Produksi Batu Bara Adaro Turun 6% & Penjualan Drop 9% di 2020

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 February 2021 11:05
FILE PHOTO: The logo of PT Adaro Energy as seen at PT Adaro Energy headquarters in Jakarta, Indonesia, October 20, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pertambangan batu bara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO), mencatatkan total produksi batu bara sepanjang tahun 2020 sebesar 54,53 juta ton atau mengalami penurunan 6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Head of Corporate Communication Adaro Febriati Nadira, dalam penjelasannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia menyampaikan, volume produksi batu bara tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan untuk tahun 2020 sebesar 52 - 54 juta ton.

Sementara itu, volume penjualan batu bara pada 2020 mencapai 54,14 juta ton, turun 9% secara tahunan. "Nisbah kupas tahun 2020 tercatat 3,84 kali lebih rendah daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,30 kali akibat cuaca yang kurang baik hampir di sepanjang tahun," kata Febriati Nadira, Rabu (17/2/2021).


Adapun pasar Asia Tenggara memberikan andil sebesar 49% terhadap penjualan batu bara Adaro, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Tak hanya itu, peningkatan juga terjadi seiring adanya permintaan dari Thailand dan Vietnam untuk operasi pembangkit listrik baru.

Sedangkan pasar China dan India, memberikan andil terhadap penjualan sebesar 12% dan 13% di tahun 2020. Portofolio penjualan sepanjang 2020 masih didominasi oleh E4700 dan E4900.

Manajemen Adaro memperkirakan, pada tahun ini, produksi batu bara diperkirakan akan tetap sama atau sedikit mengalami penurunan dari yang ditargetkan sebesar 52-54 juta ton. Adapun, panduan nisbah kupas yang ditetapkan sebesar 4,8 kali lebih tinggi secara tahunan.

Di tahun ini, emiten bersandi ADRO ini juga mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 200 juta sampai dengan US$ 300 juta. Target belanja modal tersebut meliputi pemeliharaan rutin can capex pertumbuhan. Sementara itu, EBITDA operasional ditargetkan pada tahun ini berada pada kisaran US$ 750 juta sampai dengan US$ 900 juta.

"Walaupun pemulihan ekonomi diperkirakan akan berdampak positif terhadap batu bara, perusahaan harus tetap berhati-hati untuk mengantisipasi ketidakpastian," ujarnya.

Seperti diketahui, pada kuartal keempat 2020, perseroan tercatat memproduksi sebanyak 13,43 juta ton dan menjual 13,39 juta ton batu bara, atau masing-masing turun 3 persen dan 8 persen dibandingkan kuartal IV/2019.

Adapun, total pengupasan lapisan penutup pada kuartal terakhir 2020 mencapai 49,06 Mbcm, atau turun 21 persen yoy, sehingga nisbah kupas tercatat sebesar 3,65 kali.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading