China-Australia Sengit, Harga Batu Bara Masih Aman di Puncak

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 December 2020 10:38
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures batu bara termal Newcastle masih belum mau beranjak dari rentang level tertingginya sejak Maret. Harga si batu legam ini terkoreksi tipis pada perdagangan kemarin (1/12/2020).

Harga kontrak futures batu bara Newcastle ditutup melemah 0,21% ke US$ 69,8/ton. Di sepanjang bulan November harga komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini telah melesat 18,06%.


Perbaikan fundamental dari sisi permintaan yang meningkat dari pasar utama seperti India yang dibarengi dengan pemangkasan produksi oleh negara penghasil membuat harga batu bara terdongkrak.

Di sisi lain harga batu bara domestik China juga belum mau turun. Pekan lalu harga batu bara acuan China Qinhuangdao 5.500 Kcal/Kg dipatok di RMB 620/ton atau setara dengan US$ 94,56/ton.

Harga batu bara domestik China ini bahkan lebih tinggi dari batas atas rentang harga informal yang dipatok oleh pemerintah China yang disebut dengan zona hijau. Meskipun ketatnya pasokan di China belum bisa diatasi, Negeri Panda lebih memilih untuk tidak mengimpor batu bara dari Australia. 

Reuters melaporkan, saat ini ada sekitar 6 juta metrik ton batu bara Australia yang terdampar di kapal yang tidak dapat mengirimkan kargo mereka ke pelabuhan China.

China dan Indonesia telah melaporkan kesepakatan untuk meningkatkan impor China atas batu bara Indonesia. Ini bukan kabar baik bagi industri batu bara Australia, yang mengharapkan pembalikan dari larangan impor batu bara Australia saat ini.

Walaupun batu bara termal Indonesia secara teoritis dapat menggantikan batu bara termal Australia, masih belum jelas bagaimana rencana Tiongkok untuk menggantikan batu bara metalurgi Australia secara ekonomis, karena Indonesia bukanlah produsen batu bara metalurgi yang signifikan.

Saat ini, China membayar dengan harga mahal (premium) untuk batu bara metalurgi AS, Kanada dan Rusia guna menghindari impor batu bara metalurgi Australia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading