Bos BTN: Mulai Muncul Kebiasaan Beli Rumah Secara Online

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
11 February 2021 18:50
Plt Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon Napitupulu

Jakarta, CNBC Indonesia- Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak kebiasaan masyarakat terutama yang berkaitan dengan interaksi sosial. Bahkan saat ini sudah mulai ada kebiasaan membeli rumah harga ratusan juta secara online.

Hal tersebut diungkapkan oleh Plt. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BBTN) Nixon L.P. Napitupulu dalam acara Banking Outlook 2021 yang mengambil tema 'Perbankan Jadi Akselerator Pemulihan Ekonomi', Kamis (11/2/2021).

Nixon bercerita bahwa dirinya dan orang-orang di generasinya dulu membeli rumah dengan cara survei lokasi. Semua hal yang berkaitan dengan rumah tersebut dicek langsung. Namun, mulai 2020 ternyata sudah mulai ada kebiasaan membeli rumah secara online.


"Pada 2020 ada yang menarik dan pertama kali baru kami lakukan. Biasanya kami menggelar property expo di gedung besar dan pada 2020 kami ubah dengan pameran secara virtual sebanyak 2 kali. Yang menarik setiap kali ada expo, visitorsnya 1 juta orang," ujar Nixon.

Dari pameran virtual tersebut, tutur Nixon, ada sejumlah pembelian rumah yang diajukan sekaligus dengan KPR. "Dari aplikasi secara virtual diproses angka KPR yang cair Rp 1,3 triliun sampai Rp 1,4 triliun," jelasnya.

Meskipun nilai KPR online masih kecil, namun Nixon percaya jumlah ini akan terus meningkat pada masa depan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan efisiensi di BTN karena ada banyak proses yang bisa dipotong.

"Sebagai langkah awal tranasksi beli rumah dari tadinya harus lihat fisik ternyata sekarang sudah sebagian bisa dilakukan secara online dan bisa cutting di proses," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Nixon Napitupulu mengatakan BTN menargetkan realisasi KPR mencapai lebih 200 ribu rumah pada 2021. Hal ini seiring dengan harapan perbaikan pertumbuhan ekonomi yang akan mendorong pembelian rumah, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.

"Jika ekonomi bergulir, untuk membangun rumah 4-5 orang, kalau bisa akadkan 200-250 ribu rumah maka bisa mempekerjakan 1 juta tukang, perguliran ekonomi dari perumahan luar biasa, setiap perumahan baru bisa menghasilkan ekonomi baru," kata Nixon.

Dia menyebutkan backlog perumahan saat ini masih tinggi sebanyak 7 juta orang yang masih belum memiliki rumah, sehingga potensi penyaluran KPR masih terbuka.

"Hanya saja harus ada kepercayaan untuk membangun lagi, orang butuh rumah. Kita banyak bicara bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, berkegiatan di rumah jadi rumahnya harus ada, karena kebutuhan mendasar," ujarnya.

Sepanjang 2020, akad KPR subsidi menjadi salah satu pendorong dari penyaluran KPR BTN di tengah pandemi Covid-19. Dia mengakui di masa awal kondisinya cukup sulit dan sempat menyentuh titik terendah pada April-Mei 2020 dan pertumbuhan negatif. Pertumbuhan KPR baru terlihat di semester 2, terutama pada Agustus hingga Desember.

"Pada Desember itu Rp 6 triliun dan mendekati angka normal, disburse kita 65% dr kapasitas normal. Di saat covid-19 bisa disebut 65% adalah sesuatu yang baik," kata Nixon.

Dia menambahkan perseroan juga menargetkan laba bersih Rp 2,5 triliun sampai Rp 2,8 triliun pada 2021, meningkat sekitar 50% dibandingkan setahun sebelumnya.

"Memang kami sudah submit RBB (rencana bisnis bank) ke OJK akhir 2020. Kami lagi diskusi mudah-mudahan bisa di-approve. Kami menargetkan laba bisa Rp 2,5-2,8 triliun tumbuh lebih dari 50%," ujar Nixon.

Menurut Nixon, sumber laba terbesar adalah penghematan dari biaya cost of fund. Sama seperti 2020, likuiditas BTN pada 2021 cenderung longgar sehingga biaya dana masih dapat ditekan. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, loan to deposits (LDR) BTN biasanya di atas 100%

Digitalisasi juga penting. Kami menutup outlet sebanyak seratusan yang merupakan outlet kantor kas yang tidak produktif. Apalagi transaksi sudah 90% lebih di e-channel," ujar Nixon.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading