Kunjungan Pulih, Tapi Kondisi Pizza Hut & KFC Masih Berat Nih

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
24 November 2020 10:58
KFC

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi industri makanan dan minuman (food and baverage/FNB) tanah air rupanya belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan meskipun kunjungan ke restoran mulai pulih. Kondisi berat masih dihadapi restoran-restoran cepat saji karena karena jumlah pengunjung turun, dampak dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran covid-19.

Situasi tersebut tergambar dari harga 3 saham pemilik restoran cepat saji yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan hari ini, harga PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) tercatat hijau naik 1,03% ke level harga Rp 985/unit. Namun dua saham lainnya, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) stagnan di harga Rp 705 dan PT Jaya Bersama Indonesia Tbk (DUCK) stagnan di harga Rp 304. 

Dari sisi kinerja, semuanya mengalami penurunan kinerja signifikan. Sarimelati Kencana pengelola restoran waralaba Pizza Hut Indonesia, mencatatkan rugi bersih Rp 8,63 miliar pada 9 bulan pertama tahun ini atau per September, dari periode yang sama tahun lalu yang masih mencatatkan laba bersih Rp 149,24 miliar.


Berdasarkan laporan keuangan publikasi kuartal III-2020, rugi bersih ini dialami seiring dengan tekanan penurunan penjualan dan naiknya beban keuangan perusahaan.

Data lapkeu mencatat, penjualan PZZA per September turun 9,31% menjadi Rp 2,67 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,94 triliun.

Sementara Fast Food Indonesia, yang merupakan pemilik waralaba Kentuky Fried Chicken (KFC), pada kuartal II mengalami kerugian hingga Rp 142 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, perseroan tercatat membukukan keuntungan Rp 157,52 miliar.

Pandemi covid-19 telah membuat pemerintah mengeluarkan keputusan menutup tempat-tempat umum, termasuk restoran cepat saji. Ini membuat pendapatan FAST anjlok 25,4% menjadi Rp 2,5 triliun dari Rp 3,37 triliun.

Nasib yang sama juga terjadi di pada pemilik restoran The Duck King, Jaya Bersama Indonesia. Laba perusahaan dengan kode saham DUCK ini ambles Rp 71,09% menjadi Rp 26,78 miliar dari Rp 92,64 miliar. Pendapatan perseroan tercatat ambles 62,08% menjadi Rp 152,80 miliar, dari sebelumnya Rp 402,91 miliar.

Ini memberikan gambaran kondisi sektor makanan dan minuman alias food and beverages memang sedang terpuruk.

Sementara itu, Mandiri Institute menyampaikan laporan live-monitoring aktivitas pada dua sektor yang paling terdampak, yaitu ritel dan restoran. Hasilnya, Mandiri Institute menemukan adanya perbaikan volume transaksi ritel dan restoran dari data transaksi yang didapat.

Riset yang dilakukan dari Juli hingga Oktober 2020 ini menggunakan metode 'live tracking', serta mengumpulkan data dari 7.217 lokasi toko dan 9.362 restoran di 8 kota besar. Sejumlah data menunjukkan adanya pemulihan meskipun tidak merata antar wilayah. Dengan kata lain masih belum pulih.

Menurut Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono, sebagian ritel memang masih belum sepenuhnya kembali seperti periode pra COVID-19. Pasalnya, konsumen cenderung menaikkan rata-rata nilai transaksi namun mengurangi frekuensi kunjungan ke tempat belanja.

"Berdasarkan analisa data Google Maps, kami menemukan bahwa angka kunjungan ke tempat belanja menurun tipis menjadi 52% di bulan Oktober, dari 57% di bulan September. Kenaikan kunjungan ke pusat belanja terjadi di Bogor, seiring dengan adanya pelonggaran PSBMK.

Sementara itu tingkat kunjungan ke restoran juga mengalami penurunan di bulan Oktober menjadi 47% dari 53% pada bulan sebelumnya. Data menunjukkan bahwa meski sudah kembali memasuki PSBB transisi, dampak dari PSBB II di DKI masih terasa," kata Teguh Yudo dikutip Selasa (24/11/2020).

Analisis spasial juga menunjukkan ketimpangan dalam pemulihan kunjungan ke restoran. Di wilayah Jadetabek, lanjut Teguh, pemulihan terjadi lebih cepat di daerah pemukiman penduduk seperti perbatasan Bekasi dan Tangerang.

Dia mencontohkan, kunjungan ke restoran di daerah sekitar Jakarta seperti Tangerang, Bekasi dan Depok, sudah di atas 50%. Di Bogor, baik di pusat kota maupun kawasan wisata, menunjukkan tren pemulihan yang lebih cepat. Di Surabaya, kunjungan berangsur pulih di daerah perumahan dan universitas. Sedangkan di Denpasar, masih belum menunjukkan pemulihan yang signifikan antara Juli dan Oktober 2020.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan, Mandiri Institute menyimpulkan bahwa ketimpangan tingkat kunjungan restoran akan berdampak pada ketimpangan dalam potensi bisnis UMKM yang bergerak ataupun terkait dengan di sektor restoran. Hal ini akan menjadi tantangan dalam mendorong pemulihan UMKM.

Tantangan lain di sektor restoran adalah, upaya meningkatkan kepatuhan penerapan protokol kesehatan yang ketat di restoran- terutama untuk dine-in. Tanpa adanya kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha, serta pengawasan dan penegakan aturan protokol kesehatan oleh pemerintah, minat masyarakat untuk dine-in di restoran masih akan rendah untuk ke depannya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading