Siap-siap, RI Bakal Ketiban 'Prank' atau Kado Natal Trump?

Market - Putra, CNBC Indonesia
25 December 2020 12:45
President Donald Trump participates in a Veterans Day wreath laying ceremony at the Tomb of the Unknown Soldier at Arlington National Cemetery in Arlington, Va., Wednesday, Nov. 11, 2020. (AP Photo/Patrick Semansky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah berbulan-bulan perundingan stimulus fiskal jilid II di Amerika Serikat (AS) selalu berujung buntu, di pekan ini akhirnya ada titik terang.

Kongres AS yang terdiri dari House of Representative (DPR) dan Senat berhasil meloloskan rancangan undang-undang (RUU) stimulus fiskal senilai US$ 900 miliar dan di-bundle dengan anggaran belanja pemerintah untuk satu tahun hingga September 2021 senilai US$ 1,4 triliun.


Stimulus fiskal US$ 900 miliar tersebut menjadi yang terbesar kedua yang pernah digelontorkan dalam sejarah AS, setelah stimulus senilai US$ 2 triliun yang digelontorkan pada bulan Maret lalu, yang disebut CARES Act. Sebagai program dalam CARES Act tersebut sudah berakhir.

RUU tersebut sudah diserahkan ke Presiden AS Donald Trump untuk ditandatangani sehingga sah dan cair. Dalam kondisi normal, Presiden Trump punya waktu 10 hari (di luar hari Minggu) hari untuk menandatangani RUU tersebut sehingga menjadi undang-undang, atau memveto alias membatalkan RUU tersebut.

Seandainya dalam 10 hari Trump tidak menandatangani ataupun memveto RUU tersebut, maka otomatis akan menjadi undang-undang. Namun, hingga saat ini Trump belum menandatangani RUU tersebut.

Malah, pada Selasa malam waktu setempat Trump sedikit mengejutkan pasar, melalui akun Twitternya, ia menyebut stimulus senilai US$ 900 miliar sebagai "aib". Ia menggugat karena nilainya terlalu kecil.

Dalam stimulus jilid II, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diperoleh warga AS sebesar US$ 600/orang, setengah dari yang diterima sebelumnya yakni US$ 1.200/orang. Untuk pasangan yang menikah BLT yang diperoleh sebesar US$ 1.200, dan US$ 600 untuk tanggungan anak.

Sama dengan program CARES Act, BLT hanya diberikan sekali saja. Hal tersebut yang dipermasalahkan oleh Trump.

Ia juga meminta Kongres AS untuk menaikkan BLT senilai US$ 600 menjadi US$ 2.000 per orang. Termasuk US$ 4.000 untuk pasangan yang menikah.

Masih ada batas waktu perundingan penambahan stimulus dalam beberapa hari ke depan. Untuk diketahui, stimulus fiskal CARES Act akan habis pada 26 Desember mendatang dan anggaran untuk menjalankan pemerintahan akan habis pada 28 Desember mendatang.

Artinya, jika sampe tanggal 26 atau 28 Trump tidak menandatangani RUU tersebut, maka untuk sementara tidak akan ada stimulus fiskal untuk perekonomian AS. Lebih parah lagi pemerintahan AS akan berhenti beroperasi (shutdown).

Untuk diketahui, sejak September lalu, Kongres AS beberapa kali meloloskan RUU untuk anggaran belanja pemerintahan AS sementara agar tidak mengalami shutdown.

Sejauh ini, Partai Demokrat yang justru merupakan lawan politik Trump mendukung keinginan tersebut. Sementara Partai Republik pendukung pemerintah justru belum berkomentar.

Nancy Pelosi, Ketua DPR AS dari Partai Demokrat melalui akun Twiternya menyatakan siap mengikuti keinginan Presiden Trump tersebut. "Sejak dulu Partai Republik berulang kali menolak mengatakan berapa nilai BLT yang diinginkan Presiden. Pada akhirnya, Presiden setuju dengan US$ 2.000. Partai Demokrat siap untuk membuat RUU tersebut pekan ini dengan suara bulat. Ayo lakukan!" tulis Pelosi di Akun Twiternya.

Sejak dulu, Partai Demokrat memang getol menggelontorkan stimulus dengan nilai yang lebih besar, tapi ditolak oleh Partai Republik. Seandainya Partai Republik juga akhirnya sepakat, maka nilai stimulus fiskal tersebut akan meningkat drastis lebih dari US$ 1 triliun.

Mengingat Trump sudah menyuarakan keinginannya untuk meningkatkan stimulus fiskal dan Partai Demokrat sudah mengamini maka bisa jadi paket stimulus akan gol dengan jumlah yang lebih fantastis. Akan tetapi nyatanya Partai Republik saat ini belum bergeming sehingga banyak pihak berpendapat hal ini hanyalah akal-akalan agar negosiasi berjalan panjang dan alot.

Namun apabila memang Trump ingin meningkatkan paket stimulus dan bukan hanya sekedar manuver politik saja maka hal ini tentu saja akan menguntungkan pasar modal dalam negeri. Sebab jika benar stimulus akan ditingkatkan maka secara teoritis jumlah dolar beredar akan meningkat dan akan menekan nilai dari Greenback sehingga investasi dalam mata uang tersebut menjadi kurang menarik.

Salah satunya adalah investor-investor di Wall Street. Bisa saja, apabila stimulus ini gol, mencari pasar modal lain di kawasan emerging market untuk memindahkan dananya yang akan keluar dari bursa Paman Sam.

Salah satu negara emerging market yang menjadi primadona investor tidak lain dan tidak bukan tentunya Indonesia. Sehingga nantinya, pasar keuangan dalam negeri akan kebanjiran dana segar asing.

Well, mari kita berharap saja yang terbaik untuk pasar keuangan dalam negeri supaya mendapat hadiah Natal yang manis pada tahun ini, Amin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading