Analisis

'Berkah' Pandemi, Saham IRRA Meroket Sepanjang Sejarah!

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
11 January 2021 08:37
Itama Ranoraya Tetapkan Harga Pelaksanaan IPO Rp 374 Persaham (CNBC Indonesia TV)

Peningkatan penjualan yang fantastis dan berbagai proyek pengadaan yang diperoleh dari pemerintah menjadi salah satu alasan pertumbuhan penjualan sekaligus harga sahamnya.

Tercatat pada tanggal 27 November 2020 perseroan telah melakukan penandatanganan kontrak SPA (Sales and Purchase Agreement) sebanyak 111 juta pieces jarum suntik ADS. Ini merupakan kontrak kedua dari pemerintah.

Sebelumnya di kuartal III perseroan mendapatkan order dari pemerintah (Kementrian Kesehatan) sebanyak 35 juta pieces berupa Auto Disable Syringe (ADS) 0,5 ml dan 0,05 ml untuk program vaksin imunisasi.


Pada Oktober tahun lalu, PT Oneject Indonesia (Oneject) yang merupakan sister company perseroan, mulai membangun pabrik kedua untuk menambah kapasitas produksinya dengan membangun pabrik baru di Cikarang Bekasi dengan kapasitas 900 juta, sehingga total kapasitas menjadi 1,2 miliar jarum suntik sekali pakai (ADS) dan safety needle per tahun.

Pada semester I 2021 produksi Oneject dapat mencapai 600 juta piece jarum suntik/tahun dan pada akhir semester II produksi dapat mencapai 1,2 miliar/tahun. Target tersebut jauh lebih cepat dibandingkan rencana semula dimana kapasitas 1,2 miliar/tahun baru akan di capai di tahun 2024.

Produk alat suntik ADS perseroan merupakan produk alat suntik yang sudah berstandar WHO dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) diatas 60%. Produksinya sendiri dilakukan oleh PT Oneject Indonesia (Oneject) yang merupakan sister company perseroan.

Selain jarum suntik IRRA juga mendapatkan kontrak untuk pengadaan kit diagnostik berupa produk Covid-19 swab antigen dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Order tersebut terdiri dari dua tahap, di mana tahap I sebanyak 200.000 unitdan tahap II sebanyak 400.000 unit sehingga totalnya sebanyak 600.000 unit produk Covid Swab Antigen Test.

Penjualan alat swab Covid-19 antigen IRRA tahun 2020 mencapai 2,4 juta unit. Sebanyak 2,1 juta unit disumbang dari penjualan bulan Desember.

Tingginya permintaan terhadap Swab Antigen Test di bulan Desember dipicu oleh aturan pr otokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Satgas Penanganan Covid - 19 untuk warga Negara yang melakukan perjalanan selama liburan hari raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) wajib melakukan rapid test antigen.

Dengan pertumbuhan yang sangat pesat tersebut, IRRA memproyeksikan baik pendapatan maupun labanya dapat tumbuh 20%. Namun setelah dikalkulasi lebih lanjut laba bersih bisa tumbuh sampai 30%.

"Kami optimis laba bersih IRRA bisa tumbuh diatas 30%, jauh diatas besaran target yangditetapkan yaitu 20%. Selain dari kontribusi peningkatan pendapatan bisnis utama, kita mendapatkan tambahan margin laba bersih dari insentif pajak berupa penurunan tarif pajak dari 25% menjadi 22%, insentif untuk perusahaan alat kesehatan," ungkap Direktur IRRA Pratoto Raharjo, dilansir rilis resmi perusahaan.

Melantai sejak 30 September 2019 di harga hanya Rp 374/unit dan mengumpulkan dana sebanyak Rp 149,6 miliar, emiten jarum suntik ini dikendalikan oleh PT Global Dinamika Kencana yang merangkul 69,75% saham IRRA per November 2020.

Selanjutnya tercatat PT Neumedik Jaya juga memegang saham sebanyak 5,25%, investor publik memegang sebanyak 17,90%, sisanya 7,10% masuk kategori saham treasury karena dibeli kembali oleh perseroan (buyback).

Investor ritel tercatat semakin tertarik berinvestasi di saham IRRA. Hal ini ditunjukkan dari jumlah pemegang saham IRRA yang terus melesat dari posisi 31 Agustus 2020 lalu di angka 999 investor hingga posisi 30 November 2020 di angka 4.485 investor.

Meskipun sentimen positif berdatangan ke untuk emiten ini, bukan berarti emiten ini tanpa 'onak duri'.

Sebelumnya IRRA sempat melaporkan laba bersih sebesar Rp 35,47 miliar di September 2020, melesat 475% dari periode September 2019 sebesar Rp 6,17 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2020, perolehan laba seiring dengan kinerja pos pendapatan yang naik 9,39% menjadi Rp 141,06 miliar dari sebelumnya Rp 128,95 miliar.

Meski demikian, kalangan pelaku pasar justru sempat meragukannya. Bahkan di beberapa grup analis, beredar analisis yang meragukan kenaikan laba fantastis ini.

Hal ini karena IRRA melaporkan keuntungan karena kenaikan nilai saham treasuri (hasil buyback) dengan modal beli Rp 59,9 miliar tanggal 30 September 2020 yang nilainya naik menjadi Rp 86,4 miliar, kemudian diakui sebagai untung dan dicatat pada laporan laba rugi sebesar Rp 26,4 miliar.

Padahal menurut PSAK 50, hal tersebut bertentangan dan tak boleh dicatatkan sebagai laba sebagaimana aturan di paragraf 33 PSAK 50.

"Jika entitas memperoleh Kembali instrument ekuitasnya, maka instrument tersebut (saham treasuri) dikurangkan dari ekuitas. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari pembelian, penjualan, penerbitan, atau pembatalan instrument ekuitas tersebut tidak diakui dalam rugi," bunyi PSAK tersebut.

Setelah merebaknya kabar tersebut, IRRA melakukan koreksi terhadap laporan keuanganya. Tercatat melalui laporan keuangan setelah koreksi laba bersih IRRA hanya berada di kisaran Rp 9,03 miliar dengan total penjualan tetap di angka Rp 141 miliar.

Di angka ini margin keuntungan bersih perusahaan hanya berada di kisaran pertumbuhan 8%.

Aset IRRA Rp 245,59 miliar di mana sebagian besar diantaranya yakni Rp 174,60 merupakan ekuitas dan hanya Rp 69,70 miliar merupakan liabilitas yang mencerminkan rasio ekuitas dibandingkan dengan hutang (DER, debt to equity ratio) yang cukup sehat di angka 39,92%.

Meskipun demikian di harga saat ini yakni Rp 2.960/unit saham IRRA tergolong premium alias mahal secara valuasi. Apabila menggunakan valuasi harga saham dibandingkan dengan nilai bukunya (PBV, price to book value) maka IRRA tergolong sangat mahal dengan PBV berada di kisaran 27,13 kali.

Sedangkan apabila menggunakan valuasi laba bersih dibandingkan dengan harga sahamnya (PER, price to earnings ratio), saham IRRA juga tergolong sangat tidak menarik secara valuasi karena memiliki PER di angka 393,41 kali.

Meskipun demikian angka PER bisa sedikit membaik ketika perseroan melaporkan laporan keuangan tahunanya karena kontrak yang didapatkan IRRA umumnya muncul pada kuartal ketiga dan kuartal keempat setiap tahunya dan meskipun nantinya angka PER akan membaik meskipun nantinya valuasi IRRA masih akan tergolong premium.

NEXT: Analisis Teknikal

Analisis Teknikal IRRA
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading