Hati-hati! IHSG Kemungkinan Melemah Hari Ini

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
05 January 2021 06:09
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan pertama di tahun 2021, Senin (4/1/2021) kemarin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup meroket 2,10% di level 6.104,89 kemarin. Jika dibandingkan dengan indeks Asia lainnya, penguatan IHSG berada di posisi kedua, sedangkan posisi pertama diduduki oleh KOSPI Korea Selatan.


Hanya indeks Nikkei Jepang dan indeks FTSE Malaysia yang melemah pada perdagangan kemarin.

Sejalan dengan pasar saham, pasar obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) juga ditutup cerah kemarin. Walapun imbal hasil (yield) di berbagai tenor hampir seluruhnya mengalami penurunan, namun untuk yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara malah naik 0,7 basis poin ke level 5,949%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Seperti IHSG dan SBN, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menguat pada perdagangan kemarin, yakni sebesar 1,1% ke level Rp 13.885/US$.

Hari ini, nyaris seluruh mata uang utama Asia menguat di hadapan dolar AS. Hanya dolar Taiwan yang masih nyangkut di zona merah.

Namun tidak ada mata uang negara tetangga yang bisa terapresiasi lebih dari 1%. Oleh karena itu, rupiah secara sah dan meyakinkan menjadi mata uang terbaik di Asia pada perdagangan kemarin.

Rupanya, kompaknya pasar keuangan Indonesia dengan bersama-sama menguat disebabkan dari rilis data ekonomi yang positif, yakni data Purchasing Manager' Index (PMI) manufaktur dan tingkat inflasi untuk periode Desember 2020.

Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur versi markit untuk periode Desember 2020 cukup memuaskan. PMI manufaktur RI mengalami ekspansi sebesar 0,7 poin menjadi 51,3 dari sebelumnya di angka 50,6.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau di atas 50, maka artinya dunia usaha berada di fase ekspansi yang hasilnya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Artinya, manufaktur RI Kembali menggeliat setelah sebelumnya merana akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Selanjutnya BPS melaporkan inflasi Desember sebesar 0,45% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM).

Sementara inflasi tahun kalender yang otomatis menjadi inflasi tahunan (year-on-year/YoY) tercatat 1,68%. Hal ini menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat setelah sebelumnya sempat deflasi selama 3 bulan berturut-turut.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi Desember 2020 akan sebesar 0,405% MtM dan 1,68% YoY. Sementara konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi bulan lalu sebesar 0,37% MtM dan 1,61% YoY.

Kasus Covid-19 Semakin Menghawatirkan, Wall Street Ambles Parah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading