Vaksinasi Tak Optimal, Kredit Bank Hanya Tumbuh 4% di 2021

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 February 2021 17:54
Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana dan Direktur Utama Bank KB Bukopin, Rivan Achmad Purwantono.

Jakarta, CNBC Indonesia- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kunci pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini adalah tingkat kepercayaan dunia usaha yang akhirnya memunculkan permintaan pembiayaan. Bila hal ini bisa optimal, maka kredit perbankan akan meningkat jadi 7-8%.

"Target itu akan tercapai tapi syaratnya mengelola demand agar bisa tumbuh lebih cepat. Sehingga apa yang direncanakan para bankir dapat terlaksana," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan sekaligus Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana, dalam Banking Outlook 2021, Kamis (11/2/2021).

Menurut Heru, salah satu kunci untuk menumbuhkan kepercayaan dunia usaha adalah program vaksinasi Covid-19 bisa berjalan cepat. "Kalau vaksinasi efektif, ekonomi beranjak di semester kedua 2021, saya optimis bahwa pertumbuhan kredit capai 7,13%," ujarnya.


Sebaliknya, bila vaksinasi berjalan lama dan pandemi berlanjut tanpa bisa direm maka permintaan kredit dari dunia usaha akan lesu. "Kalau demand masih lesu, kredit perbankan itu akan koreksi menjadi 5%," ujarnya.

Sebagai informasi, ada 3 skenario pertumbuhan kredit di Indonesia. Skenario pertama adalah konservatif dengan target pertumbuhan 4-4,5%.

Kedua, adalah skenario moderat dengan 2 target, yakni sesuai dengan rangkuman rencana bisnis bank (RBB) sebesar 7,13% dan proyeksi OJK 7,5% dengan plus minus 1%.

Adapun target optimis maka pertumbuhan kredit bisa mencapai 9% sesuai dengan proyeksi atas Bank Indonesia (BI).

Pada kesempatan yang sama OJK OJK memberikan pesan kepada perbankan untuk mewaspadai kredit yang berisiko besar di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai.

"Ada risiko kredit perlu kita cermati dari dampak restrukturisasi. Saat ini LaR (loan at risk) masih cukup besar dan membuat kita berhati-hati mengelola perbankan kita ke depan," ujar Heru.
Loan at risk merupakan indikator risiko atas kredit yang disalurkan yang terdiri atas kredit kolektibilitas 1 yang telah direstrukturisasi, kolektibilitas 2 atau dalam perhatian khusus, serta kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Sementara itu kredit yang telah diresktrukturisasi oleh perbankan hingga Januari 2021 mencapai Rp 971,1 triliun. Bila ekonomi tidak membaik, maka LaR berpeluang menjadi kredit bermasalah.

Selain Heru Kristiyana, Banking Outlook 2021 ini dihadiri pula oleh Plt Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon Napitupulu dan Direktur Utama Bank KB Bukopin, Rivan Achmad Purwantono.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading