Dikabarkan Mau IPO, Tokopedia Malah Mau Merger dengan Gojek

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
05 January 2021 09:14
Sekretariat Presiden (Setpres) saat membagikan paket nasi box bagi para pengendara seperti gojek dan grab yang melewati Jl. Veteran, Jakarta Pusat. (Biro Setpres RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan rintisan raksasa ride-hailing dan pembayaran Indonesia Gojek sedang dalam diskusi lanjutan soal merger dengan pionir e-commerce di Indonesia yakni PT Tokopedia, menjelang penawaran umum perdana (initial public offering) yang direncanakan dari entitas gabungan ini.

Hal ini diungkapkan beberapa sumber yang diberitakan Bloomberg, Selasa ini (5/1/2021).

Dua perusahaan rintisan paling berharga di Indonesia ini telah menandatangani lembar persyaratan terperinci untuk melakukan uji tuntas atas bisnis masing-masing, kata orang-orang, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena diskusi bersifat pribadi.


"Kedua belah pihak melihat potensi sinergi bisnis dan ingin menutup kesepakatan secepat mungkin dalam beberapa bulan ke depan," kata mereka.

Entitas yang digabungkan akan menciptakan perusahaan berbasis internet Indonesia dengan nilai gabungan mencapai lebih dari US$ 18 miliar atau setara dengan Rp 252 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Bisnisnya berkisar dari pemesanan kendaraan dan pembayaran hingga belanja dan pengiriman online, ini semacam gabungan versi Indonesia dari Uber Technologies Inc., PayPal Holdings Inc., Amazon.com Inc., dan DoorDash Inc. Perusahaan gabungan itu juga berencana untuk go public di AS dan Indonesia (dual listing).

Gojek dan Tokopedia telah mempertimbangkan potensi merger sejak 2018, tetapi diskusi dipercepat setelah pembicaraan kesepakatan antara Gojek dan saingan berat Grab Holdings Inc. menemui jalan buntu, kata sumber tersebut.

Chief Executive Officer Grab Anthony Tan terus menolak tekanan dari SoftBank Group Corp. Masayoshi Son untuk menyerahkan sebagian kendali dalam entitas gabungan dengan Gojek, kata para sumber Bloomberg.

Dua perusahaan rintisan paling berharga di Asia Tenggara ini, Gojek dan Grab, bersama-sama bernilai sekitar US$ 25 miliar, mengadakan pembicaraan on-and-off untuk menggabungkan bisnis setelah bertahun-tahun bersaing sengit dalam layanan transportasi online, pengiriman makanan, dan teknologi keuangan.

Baru-baru ini pada Desember, perusahaan dikatakan telah membuat kemajuan substansial dalam mengerjakan kesepakatan untuk digabungkan, kata para sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut. Namun baik Gojek dan Grab berselisih tentang bagaimana mengelola bisnis di Indonesia, pasar utama di kawasan Asia Tenggara.

Para sumber mengatakan, Son, yang pernah menjadi pendukung setia Tan di masa lalu, kehilangan kesabaran dengan keengganan salah satu pendiri Grab untuk menyerahkan kendali dan sekarang mendukung merger antara Gojek dan Tokopedia yang didukung SoftBank, kata orang-orang tersebut.

Kedua pionir teknologi dalam negeri ini memiliki investor yang sama, termasuk Google, Temasek Holdings Pte, dan Sequoia Capital India.

Hingga saat ini CEO dan co-founder Tokopedia William Tanuwijaya belum memberikan informasi terkait dengan kabar merger ini.

Kedua perusahaan rintisan tersebut masing-masing bernilai sekitar US$ 10,5 miliar dan sekitar US$ 7,5 miliar, menurut orang-orang yang mengetahui akun mereka, dan rasio merger saat ini sedang dibahas.

Pendiri kedua perusahaan telah berteman sejak didirikan lebih dari 10 tahun yang lalu dan mengantisipasi aliansi yang bersahabat. Diskusi Grab dan Gojek lebih kontroversial dan tidak berkembang cukup bagi mereka untuk menandatangani lembar persyaratan, kata orang-orang tersebut.

Tokopedia sudah resmi menunjuk dua perusahaan jasa investasi dan penjamin emisi global yakni Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat dalam upaya mempercepat proses perseroan menjadi perusahaan publik alias go public.

Sebelumnya Bridgetown Holdings Ltd, special purpose acquisition company (SPAC) yang sahamnya tercatat di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat (AS), juga dikabarkan tengah mempertimbangkan merger dengan Tokopedia.

Dalam pernyataan resminya, Tokopedia menegaskan tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencananya menjadi perusahaan publik. Hanya saja perseroan belum memutuskan pasar atau bursa efek mana dan metode secara spesifik seperti apa, apakah termasuk melalui penawaran umum saham perdana IPO) atau tidak.

"SPAC juga merupakan salah satu opsi potensial yang bisa kami pertimbangkan, namun belum ada yang kami putuskan untuk saat ini," jelas manajemen Tokopedia, dikutip Bloomberg, dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12).

Bagi Tokopedia, penjualan ke SPAC akan menjadi cara yang lebih cepat untuk tercatat di Bursa AS. Namun, William sebelumnya mengatakan akan mencari opsi untuk pencatatan ganda alias dual listing agar karyawan dan konsumen di Indonesia dapat memiliki saham perusahaan.

Sebagai informasi, Bridgetown Holdings yang merupakan SPAC atau populer disebut 'perusahaan cek kosong' (blank check company) ini didukung oleh investor kawakan Silicon Valley, Peter Thiel dan taipan asal Hong Kong, Richard Li.

Masih sumber, perusahaan lain milik taipan Hong Kong Richard Li, yakni Pacific Century Group, juga sudah menjadi investor minoritas di Tokopedia.

Bridgetown mengumpulkan dana sebesar US$ $ 550 juta dalam penawaran umum perdana (IPO) di AS pada bulan Oktober.

Tokopedia menjadi startup paling berharga kedua di Indonesia,tepat di belakang raksasa ride-hailing dan delivery Gojek, dengan mendapatkan dukungan awal dari SoftBank dan Alibaba Group Holding Ltd, Google dan Temasek Holdings Pte.

Sebelumnya Temasek dan Google memang menjadi salah satu pemegang saham baru Tokopedia. Hal ini diumumkan langsung oleh CEO Tokopedia William Tanuwijaya.

"Kami sangat senang menyambut Temasek dan Google sebagai pemegang saham Tokopedia. Kami merasa terhormat atas kepercayaan dan dukungan mereka kepada Tokopedia dan Indonesia," tulisnya melalui akun Instagram pribadinya seperti dikutip Senin (16/11/2020).

Dalam forum Capital Market Summit & Expo 2020, 21 Oktober silam, William juga membuka rencana untuk mencatatkan sahamnya di bursa saham, namun belum dipastikan di bursa saham negara mana yang akan disasar.

"Nanti pun kalau melantai di bursa saham, valuasi itu kan merepresentasi dari kepercayaan publik, seperti itu," kata William, Rabu (21/10/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading