Lewati Lembah & Badai ARB, Saham Farmasi Bangkit Coy!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 January 2021 10:15
Antrean calon penumpang pesawat yang melakukan test rapid  di Shelter Kalayang Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (21/12/2020). Antren panjang ini terjadi karena banyak penumpang yang ingin melakukan rapid test antigen yang disediakan pihak bandara. Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta sempat ramai tadi pagi. Antrean mengular karena antrean rapid test penumpang. Pantauan CNBC pukul 11.30 terlihat antrian namun sudah kondusif. Sejumlah calon penumpang yang menunggu di luar area ruang test bisa duduk. Jelang liburan Natal dan akhir tahun, pemerintah menerapkan syarat minimal berupa hasil tes rapid antigen bagi traveler yang mau bepergian naik kereta api, pesawat terbang hingga kendaraan pribadi. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten farmasi kompak menguat pada perdagangan Kamis ini (21/1/2021) setelah dalam 6 hari perdagangan terakhir beberapa di antaranya menyentuh auto reject bawah (ARB), alias penurunan maksimal 7% dalam sehari.

Pada pukul 10.03 WIB, Kamis ini, data BEI mencatat terjadi pembalikan arah saham-saham farmasi dan pendukungnya.

Begini pergerakan saham farmasi dan pendukungnya di sesi I, Kamis pagi.


  1. Kimia Farma (KAEF) +1,66% Rp 4.890, sepekan -19,17%
  2. Indofarna (INAF) +0,86% Rp 4.700, sepekan -22%
  3. Phapros (PEHA) +1,15% Rp 1.760, sepekan -23%
  4. Pyridam Farma (PYFA) +0,50% Rp 1.050, sepekan -22%
  5. Kalbe Farma (KLBF) +0,63% Rp 1.600, sepekan +0,31%
  6. Itama Ranoraya (IRRA), +4,44% Rp 2.810, sepekan -12%

Beberapa saham farmasi dan jasa pendukungnya ini pun mulai mendapat asupan aksi beli bersih asing. Misalnya, IRRA, dibeli asing pagi ini Rp 659 juta. Saham KAEF juga dibeli asing Rp 424 juta, begitu pun INAF hampir Rp 1 miliar beli bersih.

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya menjelaskan, tumbangnya beberapa saham farmasi disebabkan karena euforia saham ini sudah berlangsung sejak awal tahun, sehingga suatu saat akan terkoreksi.

Sementara itu, menurut Hariyanto, saham KLBF yang cenderung lebih oke dari sejumlah saham farmasi juga relatif diuntungkan jika ingin berinvestasi jangka panjang. Hal ini karena secara fundamental bisnis KLBF relatif cukup baik. Sedangkan, untuk INAF dan KAEF, menurutnya, sejauh ini belum ada analis fundamental yang mengeluarkan riset tersebut.

"Kalbe aman dikoleksi jangka panjang, Kalbe diakui banyak analis fundamental. Untuk Kimia Farma, Indofarma, setahu saya tidak ada analis fundamental yang mengeluarkan research report atas KAEF atau INAF," ujarnya, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Lebih lanjut, dijelaskan Hariyanto, karena belum terlalu mendukung secara fundamental, maka fluktuasi harga saham KAEF dan INAF dapat terjadi. "Fluktuasi KAEF dan INAF sangat volatile, bagi kita jadi pengalaman kurang menyenangkan," katanya.

Khusus IRRA, sahamnya yang sempat ARB berkali-kali, hari ini bangkit setelah perusahaan menyampaikan kinerja terbaru.

IRRA berhasil menjual 1,7 juta unit Swab Antigen Test Covid-19 hanya dalam 3 pekan. Pada kuartal I-2021, perseroan menargetkan bisa menjual 2,5 - 3 Juta unit Swab Antigen Test.

Direktur Pemasaran IRRA Hendry Herman menuturkan permintaan pada awal tahun ini seluruhnya berasal dari swasta khususnya ritel.

Harga produk yang terjangkau, penggunaan yang mudah dan satu dari dua produk Antigent Test yang mendapat rekomendasi WHO menjadi alasan produk Swab Antigen Test IRRA banyak digunakan dalam pemeriksaan test Covid.

Produk Swab Antigen Test Panbio yang di produksi Abbot ini baru saja mendapat hasil evaluasi dari Badan Penelitian dan Pengembanhan (Balitbang) Kementeian Kesehatan sebagai alat rapid antigen dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitasnya mencapai 100%.

Pada tahun ini, untuk penjualan Swab Antigen Test, Perseroan menargetkan mampu menjual sebanyak 5 - 10 juta unit. Naik 100% - 300% dari realisasi volume penjualan tahun 2020 yang hanya sebesar 2,4 juta.

Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan dan laba bersih mampu tumbuh 80% - 100% dibandingkan tahun lalu. Pada tahun lalu, pendapatan perseroan berkisar Rp 540-Rp 550 miliar, sementara untuk perolehan laba bersih di kisaran Rp 56 - Rp 60 Miliar atau EPS (earnings per share, laba per saham) Rp 38 - Rp 40.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading