Semua Mata Tertuju ke BI, Bagaimana Pasar Hari Ini?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
18 February 2021 06:12
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kali ini bergerak serentak pada perdagangan Rabu (17/2/2021), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah dan SBN sama-sama bergerak melemah.

IHSG ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (17/2/21). Bahkan, indeks acuan bursa nasional tersebut ambles 1,03% ke 6.227,73.

Padahal pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG sempat menyentuh level psikologisnya di 6.300, namun keberuntungan IHSG hari ini pun hanya sebentar saja.


Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini sebesar Rp 13,1 triliun, tergolong kecil apabila dibandingkan dengan rata-rata transaksi bulan lalu yakni sekitar Rp 20 triliun. Terpantau investor asing menjual bersih Rp 38 miliar di pasar reguler.

Terpantau juga sebanyak 155 saham terapresiasi, 333 terdepresiasi, dan sisanya yakni 149 stagnan.

Investor asing melakukan pembelian di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 108 miliar dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) Rp 30 miliar.

Sedangkan jual bersih dilakukan asing di saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dilego Rp 75 miliar dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang dijual Rp 84 miliar.

Pada perdagangan kemarin, mayoritas bursa saham Asia mengalami pelemahan, di mana indeks saham Filipina menjadi yang terparah dalam pelemahan bursa Asia kemarin.

Hanya dua indeks yang masih bertahan di zona hijau, yakni indeks Hang Seng Hong Kong yang ditutup melesat 1,1% dan indeks SE Weighted Taiwan yang meroket hingga 3,54%.

Berikut pergerakan bursa saham Asia pada perdagangan kemarin.

Sedangkan, Nilai tukar rupiah jeblok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/2/2021), hingga kembali ke atas Rp 14.000/US$. Terbukti mata uang Garuda belum bisa tahan lama di bawah level psikologis tersebut.

Sebelumnya, di awal tahun ini rupiah menembus Rp 14.000/US$, bahkan mencapai Rp 13.885/US$ pada 4 Januari lalu. Tetapi 5 hari perdagangan setelahnya kembali ke atas Rp 14.000/US$.

Rupiah berhasil menembus lagi level psikologis tersebut pada 21 Januari lalu, tetapi hanya berumur sehari saja.

Mata Uang Garuda kembali ke bawah Rp 14.000/US$ pada 8 Februari lalu, lagi-lagi bertahan hanya 5 hari perdagangan.Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia pada perdagangan kemarin.

Melansir data Refinitiv, begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,22% ke Rp 13.950/US$. Rupiah tidak sekalipun merasakan zona hijau, malah semakin jeblok hingga 0,72% ke Rp 14.020/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp 14.010/US$, melemah 0,65%.

Dengan pelemahan tersebut, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia hari ini. HW Pada penutupan perdagangan kemarin, mayoritas mata uang utama Asia juga melemah, tetapi tidak ada yang sebesar rupiah.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Sementara itu, harga obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) pada perdagangan kemarin kembali ditutup melemah, ditandai dengan imbal hasilnya (yield) yang kembali menguat.

Mayoritas SBN cenderung dilepas oleh investor, kecuali SBN seri FR0039 tenor 3 tahun dan SBN berkode FR0089 dengan jatuh tempo 30 tahun yang masih dikoleksi oleh investor pada hari ini.

Dari imbal hasilnya (yield), rata-rata mengalami kenaikan, kecuali yield SBN seri FR0039 yang turun 0,9 basis poin (bp) ke level 4,672% dan yield SBN berkode FR0089 yang juga turun 4,3 bp ke posisi 6,779%

Sementara itu, yield SBN dengan kode FR0087 bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali naik sebesar 8,8 bp ke level 6,372%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Investor global memantau pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang naik 9 basis poin pada Selasa (16/2/2021), sehingga melewati angka 1,3% yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2020. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga menyentuh level tertinggi dalam setahun.

Saham Teknologi Dilego Lagi, Wall Street Berakhir Mixed
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading