Ada PSBB hingga PPKM, Begini Strategi Bisnis Kartu Kredit BNI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 January 2021 15:15
FILE PHOTO: A woman holds Indonesian rupiah banknotes at a Bank Negara Indonesia (BNI) mobile bank in Jakarta July 15, 2013.   REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan BUMN, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) semakin gencar untuk meningkatkan transaksi nasabah menggunakan kartu kredit di tengah pandemi Covid-19.

Salah satu penawaran yang diberikan oleh perusahaan adalah dengan memberikan installment 0%.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies mengatakan transaksi menggunakan kartu kredit di BNI saat ini cukup terdampak lantaran banyaknya pembatasan yang membuat nilai transaksi juga rendah.


"Jadi kalau dilihat memang transaksi kartu kredit ini dengan adanya pembatasan traveling domestik maupun internasional, pembatasan jam operasional mall, hingga pembatasan jumlah pengunjung dine in di resto ini semua transaksi memang terjadi pembatasan," kata Corina dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Kamis (14/1/2020).

Untuk mendorong peningkatan transaksi ini, jelas dia, BNI telah menargetkan sejumlah sektor-sektor ekonomi yang memiliki prospek seperti transaksi e-commerce, gadget, kesehatan dan travel related.

"Selain itu nasabah di luar Jakarta transaksi kartu kredit akan difokuskan di merchant lokal strategis dan favorit. Bentuk program yang diberikan sebagai benefit customer akan dibuat lebih menarik termasuk program penawaran installment 0%," terangnya.

Digitalisasi

Lebih lanjut, Corina menjelaskan, perseroan juga saat ini berfokus untuk meningkatkan kemampuan channel digital yang dimilikinya sehingga dapat memberikan layanan kepada nasabah dengan melalui satu platform yang lengkap.

Pengembangan digital tak hanya dilakukan di internal bank, namun juga untuk memfasilitasi partner pihak ketiganya dengan menggunakan layanan Application Programming Interface (API).

"Untuk mendukung perkembangan digitalisasi perbankan, BNI merancang berbagai inisiatif strategi antara lain melakukan percepatan pengembangan terintegrasi yang menurut kami jadi fokus saat ini bagaimana memiliki omni channel," kata Corina.

Dia menjelaskan, dengan adanya omni channel ini nantinya akan membuat nasabah bisa melakukan berbagai transaksi mulai dari digital management hingga layanan kartu kredit secara digital.

Selain itu, pengembangan mobile banking juga menjadi prioritas perusahaan dan akan dikembangkan menjadi super apps yang bisa menghadirkan layanan keuangan digital.

"Kami juga melakukan ekspansi layanan perbankan melalui strategi partnership ke pihak ke 3, other feature channel dan mengadopsi API services. Jadi itu yang menjadi perkembangan digitalisasi perbankan yang sudah kami rancang dengan beberapa inisiatif ini, terangnya.

Secara garis besar, rencana pengembangan digital BNI terbagi dalam empat inisiatif, antara lain:

1. Design dan mengembangkan solusi digital tertegas melalui channel bni dan pihak ketiga jadi ini lebih kepada API services

2. Peningkatan UI/UX untuk menciptakan pengelaman nasabah yang lebih baik dan MPS jadi positif

3. Meningkatkan strategic partnership dengan mitra BNI untuk memperluas jangkauan dan layanan serta pemasaran produk BNI ke channel pihak 3

4. Meningkatkan digital mindset dan kapabilitas pegawai untuk optimalisasi proses bisnis digital

Per September 2020, BNI mencetak laba bersih mencapai Rp 4,32 triliun, atau turun 63,9% dari periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 11,97 triliun.

Penurunan laba bersih ini seiring dengan efek dari upaya BNI memperkuat fundamental dalam menghadapi ekonomi di masa mendatang dengan pencadangan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) Q3-20020 berada pada 206,9%, lebih besar dari Q3 2019 sebesar 159,2%.

Hingga akhir September, aset BNI tumbuh 12,5% yoy, mencapai Rp 916,95 triliun.

Sementara itu, DPK (dana pihak ketiga) tumbuh 21,4% dari Rp 580,98 triliun menjadi Rp 705,09 triliun pada September 2020. Sementara itu dana murah atau current account and saving account (CASA), jadi prioritas utama yang dimaksudkan untuk dapat terus menekan cost of fund, pada level 65,4%.

Saat ini CASA BNI berada pada level 65,4% dengan cost of fund 2,86%, atau membaik 30 bps (basis poin) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 3,24%.

DPK tersebut dapat menopang kredit tumbuh 4,2% yoy dari Rp 558,7 triliun menjadi Rp 582,4 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading