Investor Rela Bayar Mahal Demi Saham Satu Ini, Apa Alasannya?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
24 November 2020 07:06
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat kencang dalam tiga pekan terakhir. Tercatat sejak 4 November lalu, IHSG berhasil reli dari 5.105,19 ke level penutupan kemarin (23/11/20) di level 5.652,76 atau kenaikan sebesar 10,72% atau 547 indeks poin.

Kenaikan ini sendiri mengerek total kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari sekitar Rp 5.950 triliun menjadi Rp 6.591 triliun.

Tentu saja penguatan IHSG tersebut ikut mengankat 10 saham dengan nilai kapitalisasi terbesar alias big cap. Jika dicermati lebih dalam, dari 10 saham big cap tersebut ada saham-saham yang berani dibayar investor dengan harga mahal karena kinerja yang bagus dan royal dalam membagikan dividen.


Sekalipun nilai ekuitas dan asetnya tak terlalu besar, tapi nilai kapitalisasinya bisa puluhan kali lipat dari nilai ekuitasnya. Mari simak tabel di bawah ini. 

Tercatat emiten pemilik aset terbesar di bura saham Indonesia dari sektor perbankan. Hal ini wajar karena model bisnis perbankan adalah menjadi perantara antara pemberi pinjaman, dalam hal ini adalah nasabah perbankan, kepada para penerima pinjaman.

Sehingga memang wajar apabila tercatat aset perbankan besar karena tentu saja komposisi terbesar aset tersebut adalah liabilitas dalam hal ini Dana Pihak Ketiga dari nasabah.

Sementara itu perusahaan Big Cap dengan aset terkecil jatuh kepada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang 'hanya' memiliki aset Rp 20 triliun. Selain aset yang tergolong kecil, ekuitasnya juga menjadi paling mini di antara 10 Big Cap lain yakni Rp 5 triliun.

Meskipun aset dan ekuitasnya mini ternyata UNVR berhasil menduduki posisi ke-empat kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia di angka Rp 294 triliun atau hampir 60 kali lipat lebih besar dari ekuitasnya.

Ini menunjukkan para investor siap membayar 'mahal' untuk membeli saham UNVR. Hal ini terjadi karena profitabilitas UNVR yang baik.

Bayangkan saja imbal hasil aset terhadap pendapatan bersih UNVR (ROA) mencapai angka 36,8% bahkan apabila menggunakan imbal hasil ekuitas (ROE) angka ini akan membengkak menjadi 115% jauh lebih tinggi daripada perusahaan Big Cap lain yang hanya memiliki ROE belasan persen.

Ini artinya setiap tahunya UNVR mampu membukukan laba bersih lebih banyak daripada ekuitasnya bahkan di tahun pandemi sekalipun. Tercatat apabila disetahunkan, nantinya UNVR akan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,75 triliun, lebih besar dari ekuitasnya yang 'hanya' Rp 5 triliun.

Profitabilitas UNVR yang besar tentunya tidak lepas dari produk utama yang dijual oleh UNVR yakni barang kebutuhan sehari-hari dimana barang-barang tersebut masih dicari oleh konsumen meskipun di tengah serangan Covid-19.

Barang-barang tersebut juga mempunyai margin keuntungan yang tinggi yang ditunjukkan oleh Gross Profit Margin (GPM) UNVR yang berada di angka 51,98%. Ini artinya biaya produksi produk unilever tidak sampai separuh harga jual pasarnya.

Kombinasikan hal ini dengan keberanian perusahaan untuk membagikan seluruh laba bersihnya sebagai dividen yang menunjukkan UNVR adalah perusahaan yang sudah sudah mapan (mature).

UNVR tidak perlu menyisihkan keuntungannya untuk membiayai ekspansi, sehingga memiliki kelonggaran untuk membaginya kepada para pemegang saham, tanpa mengancam operasi.

Hal ini ditunjukkan dengan rasio pembagian dividen (DPR) UNVR selama 5 tahun terakhir dimana perseroan selalu membagi dividen sekitar 99% dari laba bersihnya kecuali di tahun 2019 dimana perseroan hanya membagi 55% dari laba bersihnya akibat pandemi virus corona.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading