Asing Memburu SUN Saat Bursa Saham Jeblok, Ini Faktanya!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
04 February 2021 09:05
foto : CNBC Indonesia/Chandra Gian Asmara

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi pemerintah Indonesia dalam 3 hari terakhir sedang ramai diburu oleh investor. Ramainya pasar obligasi diakibatkan masih tingginya volatilitas pasar saham dalam negeri dan sentimen dari penangan virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Walaupun pada perdagangan Rabu kemarin (3/2/2021) obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) bergerak beragam, namun mayoritas masih ramai dikoleksi oleh investor, terutama untuk SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara.


Berdasarkan data dari Refinitiv, imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun ditutup turun tipis 0,1 basis poin (bps) ke level 6,178% pada Rabu kemarin. Selama sepekan terakhir, yield SBN acuan negara tersebut telah turun 7,9 bps.

Imbal hasil bergerak berkebalikan dari harga obligasi, sehingga penurunan imbal hasil mengindikasikan penguatan harga dan sebaliknya. Perhitungan imbal hasil dilakukan dalam basis poin yang setara dengan 1/100 dari 1%.

Hal ini dikarenakan kebijakan akomodatif BI akan terus berlanjut seiring dengan kebijakan dovish The Fed, dan stabilitas nilai tukar rupiah yang tetap terjaga.

Sementara itu, sepanjang Januari 2021, jumlah kepemilikan asing di SBN mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari DJPPR Kementerian Keuangan, per 29 Januari 2021 kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 967,74 triliun atau 29,7% dari total kepemilikan SBN. 

Di sisi lain, selama Januari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok 1,95%.

Sedangkan, aliran dana asing yang masuk (inflow) ke pasar obligasi sepanjang Januari 2021 mencapai Rp 11,1 triliun.

Tak hanya itu, kinerja positif SBN juga didukung oleh melonjaknya permintaan lelang terbaru surat utang negara (SUN) pada Selasa, 1 Februari lalu, di mana jumlah permintaan dari lelang Selasa kemarin menyentuh Rp 83,79 triliun.

Obligasi pemerintah merupakan aset pendapatan tetap yang seringkali dinilai sebagai aset safe haven. Ia diburu ketika pelaku pasar merasa kondisi ekonomi sedang buruk, dan sebaliknya ditinggalkan ketika investor berani masuk ke bursa saham karena ekonomi dinilai aman.

Memang selama sepekan terakhir atau sekitar 4 hari belakangan ini, investor cenderung bermain aman ke pasar obligasi pemerintah karena volatilitas dari pasar saham dalam negeri yang masih cukup tinggi.

Hal lainnya adalah inflasi di Indonesia yang melambat pada Januari 2021.

Pada Senin (1/2/2021), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Januari 2021 adalah 0,26% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Sementara inflasi tahunan (year-on-year/YoY) berada di 1,55%. Kemudian inflasi inti tercatat 1,56% YoY.

Artinya, ekonomi Tanah Air masih tertatih-tatih, terlihat dalam data inflasi yang dirilis pada hari ini. Realisasi inflasi ini lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,35% dan inflasi tahunan ada di 1,65%.

Dibandingkan Desember 2020 pun terjadi perlambatan laju inflasi. Kala itu, inflasi bulanan adalah 0,45% dan inflasi tahunan 1,68%.

Kelesuan permintaan juga tercermin di inflasi inti. Pada Januari 2021, inflasi inti yang 1,56% (YoY) merupakan yang terendah sejak BPS melaporkan data ini pada 2004. Inflasi inti adalah 'keranjang' yang berisi harga barang dan jasa yang susah naik-turun.

Jadi saat inflasi inti terus melambat, maka artinya harga barang dan jasa yang 'bandel' saja sampai turun. Ini menandakan permintaan sangat lemah sehingga dunia usaha terpaksa menurunkan harga.

Jika Inflasi masih tergolong rendah, maka hal tersebut membuat aset pendapatan tetap seperti obligasi negara menjadi lebih menarik karena keuntungan riil (real return) dari imbal hasilnya pun terhitung lebih tinggi.

Selain volatilitas pasar saham domestik dan inflasi yang rendah, perkembangan terkait penanganan pandemi juga menjadi pendorong yield SBN masih mengalami pelemahan.

Perkembangan kasus kematian di Indonesia akibat Covid-19 terus memburuk dan Indonesia menjadi yang terburuk di Asia mengalahkan India.

Berdasarkan data Worldometers per Selasa (2/2/2021), Indonesia memiliki 175.349 kasus aktif, sementara India hanya memiliki 164.278 kasus aktif. Kasus aktif merupakan jumlah orang yang masih dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Indonesia juga menduduki peringkat ke-4 dengan kasus terjangkit terbanyak di Asia, dan peringkat ke-19 dengan kasus positif pada tingkat global. Pertanyaan besar pun muncul seputar daya tampung fasilitas isolasi dan perawatan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading