Buang Dolar AS! Saatnya Investasi di Krona Norwegia

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 November 2020 17:17
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Sinar dolar Amerika Serikat (AS) sebagai aset investasi sedang meredup di tahun ini, meski sempat berjaya pada bulan Maret lalu. Hal ini tercermin dari indeks dolar AS yang berada di dekat level terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Sepanjang tahun ini hingga Senin kemarin, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini merosot nyaris 4% ke 92,642, melansir data Refinitiv. Di bulan Maret lalu, indeks dolar AS sempat menyentuh level 102, tertinggi sejak Januari 2017.


Saat itu, virus corona mulai menyerang ke berbagai negara, kebijakan karantina (lockdown) marak dilakukan, yang memicu aksi jual di berbagai aset, mulai dari aset berisiko hingga aset safe haven seperti emas. Hingga muncul istilah "cash is the king", tapi bukan sembarang uang tunai, melainkan dolar AS, mengingat semua mata uang mulai dari negara maju hingga emerging market seperti rupiah ambrol.

Namun, kini sang raja sudah mulai lengser ke perabon, banyak yang memprediksi dolar AS akan terus merosot hingga tahun depan.

Kemenangan Joseph 'Joe' Biden dalam pemilihan presiden AS melawan petahana Donald Trump, memberikan membuat outlook dolar AS semakin gloomy. Pelaku pasar memperkirakan kemenangan Biden akan mengakhiri perang dagang AS-China, atau setidaknya tidak akan memburuk lagi.

Saat itu terjadi maka pelaku pasar akan semakin gencar masuk ke aset-aset berisiko, dan dolar AS yang merupakan aset safe haven menjadi semakin tak menarik.

Selain itu, stimulus fiskal yang akan digelontorkan Joe Biden kemungkinan lebih besar dari Trump. Semakin besar stimulus, maka jumlah uang yang beredar di perekonomian bertambah, secara teori dolar AS akan melemah.

Belum lagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang tidak akan menaikkan suku bunga hingga tahun 2023 mendatang, dan ada kemungkinan stimulus moneter melalui program pembelian aset (quantitative easing/QE) akan ditingkatkan nilainya. Dolar AS akan semakin tertekan.

Selain itu, vaksin virus corona yang menjadi kabar baik bagi umat manusia justru menjadi kabar buruk bagi dolar AS.

Perusahaan farmasi asal AS, Pfizer yang berkolaborasi dengan BioNTech asal Jerman, Senin (9/11/2020) pekan lalu mengumumkan vaksin buatanya efektif menangkal penyakit akibat virus corona (Covid-19) hingga lebih dari 90% tanpa efek samping yang berbahaya.

Senin kemarin perusahaan farmasi asal AS lainnya, Moderna, yang mengumumkan hal sama.

CEO Moderna, Stephane Bancel, kemarin mengatakan hasil sementara uji coba tahap III vaksin miliknya efektif mencegah Covid-19 hingga lebih dari 94%.

"Ini merupakan momentum perbaikan dalam perkembangan kandidat vaksin Covid-19 milik kami. Sejak awal Januari kami mengejar virus ini dengan intens untuk melindungi manusia di seluruh dunia sebisa mungkin. Analisis positif dari studi fase III memberikan validasi klinis awal bahwa vaksin bisa mencegah Covid-19," ujarnya.

Citigroup memprediksi di tahun 2021, ketika vaksin virus corona didistribusikan dan perekonomian global mulai bangkit, maka dolar AS akan ambrol 20%.

"Kami percaya distribusi vaksin akan memenuhi semua tanda-tanda periode penurunan (bear market), dolar AS akan mengikuti pola sama yang terjadi pada pertengahan 2.000an, ketika memulai tren melemah yang berlangsung selama bertahun-tahun," kata ahli strategi Citigroup dalam sebuah laporan yang dikutip Bloomberg.

Krona Norwegia Bakal Jadi Primadona
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading