100 Juta Manusia Terinfeksi Covid-19, Harga Minyak Ambles

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 January 2021 13:05
Pumpjacks are seen at an oil field in Huaian, Jiangsu province, China November 11, 2017. Picture taken November 11, 2017. REUTERS/Stringer  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak cenderung meningkat di awal tahun 2021. Namun belakangan harga minyak cenderung galau. Lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara seperti Inggris dan China menghambat kenaikan harga si emas hitam.

Untuk kontrak yang aktif diperjualbelikan Brent harganya melemah 0,3% ke US$ 55,65/barel hari ini, Kamis (28/1/2021). Di saat yang sama kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) juga drop 0,47% ke US$ 52,6/barel.


Perhatian pelaku pasar sekarang beralih kembali kepada kekhawatiran permintaan di tengah meningkatnya infeksi Covid-19 dengan varian baru yang disebut 70% lebih menular.

Inggris menerapkan karantina dan pembatasan sosial (lockdown) sejak 4 Januari. Pemerintah Inggris mengumumkan adanya kebijakan larangan perjalanan pada hari Rabu. Pemerintah juga mengharuskan orang-orang yang datang dari negara-negara berisiko tinggi Covid-19 untuk dikarantina selama 10 hari.

Beralih ke China, negara ini sekarang menghadapi peningkatan kasus virus Corona seiring dengan memasuki musim perjalanan tersibuk tahun ini, liburan Tahun Baru Imlek.

Kementerian Transportasi China memperkirakan jumlah perjalanan yang akan dilakukan akan naik 15% dari tahun lalu ketika virus itu sedang menyebar dan lockdown ketat diterapkan. Namun jika dibanding dengan tahun 2019 maka angkanya masih 40% lebih rendah.

Kendati lockdown mulai marak lagi, tetapi harga minyak tak serta merta langsung longsor. Penyebabnya ada dua. Pertama adalah keputusan Arab Saudi untuk menurunkan produksi sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada Februari & Maret nanti.

Kasus infeksi virus corona di seluruh dunia menembus 100 juta orang pada Selasa (26/1/2021). Jumlah kasus ini diambil dari sumber resmi otoritas kesehatan negara-negara sehingga hanya mewakili infeksi sebenarnya. Sebanyak 100.800.000 orang lebih terinfeksi Covid-19, sementara kasus kematian melewati angka 2,1 juta jiwa.  

Fokus utama Arab Saudi sebagai salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia adalah menjaga agar harga komoditas emas hitam ini tidak anjlok mengingat ekonomi Arab Saudi masih ditopang oleh sektor energi migas.

Kedua adalah penurunan stok minyak mentah di AS. Pekan lalu per 22 Januari 2-21 stok minyak mentah AS drop 9,9 juta barel (bph) Ini merupakan penurunan stok yang paling tinggi sejak Maret 2020.

Kombinasi produksi yang masih ditahan dan stok yang rendah membuat harga minyak masih relatif kokoh di rentang harga tertingginya US$ 55-56 per barel untuk kontrak West Texas Intermediate (WTI) US$ 51-53 per barel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading