Direksi SWF, Luhut: Diumumkan Minggu Ini atau Minggu Depan

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
03 February 2021 17:53
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menerima kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi. (Dok. Kemenko Marves)

Jakarta, CNBC Indonesia- Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa jajaran direksi Lembaga Pengelola Investasi (Indonesia Investment Authority/INA) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) bakal diumumkan pada pekan ini atau paling lambat pekan depan.

"Saya harap minggu ini atau minggu depan kita bisa mengumumkan siapa BoD (board of directors/dewan direksi) yang akan urus kewenangan investasi," ucap Luhut di acara Mandiri Investment Forum 2021 Rabu (3/2/2021).

Pemerintah masih menyeleksi sejumlah nama untuk duduk di lembaga yang bakal menjadi bohir baru di Indonesia. Seleksi dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir, dan dewan pengawas profesional, yaitu Darwin Cyril Noerhadi, Yozua Makes, dan Haryanto Sahari.


"Kami percaya mereka bisa mendapatkan yang terbaik untuk menjalankan organisasi ini," imbuh Luhut.

Tiga nama dikabarkan mengerucut dalam seleksi pucuk pimpinan LPI, yakni Direktur Utama PT Bank Permata Tbk (BNLI), Ridha Wirakusumah, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Tigor M. Siahaan, dan Arief Budiman, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero).

Namun ada pula nama lain yang digadang-gadang masuk dalam bursa pemilihan, yakni mantan menteri perdagangan yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan, Rizal Gozali yang merupakan Presiden Direktur Credit Suisse Sekuritas Indonesia. kemudian eks Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong.

Pemerintah dalam proses menawarkan aset investasi senilai US$ 5 miliar-US$ 6 miliar atau kisaran Rp 70 triliun-Rp 84 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) melalui dana abadi Indonesia Investment Authority (INA), Sovereign Wealth Fund (WSF) yang baru dibentuk Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Hanya saja, proses ini masih cukup panjang namun ditargetkan bisa selesai tahun ini atau tahun depan.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan saat ini pemerintah masih membahas mengenai uji tuntas atau due diligence, penataan, valuasi, dan level aset yang akan ditawarkan kepada investor INA tersebut.

"Tapi, dengan menempatkan US$ 5 miliar hingga US$ 6 miliar aset pada tingkat transaksi, kami juga dapat menyelesaikan sebagian tahun ini dan tahun depan. Karenanya kami berada di top level dan kesepakatan dilakukan di level transaksi dan level aset," kata Kartika dalam Mandiri Investment Forum 2021, Rabu (3/2/2021).

Dia menyebutkan, jika aset ini sukses untuk ditawarkan kepada investor maka akan menjadi penentu untuk rencana-rencana ke depan.

Sebab pemerintah berencana untuk pengembangan aset yang diinvestasikan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, namun juga aset teknologi dan digital di dalam negeri.

"Saya pikir jika kita dapat membuat kesepakatan yang bagus di katakanlah empat atau lima transaksi ke depan. Saya pikir ada peluang besar bahwa kita dapat menarik dana yang lebih besar di masa depan, dan kita juga dapat menempatkan aset yang lebih sehat untuk ditransfer ke INA, dan dalam jangka menengah panjang, hal itu dimungkinkan," lanjut mantan Dirut Bank Mandiri ini.

Dia pun optimistis nantinya INA akan dapat memboyong dana besar untuk diinvestasikan di dalam negeri dengan menawarkan investasi yang besar pula di Indonesia. Hal ini sudah mulai ditunjukkan dengan minat dari beberapa calon investor global.

Adapun sebelumnya dia menargetkan dalam 2 tahun ke depan INA akan menarik dana hingga US$ 20 miliar atau setara dengan Rp 280 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading