Pandemi, Laba Emiten Batu Bara Milik Luhut Melesat 52% di Q3

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
20 November 2020 17:20
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Instagram/Luhut.Pandjaitan) Foto: Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Instagram/Luhut.Pandjaitan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan energi terintegrasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang sebelumnya bernama PT Toba Bara Sejahtra, mencatatkan laba bersih mencapai US$ 29,51 juta atau setara dengan Rp 413,19 miliar (kurs Rp 14.000/US$), pada 9 bulan tahun ini atau per September 2020.

Laba bersih tersebut naik 52,42% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 19,36 juta atau sekitar Rp 271 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan perusahaan batu bara yang sahamnya juga dipegang oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan ini justru menurun di tengah pandemi Covid-19.


Meski laba naik, pendapatan TOBA justru turun 22% menjadi US$ 275,36 juta atau sekitar Rp 3,86 triliun dari periode September tahun lalu US$ 355,12 juta.

Perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi US$ 228,99 juta dari sebelumnya US$ 289,64 juta.

Beban umum dan administrasi juga ditekan menjadi US$ 16,39 juta dari US$ 19,07 juta.

Beban penjualan juga ditekan menjadi US$ 407.481 dari sebelumnya US$ 632.825.

Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar TOBA yakni dari penjualan batu bara untuk pihak ketiga luar negeri mencapai US$ 156,89 juta, kendati turun dari sebelumnya US$ 229,86 juta.

Selain itu, pendapatan terbesar lainnya juga dibukukan dari bisnis konstruksi sebesar US$ 112,94 juta dari sebelumnya US$ 116,93 juta.

Sebelumnya, pada September 2020, Toba Bara Sejahtra Tbk. resmi melakukan pergantian nama perusahaan menjadi TBS Energi Utama.

Direktur Utama Toba Bara Sejahtra Justarina Naiborhu dan Direktur Toba Bara Sejahtra Alvin F. Sunanda mengatakan tujuan penggantian nama ini dengan pertimbangan untuk lebih disesuaikan dengan perkembangan dan arah bisnis emiten menjadi perusahaan energi terintegrasi.

"Saat ini, TOBA tengah melakukan proses pengurusan nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan nomor induk berusaha (NIB) pada institusi terkait sehubungan dengan perubahan nama emiten," tulis keduanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut sebelumnya membeberkan kepemilikan sahamnya di TOBA yang dimiliki lewat PT Toba Sejahtra.

"Saya mempunyai saham di Toba Bara Sejahtra, tapi sekarang saya tinggal 10 persen di situ [Toba Bara Sejahtra], itu saja," kata Luhut di kantornya, Rabu (27/2), dikutip CNN Indonesia.

Per Desember 2019, secara detail, pemegang saham TOBA yakni Highland Strategic Holding Pte Ltd (HSH) sebesar 61,91%, Bintang Bara BV 10%, PT Toba Sejahtra 10%, PT Bara Makmur Abadi 6,25%, PT Sinergi Sukses Utama 5,10%, dan publik 6,74%.

Per September 2020, pemegang sahamnya yakni HSH 61,91%, Bintang Bara 10%, Toba Sejahtra 10%, Bara Makmur Abadi 6,25%, Sinergi 5,10% dan publik 6,74%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading