Ada ADRO-INDF, Deretan Saham-saham Ini Dilepas Asing Sepekan!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
08 February 2021 07:04
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir pekan lalu indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih semarak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup naik 0,73% di posisi 6.151,73 pada perdagangan terakhir Jumat (5/2/2021) seiring dengan masih kuatnya aksi beli terutama investor domestik.

Data BEI mencatat, dalam sepekan IHSG naik 4,94%. Ada 307 saham naik, 176 saham turun, dan 142 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 12,59 triliun dengan 14,31 miliar saham dan 1,18 juta frekuensi perdagangan.

Investor asing keluar (net sell) pada Jumat Rp 72 miliar di pasar reguler, sementara selama sepekan asing melepas Rp 447,38 miliar. Meski demikian, dalam sebulan terakhir asing masih tercatat net buy Rp 4,52 triliun.


Berikut 10 saham dengan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler terbesar selama sepekan.

10 Top Foreign Sell (1-5 Februari, Reguler)

1. Bank Mandiri (BMRI), net sell Rp 435 M, saham -0,38% Rp 6.550

2. Adaro Energy (ADRO), Rp 185 M, saham +0,83% Rp 1.210

3. United Tractors (UNTR), Rp 101 M, saham +1,09% Rp 23.100

4. Astra International (ASII), Rp 91 M, saham flat Rp 6.100

5. Indofood CBP (ICBP), Rp 77 M, saham +1,37% Rp 9.225

6. Bank Central Asia (BBCA), Rp 76 M, saham +2,29% Rp 34.575

7. Indofood Sukses (INDF), Rp 66 M, saham +4,55% Rp 6.325

8. Bukit Asam (PTBA), Rp 65 M, saham -0,78% Rp 2.560

9. Charoen Pokphand (CPIN), Rp 58 M, +2,17% Rp 5.875

10. Merdeka Copper (MDKA), Rp 51 M, -3,53% Rp 2.460

Sentimen untuk Bank Mandiri yakni optimisme pertumbuhan kredit setelah Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 sepanjang 2020.

Perekonomian Indonesia diperkirakan dapat pulih dengan dimotori beberapa sektor tertentu. Adapun kunci dari pemulihan ekonomi secara bertahap yakni menyeimbangkan stimulus dan keberlanjutan reformasi struktural.

"Pemulihan ekonomi investasi sebagai bagian dari stimulus pemerintah, implementasi Undang-Undang Cipta kerja dan Sovereign Wealth Fund (SWF), ditambah pada 2021 ada sektor ekonomi memiliki prospek baik," kata Direktur Utama BMRI Darmawan Junaidi dalam Mandiri Investment Forum 2021, Rabu (03/02/2021).

Sektor infrastruktur, layanan kesehatan, energi terbarukan, komunikasi dan digital industri dinilai dapat menjadi pendorong perekonomian. Selain itu pengolahan seperti otomotif elektronik juga dapat menjadi penggerak pemulihan ekonomi, apalagi Indonesia kini tergabung dalam RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership).

"Peluang investasi juga tersebar, setiap daerah punya keunggulan komparatif dan sektoral. Indonesia memiliki 99 Kawasan dengan luas 95 ribu hektar dan 14 zona ekonomi khusus," ujarnya.

Tahun ini, OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan nasional akan tumbuh sebesar 7,5% plus minus 1%. Target ini memang lebih rendah dari target OJK di tahun lalu sebelum adanya pandemi yakni sebesar 13%.

Namun, realisasinya, sepanjang tahun 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan pertumbuhan kredit perbankan nasional mengalami tekanan. Hal ini menyebabkan terjadinya pelambatan aktivitas di sektor riil dan belum penuh beroperasinya korporasi besar membuat kinerja intermediasi perbankan mengalami tekanan dan terkontraksi -2,41% secara tahunan di 2020.

"Dana Pihak Ketiga diperkirakan akan tumbuh solid di rentang 11 ± 1% (yoy)," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK), Jumat (15/1/2020).

Meski secara rata-rata di industri melambat, OJK mencatat, pada tahun 2020, kredit Bank BUMN masih tumbuh 0,63% dan BPD tumbuh 5,22%. Adapun, Bank Syariah masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,50%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading