Tekor di 2020, Matahari Bakal Tutup 6 Gerai Lagi Tahun Ini

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
02 February 2021 11:30
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah mencatatkan rugi di tahun lalu berdasarkan laporan belum diaudit, emiten ritel milik Grup Lippo, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) berencana menutup sekitar 6 gerai Matahari lagi tahun ini dari 23 total gerai dalam pengawasan kinerja.

Berdasarkan paparan kinerja unaudited yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (1/2/2021), perusahaan total memiliki 147 gerai di akhir 2020 termasuk 23 gerai dalam pantauan kinerja.

Di kuartal 4-2020, perusahaan menutup 6 toko dan secara tahunan menutup 25 gerai. Penutupan 25 gerai ini termasuk 12 gerai di Q1-Q3, sebanyak 7 gerai yang tidak menguntungkan (juga di periode Q1-Q3), dan sebanyak 6 gerai di Q4-2020.


Adapun 6 geri tersebut yakni gerai Mahahari di Lippo PLZ MAL Yogja, Lippo MAL Kuta, Keboen Raya BGR, Lippo PLZ MAL Gresik, Mayofield TC KWG, dan gerai Matahari di GTC TC Makassar.

Sementara itu, dari 23 gerai dalam pantauan, 6 akan ditutup tahun ini, dan sisanya 17 akan tetap dipantau.

"Berharap untuk menutup 6 dari 23 gerai dari pantauan pada tahun 2021 dan 17 gerai tetap dalam daftar pantauan," tulis manajemen Matahari, diwakili Miranti Hadisusilo, Corporate Secretary dan Direktur Legal LPPF.

Tahun lalu, Matahari mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 823 miliar berdasarkan data laporan keuangan unaudited. Kondisi ini berbalik dari tahun 2019 ketika LPPF masih mencetak laba bersih Rp 1,34 triliun.

LPPF juga mencatatkan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) negatif yakni Rp 22 miliar, dari EBITDA positif Rp 2,21 triliun.

Sementara itu laba kotor minus 54% di tahun lalu menjadi Rp 2,82 triliun dari tahun sebelumnya Rp 6,12 triliun.

Secara penjualan kotor sepanjang tahun lalu mengalami penurunan hingga 52,3% menjadi Rp 8,60 triliun, dari sebelumnya Rp 18,04 triliun.

Presentasi LPPF Februari 2021Foto: Presentasi LPPF Februari 2021
Presentasi LPPF Februari 2021

Adapun total aset bertambah Rp 1,54 triliun menjadi Rp 6,37 triliun dari Desember 2019 Rp 4,83 triliun.

Manajemen LPPF menyatakan, tren pemulihan kinerja bisnis perusahaan terkendala lagi dengan adanya pembatasan aktivitas liburan pada 20 Desember 2020 dan diikuti dengan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 21 Januari 2021.

Manajemen mengungkapkan, prospek bisnis di Februari tetap menantang.

"Kami terus melayani pelanggan kami dengan protokol kesehatan yang ketat dan peraturan pemerintah. Untuk mendukung regulasi pemerintah, 100% WFH for Support Center telah dimulai hingga pemberitahuan lebih lanjut. Ketika kami kembali WFO, staf kami akan menjalani tes rapid sebelumnya, dan kami akan menjaga protokol kesehatan yang ketat," tulis manajemen LPPF.

Secara keuangan, perseroan telah melunasi pinjaman bank tambahan, yang diambil pada Q2-2-020.

"Kami secara ketat mengontrol pengeluaran kami dan mempertahankan pengeluaran capex [belanja modal] yang sangat rendah mengingat ketidakpastian. Januari dan Februari tetap menantang karena perpanjangan PPKM. Kami juga mendapatkan dukungan perpanjangan fasilitas dari CIMB Rp 1 triliun," tulis manajemen LPPF.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading