Jangan Kaget Saham Farmasi ARB 4 Hari, Apa Mesti Serok Bawah?

Market - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
19 January 2021 06:47
Petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 Sinovac ke tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama, Jumat (15/1/2021). Vaksinasi kepada para tenaga kesehatan tersebut sebagai upaya penanggulangan pandami Covid-19. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Awan hitam masih menyelimuti saham-saham farmasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Harga saham emiten sektor farmasi kompak terkoreksi tajam hingga batas bawah, auto reject bawah (ARB) sebesar 7% dalam sehari, setelah sebelumnya saham-saham sektor ini melejit akibat sentimen positif vaksinasi Covid-19.

Data BEI mencatat, pada perdagangan Senin kemarin (18/1/2021), koreksi saham-saham farmasi terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,26% di level 6.389,83 dengan 195 saham naik, 304 saham turun, dan 149 saham stagnan.

Nilai transaksi juga tinggi mencapai Rp 23,77 triliun dengan catatan jual bersih (net sell) asing Rp 222,35 miliar di pasar reguler.


Meski melorot hingga ARB, beberapa bulan lalu, saham farmasi sebetulnya sempat mencetak auto reject atas (ARA) berkali-kali, salah satunya terjadi pada 25 September tahun lalu, dengan kenaikan di atas 25% dalam sehari.

Haryajid Ramelan, pengamat pasar modal, menilai ada sebagian investor yang merealisasikan keuntungan di tengah reli saham-saham farmasi sebelumnya.

"Kalau bicara sektor farmasi, coba kita lihat [misalnya saham] Kimia Farma naik. Memang ada kondisi tertentu, orang lama bicara soal perumusan Covid yang belum ketemu, harga saham pun turun," katanya dalam program InvestIme, CNBC Indonesia, Senin malam (18/1/2021).

"Tapi ketika sudah dirumuskan adanya vaksin, ketemu, seluruh orang bakal hidup sehat. Ketika sekarang sudah mulai suntik [vaksinasi], [investor mulai] merealisasikan keuntungan," jelas Ketua Dewan Pelaksana Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSPPM) ini.

"Kenyataan vaksin sudah datang, maka orang sudah disuntik. Akhirnya, [sebagian investor mengambil keputusan] ya sudah kita jual dulu kita untung," katanya.

Haryajid belum memberikan rekomendasinya, apakah perlu membeli di harga bawah atau tidak. Tapi dia menekankan kondisi investor saat ini tak semua ingin melepas saham emiten farmasi, lantaran ada satu keyakinan bahwa penurunan harga saham farmasi ini hanya sementara, dan akan berlanjut lagi seiring dengan prospek bisnisnya.

"Tapi belum tentu semua orang akan jual [saat harga tinggi], karena ada sebagian orang yang masih yakin bahwa ini ada kenaikan berlanjut.,  nah mungkin penurunan [harga saham] sesaat."

Berikut lg.php.gifHarga Saham Emiten Farmasi, Senin (18/1)

1. Phapros (PEHA), saham -6,81% Rp 1.985, transaksi Rp 404,98 juta, asing masuk Rp 6,95 juta

2. Itama Ranoraya (IRRA), saham -6,69% Rp 2.790, transaksi Rp 3,60 miliar, asing masuk Rp 140 juta

3. Pyridam Farma (PYFA), saham -6,67% Rp 1.120, transaksi Rp 1,57 miliar, tak ada beli asing

4. Indofarma (INAF), saham -6,64% di Rp 5.275, transaksi Rp 5,10 miliar, tak ada beli asing

5. Kimia Farma (KAEF), saham -6,64% Rp 5.275, transaksi Rp 40,11 miliar, asing masuk Rp 7,61 miliar

6. Kalbe Farma (KLBF), saham +0,91% Rp 1.660, transaksi Rp 360,61 miliar, asing masuk Rp 81 miliar.

Dari enam saham farmasi dan pendukungnya, hanya Kalbe Farma yang mampu menguat pada perdagangan kemarin.

Tekanan jual investor domestik cukup tinggi. Misalnya saham KAEF yang dilepas investor domestik, sementara asing malah masuk Rp 7,61 miliar.

Saham IRRA juga dilepas investor lokal, mengingat asing justru akumulasi saham produsen jarum suntik dan distributor alat kesehatan ini, dengan beli bersih asing Rp 140 juta.

Kejadian ARB ini kembali terjadi setelah pada perdagangan Jumat (15/1), dan bahkan sejak Rabu (13/1) mayoritas saham farmasi memang sudah anjlok ke level terendah yang diijinkan regulator alias ARB ini.

Dengan demikian, dalam 4 hari terakhir, terjadi koreksi saham-saham farmasi ke level terendahnya.

Saham farmasi anjlok meskipun sebelumnya muncul sentimen positif di mana BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) memberikan lampu hijau penggunaan darurat vaksin Covid-19 buatan Sinovac.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menjadi orang pertama yang disuntik Rabu silam, bersama dengan jajarannya di Istana Negara. Semua berjalan dengan baik, tapi tak begitu dengan saham-saham farmasi yang terus anjlok sejak hari itu.

Beberapa bulan lalu, saham farmasi juga berkali-kali ARA. Misalnya, pada 25 September 2020, harga saham INAF melesat menyentuh level ARA 24,89% ke level harga Rp 2.910/saham sedangkan KAEF terbang 24,68% ke level harga Rp 2.880/saham.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading