Balas Dendam! Harga CPO Tembus RM 3.300 Sebelum Libur

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 January 2021 14:45
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan hari Rabu (27/1/2021). Hari ini adalah hari libur di Malaysia karena ada perayaan Thaipoosam Cavadee untuk komunitas umat Hindu.

Pada penutupan sesi perdagangan kontrak CPO pengiriman April 2021 yang aktif diperjualbelikan di Bursa Malaysia Derivatf Exchange itu mengalami apresiasi 3,7% dibanding posisi penutupan sebelummya.

Seolah balas dendam setelah tertekan sepekan harga CPO menguat menjadi RM 3.385/ton. Ini akan menjadi yang pertama kalinya harga CPO kembali tembus ke atas RM 3.300/ton sejak 19 Januari 2021.


Kenaikan harga CPO yang terjadi diakibatkan oleh sentimen eksternal. Harga kontrak minyak nabati yang ditransaksikan di bursa komoditas yang lain juga terangkat.

Di bursa komoditas Dalian misalnya, baik kontrak CPO maupun minyak kedelai yang aktif ditransaksikan mengalami kenaikan 2%. Sementara itu kontrak minyak kedelai yang diperjualbelikan di Bursa Chicago Board of Trade juga mengalami apresiasi 2%.

Harga minyak nabati memang terus mengalami peningkatan. Hal ini juga dilaporkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Global (FAO). Dalam laporan terbarunya, FAO menyebut indeks harga minyak nabati dunia mengalami kenaikan hingga ke level tertinggi sejak tahun 2012.

Kenaikan indeks harga diakibatkan oleh terus menguatnya harga minyak sawit. Sementara itu harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak biji bunga matahari juga ikut naik.

Ketatnya pasokan menjadi salah satu alasan mengapa harga-harga minyak nabati terutama sawit terbang. Adanya banjir yang melanda beberapa sentra produksi sawit seperti di Kalimantan dan Sumatra di Indonesia tentu mengganggu aktivitas produksi dan rantai pasok sehingga berpotensi menurunkan output.

Sementara itu di Malaysia pandemi Covid-19 membuat Negeri Jiran memilih untuk menetapkan pembatasan sosial dan lockdown. Akibatnya sektor perkebunan kelapa sawit menjadi korban lantaran kekurangan tenaga kerja yang mayoritas berasal dari luar Malaysia.

Di saat yang sama ekonomi China yang bergeliat turut menopang permintaan. Hal ini membuat harga CPO reli kencang. Namun ekspor Malaysia untuk bulan Januari yang mengecewakan karena drop lebih dari 40% dibanding bulan Desember membuat harga tertekan.

Bagaimanapun juga prospek harga CPO diperkirakan masih kuat hingga kuartal pertama tahun ini. Setelah itu harga CPO kemungkinan besar akan melandai bahkan terkoreksi seiring dengan peningkatan output.

Berdasarkan survei Reuters, produksi CPO di dua negara produsen utama (Indonesia dan Malaysia) bakal naik tahun ini. Saat pasokan naik, wajar saja harga turun. Pada 2021, konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan produksi CPO sebanyak 48,3 juta ton. Naik 1,89% dibandingkan 2020.

Sementara produksi CPO Malaysia tahun ini diperkirakan 19,6 juta ton. Tumbuh 2,4% ketimbang tahun lalu. Konsensus Reuters memperkirakan rata-rata harga CPO tahun ini di RM 2.800/ton, tertinggi sejak 2012.

Dalam laporan terbarunya Fitch Solutions meramal harga minyak sawit kemungkinan akan berada pada level tertinggi 11 tahun di RM 3.050 ringgit (US$ 753,6) per ton pada tahun 2021

Namun pada tahun 2022 Fitch meramal harga rata-rata akan turun menjadi RM 2.600 per ton karena pertumbuhan produksi minyak sawit diperkirakan akan meningkat di tengah hasil yang lebih tinggi dan penggunaan pupuk yang lebih tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading