku bunga disana saat ini 0,1% saja. Tetapi tetap, penurunan sebesar 25 basis poin akan mengurangi imbal hasil cukup signifikan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading